Tampilkan postingan dengan label persona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persona. Tampilkan semua postingan

24/02/13

Tamagochi 4: Tsuyu Matsuri #2

Lagi-lagi diawalin sama bangun telat. Setelah ngebut siap-siap akhirnya sampai di sekolah sekitar jam 5.20. Sayangnya pintu gerbang belum dibuka dan masih lumayan banyak banci di jalan Bali ataupun di deket gerbang jalan Belitung yang bikin aku takut turun dari mobil. Setelah beberapa menit akhirnya berhasil turun dan ngebuka gerbang (yang untungnya) ga digembok. Udah gitu mulailah nempel-nempelin dekor yang bisa dilakuin sama personil yang terbatas.
Akhirnya setelah nunggu sampai jam 6 lebih, baru personil pada lumayan lengkap. Masalahnya, dekor gedenya belum diangkut dari Ciwastra dan sebagian besar dekor-dekor yang ditaro di salah satu ruangan di sekolah ga bisa diambil gara-gara ruangannya sendiri belum dibuka.
Setelah tingkat ke-stress-an meningkat drastis dan waktu berjalan, akhirnya beberapa dekoran berhasil ditempel. Meskipun ga maksimal, at least ga kosong-kosong banget meskipun ga ada kadomatsu, bambu buat gerbang, sama dekor gede.
Ga perlu lama nunggu, para pihak yang udah beli stand dan beberapa peserta pun dateng buat daftar ulang. Kemudian beberapa menit kemudian pembukaan dilakuin. Dan sekali lagi aku bikin malu diri aku sendiri dengan ngasih sambutan yang sama sekali ga baleg.
Lagi-lagi tingkat ke-stress-an meningkat gara-gara ruang ganti buat para cosplayer, peserta para-para, VG, sama band, plus bintang tamu belum dibuka. Waktu acara udah jalan, keribetan bertambah gara-gara ada beberapa peserta yang datengnya telat, tapi untungnya ga telat-telat amat. Oke, buat permasalahan ruangan itu akhirnya selesai juga karena akhirnya si petugas pemegang kuncinya dateng dan ngebuka ruangan, meskipun pada akhirnya aku, sebagai pihak yang menyelenggarakan acara, cukup malu gara-gara hal itu.
Hmm kayanya ga usah aku ceritain setiap detail juga kali ya? Terlalu banyak nantinya. Yang pasti hari ini cape berat tapi cukup bisa menikmati lah... Dan baigan yang paling aku suka, akhirnya teru-teru bouzunya manjur dan setelah panitia selesai beres-beres, kegiatan Tamagochi 4: Tsuyu Matsuri ini ditutup sama sim. "Glory for NIJI, glory for Tamagochi!"

NIJIガンバリマショウ、オッス!


Oh iya! Aku juga sempet foto bareng sama group yang cosplay jadi anak-anak P3 sama P4. Sayangnya salah satu personil mereka yang cosplay jadi Yukari (P3) pergi duluan ke lapangan, jadi ga ikutan foto bareng. Ini nih fotonya




Btw ini mbak-mbak yang rambutnya kuning dan pake neko-mimi tuh emang bukan karakter persona yak!

09/02/13

Persona 4 The Animation, Beres!

Akhirnya setelah dari tahun lalu pengen nonton anime yang satu ini, hari ini beres juga nontonnya. Sebenernya pengen sih nontonnya langsung aka marathon, tapi sayangnya waktu ga memungkinkan nih. Akhir-akhir ini makin sibuk gara-gara les, pelajaran, sama acara ekskul plus latihan nari buat ke Jepang. Belum lagi hujan yang kerjaannya turun sore-sore sampe bikin macet dimana-mana. Jadinya setiap pulang ke rumah selalu bawannya pengen tidur terus. Sampai-sampai aku dijulukin Sleeping Beauty--eh Sleeping Kawaii sama Lukman.
Oke, back to the main topic, setelah beres nonton sampai episode 25, aku agak kecewa. Soalnya di animenya Izanami, yang sebenernya tokoh yang cukup penting, sama sekali ga diceritain. Bahkan si Moel Gas Attendant aka Izanami versi orang tuh sama sekali ga diisayaratkan sebagai tokoh yang cukup berperan, di animenya dia cuma jadi cameo aja. Sayang banget... Tapi untuk yang lain sih menurut aku ga ada masalah. Cuma sayang aja setiap battle terlalu singkat (termasuk battle sama Ame no Sagiri).
Untuk masalah seiyuu, plot, dan lain-lain sih menurut aku ga ada masalah soalnya seiyuunya pun sama kaya di gamenya kok. Apalagi plotnya, cuma bagian social linksnya semua dipadatin jadi satu episode-satu episode which is bagus buat jadi selingan.
Terus buat opening sama ending pun buat aku bagus kok. Apalagi dua lagu openingnya. Tetep deh four thumbs up buat Meguro Shoji-san!











Taken from Persona 4 The Animation's second opening: Key Plus Words, by Hirata Shihoko and Kawamura Yumi.

15/11/10

Little Secret

.
LITTLE SECRET
Presented by: Murasaki Sakura
.
Summary: Empat hal—seorang pemuda, seorang anak kecil, kematian, dan setelah kematian—, empat perasaan—iri, kagum, bersalah, dan bahagia—, dan satu orang. Summary macam apa ini?!!
Disclaimer: Persona 3 tetep punya ATLUS kok
.
.
SILVER FIST
Hei,
apa kau tahu?
Sebenarnya aku sangat iri padamu.
Kau begitu hebat, begitu percaya diri, dan begitu kuat.
.
Jika dibandingkan denganku?
Hahahaha malah hanya akan membuatku bertanya,
Sebenarnya untuk siapa kugunakan kekuatanku?
.
Hei,
apa kau tahu?
Aku pun sangat mengagumimu.
Kurasa, bila kau tahu siapa sebenarnya aku,
maka kau hanya akan tertawa dan meninggalkanku.
.
Karena itulah aku selalu mengenakan topeng ini dihadapan semua orang
Karena untuk melindungi diriku yang lemah dengan sebuah kebohongan
.
Hei,
apa kau tahu?
Meskipun aku iri sekaligus kagum padamu,
aku selalu senang menjadi sahabatmu
.
BROWN LITTLE BOY
Mata anak itu selalu mengingatkanku pada hal yang paling tak ingin kuingat.
Ya, kebodohanku sendiri.
Membuatku mengingat betapa lemahnya diriku.
Dan aku sangat membenci itu
.
Meskipun perasaan bersalah selalu menggerogoti hatiku,
Aku sama sekali tidak bisa mengatakannya padamu karena diriku yang seorang pengecut
.
Meskipun hanya satu kata,
tapi mengapa begitu sulit?
.
Hari itu,
Sudah kuputuskan bahwa aku harus mengakhiri perasaan ini.
Akan kubiarkan kau membunuhku.
Karena aku tahu, hanya hal itulah yang dapat membuatmu tenang.
.
Maafkan aku
.
LAST FULLMOON
Angin malam yang begitu menusuk,
Hawa membunuh yang begitu mencekam,
Sinar rembulan yang begitu hampa,
Tak membuatku mengurungkan niatku.
.
Aku tahu,
Hari ini adalah hari pembalasan bagimu padaku.
Dan aku menerimanya.
Karena aku tahu, aku memang bersalah padamu.
.
Tapi, takdir berkata lain.
Ternyata nasibku bukanlah mati di tanganmu,
Tapi mati di tangan lelaki itu.
.
Takdirku bukanlah mati karena ketajaman tombakmu,
Tapi karena pelurunya yang begitu cepat menembus diriku.
.
Tapi, pada akhirnya aku bisa lega.
Karena satu-satunya hal yang bisa menebus dosaku telah tercapai,
.
Ya, kematianku.
.
FOREVER
Putih.
Yang kuingat adalah putih.
Karena semua menjadi putih di pandanganku saat itu.
.
Seruan-seruan yang begitu kukenal terus memanggilku di kejauhan.
Rasanya ingin kujawab seruan mereka,
kugapai tangan-tangan mereka,
kuhampiri mereka.
.
Tapi kurasa mustahil.
Karena saat ini, aku sudah mati.
.
Entah sudah berapa lama aku memandangi kalian semua dari sini
.
Saat kalian menangis untukku,
saat kalian berjuang melawan shadow,
saat kalian bahagia akan kemenangan,
.
Ah, senandainya aku bisa bersama kalian lagi…
Seandainya aku bisa tetap bersama kalian…
.
Satu hal yang ingin kuucapkan,
Terimakasih teman-teman,
Aku tahu kalian tidak akan melupakan aku
Dan aku pun tidak akan melupakan kalian

Selamanya…
.
.
WAKS!! APA-APAAN INIII?!!! GYAAAAAAAAAAH!!
Gomen ne… Otak Saku lagi error nih gara-gara makan ramen yang pedesnya setengah mati… Makanya jadi bisa bikin yang beginian.
Eh ada yang bisa ngerti maksud dari fic ini? Kalau ada, hebat. Soalnya Saku sendiri agak ga ngerti. -__-

04/06/10

Maiko's Story (oneshot)

Summary: 9 tahun setelah cerita P3. Semua orang memliki jalan hidup yang harus ditempuhnya masing-masing, begitu pula kau dan aku. The story about The Girl at The Shrine, Maiko, the Hangedman Arcana.


9 tahun berlalu setelah aku bertemu dengannya dan juga berpisah dengannya
Sejak saat itu hidupku berubah
2 tahun berlalu setelah kepulanganku ke sini
Dimanakah dirimu,
Minato-san?


Halo semuanya! Namaku Maiko. Umurku 16 tahun dan sekarang duduk di bangku SMA di Iwatodai, tepatnya Gekkoukan High School, kelas 1-D. Aku kembali ke Iwatodai 2 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP. Sebenarnya akulah yang memaksa mama agar segera kembali ke Iwatodai dan berbaikan dengan papa. Aku tahu kemungkinan mama dan papa berbaikan akan sangat kecil, tapi setidaknya aku harus kembali ke Iwatodai.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku sangat ingin kembali ke Iwatodai, jawabannya adalah Kak Minato. Kak Minato adalah orang yang dulu sering bermain bersamaku. Meskipun sedikit pendiam, Kak Minato sangat baik padaku. Dia sering mentraktirku takoyaki, main bersamaku, menemaniku, dan bahkan membantuku saat aku berencana kabur dari papa dan mama dulu. Mungkin Kak Minato sekarang sudah lulus kuliah, karena dulu saat aku pertama bertemu dengannya di sudah duduk di bangku SMA.
Tapi sejak hari pertama kepindahanku ke Iwatodai, Kak Minato tak kunjung kutemukan. Tapi aku tidak menyerah! Hampir setiap hari aku mencarinya, namun menemui hasil yang sama. Kemanakah dirimu, Kak Minato?


Aku sedang mecoret-coret buku catatan matematikaku saat bel berbunyi. Aku menghela nafas dan menutup buku matematikaku dengan malas. Setelah guru matematika keluar dari kelas, seorang gadis berambut hijau tua dan seorang gadis berambut biru muda bernama Michi dan Runa langsung menghampiri mejaku.
“Hei, katanya kita dapat guru sejarah baru loh!” Runa berkata dengan semangat
“Iya! Kata anak-anak 1-A sih cakep banget!” Michi menimpali, “Udah gitu masih muda lagi!”
“Kau sudah pernah melihatnya?” tanya Runa padaku
“Boro-boro. Aku baru tau kok kita bakal dapat guru baru.” kataku malas.
Aku memang malas ngomongin tentang cowo-cowo di sekolahku ini—termasuk gurunya juga. Habis menurutku tidak ada yang bisa menandingi Kak Minato. Yah… setidaknya BELUM, dan aku harap tidak ada.
“Ah, kau sama sekali tidak asik! Masa kau sama sekali tidak tertarik?” tanya Michi dengan suara yang sengaja dibuat kecewa
“Maaf, tapi aku memang tidak tertarik.” jawabku sambil mengambil buku mata pelajaran selanjutnya sekaligus pelajaran terakhir, sejarah.
“Mai-chaaaan…. Kau ini aneh! Masa sih tidak ada cowo di sekolah ini yang kau bilang ganteng?” tanya Runa
“Tidak ada tuh.” jawabku santai
“Pasti karena cowo yang waktu itu kau ceritakan kan? Siapa namanya? Um… Mi..Mi…” ejek Michi
“Minato. Namanya Kak Minato.” potongku ketus
“Tapi itu kan udah 9 tahun yang lalu. Aku yakin si Minato itu udah punya pacar,” kata Michi enteng
“Tidak mungkin! Kak Minato kan sudah janji padaku!”
Runa sepertinya akan mengatakan sesuatu, tapi tersela oleh suara pintu geser yang terbuka. Kami bertiga refleks langsung melempar pandang kami ke pintu. Aku sedikit terkesiap.
Seorang pemuda dengan rambut berwarna cokelat muda masuk ke kelasku. Dia menggunakan vest rajutan berwarna hitam dan kemeja putih polos berlengan pendek juga celana hitam berbahan katun. Dia tidak mengenakan dasi dan rambut cokelatnya terlihat sedikit acak-acakan. Pemuda yang kelihatannya tidak berumur lebih tua dari 30 tahun itu melangkah dengan santai sambil membawa beberapa buku sejarah di tangan kirinya. Dia berjalan ke meja guru dan menyimpan buku-bukunya di sana. Setelah itu dia berjalan kembali ke depan kelas dan sedikit merapikan kerah bajunya. Mata cokelatnya menatap kami dengan tatapan yang tegas, menyiratkan bahwa dibalik wajahnya yang terlihat masih sangat muda itu, terdapat otak yang cemerlang.
“Selamat siang. Saya Amada Ken, guru sejarah kalian yang baru. Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan sayalah yang akan menjadi guru sejarah kalian.” katanya
“Oh iya, maaf ya tadi saya datang sedikit terlambat. Saya masih belum hafal jadwal mengajar saya.” tambahnya dengan senyum
“Amada-sensei umurnya berapa?” celetuk salah seorang siswi di kelasku
“Sebenarnya saya tidak punya kewajiban untuk mejawab pertanyaan itu, tapi karena ini hari pertama kita semua bertemu di kelas, maka saya akan menjawabnya. Umur saya 26 tahun.” jawabnya
Terdengar cekikikan dari belakangku. Karena penasaran, kutengok ke belakang dan mendapati temanku Sayo dan Mitsuki sedang cekikikan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas dan kudapati hampir semua siswi di kelasku cekikikan atau hanya senyum-senyum. Aku menatap mereka heran, tapi lalu kualihkan pandanganku ke guru sejarah baruku, Amada-sensei. Amada-sensei hanya tersenyum sekilas. Dia berjalan ke meja guru dan mengambil salah satu buku.
“Saya ingin tahu, bab berapa yang terakhir kalian pelajari?” tanyanya
“Bab 7,” jawab ketua kelasku
“Hmm… Kalau begitu kita adakan kuis untuk menguji pemahaman kalian tentang bab 7. Silahkan keluarkan kertas selembar,” kata Amada-sensei sambil membolak-balik halaman buku yang dipengangnya
“Aaah… Malas…” kudengar Michi mengguman dari bangku di serong depanku
“Kukira kita bisa santai sedikit karena dapat guru baru… Ternyata…” Sayo dibelakangku mengeluh
Aku hanya mengangkat bahu dan mengeluarkan selembar kertas seperti yang diperintahkan sensei. Menurutku sih kuis ini sama sekali tidak menjadi masalah besar, karena satu, pelajaran kesukaanku adalah sejarah; dan dua, toh materi bab 7 tidak terlalu sulit buatku. Kukerjakan soal yang didiktekan Amada-sensei dengan cepat. Lalu mengumpulkannya. Kulihat Amada-sensei sedang menulis sesuatu di sebuah kertas dengan sebuah pulpen berwarna merah marun.
“Wah, cepat sekali. Sepertinya kau tidak menemui kesulitan sedikitpun ya?” dengan cepat Amada-sensei mendongak ke arahku
“Ya. Kurasa materi bab 7 itu cukup mudah,” jawabku pelan
“Hahaha kau benar. Siapa namamu?”
“Maiko,” jawabku singkat sebelum kembali ke bangkuku
Aku duduk di bangkuku dan mengeluarkan sebuah buku. Kuambil pensil mekanik dan memainkannya di tanganku sambil memandangi salah satu halaman di buku itu. Saat aku hendak menggoreskan pensil mekanikku, tiba-tiba saja Yuzu, teman sebangkuku menyikutku.
“Apa?” tanyaku
“Kau tadi ngobrol apa dengan Amada-sensei?” tanya Yuzu balik
“Ga kok. Tadi dia cuma tanya namaku.” jawabku singkat
“Lalu?”
“Aku kembali ke sini. Emangnya kenapa sih?”
“Hee… Ga apa-apa kok. Aku cuma iri aja sama kamu, Mai-chan.” kata Yuzu
“Iri?” tanyaku sambil menatap mata hitamnya
“Kau bisa langsung ngobrol dengan Amada-sensei. Huuuh… aku juga mau…” katanya sambil mengerucutkan bibirnya. Aku hanya tertawa cekikikan melihat wajahnya.
“Hahahaha kau kan bisa ajak Amada-sensei ngobrol saat jam pelajarannya selesai.” saranku
“Benar juga ya!” bisiknya dengan mata berbinar, “Thanks buat sarannya ya, Mai-chan!” sambungnya
Aku hanya tersenyum menganggapi kata-katanya, lalu mencoret-coret buku yang ada di mejaku dengan gambar-gambar.

Dua puluh menit kemudian, Amada-sensei meminta kami mengumpulkan kertas kami. Muncullah berbagai reaksi, ada yang tersenyum dipaksakan, ada yang cemberut, ada yang ekspresinya biasa saja, ada yang tersenyum kecil, sampai ada yang terlihat hampir menangis. Aku tidak ambil pusing dengan pemandangan itu dan melanjutkan gambarku. Setelah kami semua kembali ke bangku kami masing-masing, Amada-sensei berjalan ke depan kelas.
“Nah, sekarang sebelum memulai pelajaran saya ingin mengetahui nama kalian masing-masing. Ya, silahkan perkenalkan diri kalian mulai dari sini.” katanya sambil menunjuk bangku Michi.
“Namaku Tominaga Michi,”
“Aku Asou Rai,”
“Saya Nakajima Hitsugi,”
Dan seterusnya sampai giliranku,
“Aku Reihatsu Maiko,”
“Nama saya Tsumugi Hiro,”
“Saya Takigawa Rie,”
Dan seterusnya sampai murid terakhir. Setelah kami selesai memperkenalkan diri kami, Amada-sensei hanya mengangguk-angguk, lalu berkata, “Baiklah. Kalau begitu kita mulai pelajaran hari ini.”


Pelajaran sejarah hari ini sungguh menyenangkan. Materinya mengasyikkan dan cara mengajar Amada-sensei sama sekali tidak membuat kami bosan.

TING TONG

Bel pun berbunyi. Menandakan jam pelajaran telah berakhir.
“Baiklah, sampai di sini dulu pelajaran kali ini,” kata Amada-sensei, ”Jangan lupa, saya akan mengadakan pre-test minggu depan. Jadi belajarlah.” sambungnya sambil tersenyum kecil. Dapat kudengar erangan malas dari teman-temanku. Tapi sensei sama sekali tidak memedulikannya dan segera keluar dari kelas kami sambil membawa buku-bukunya, kertas jawaban kuis kami, dan beberapa alat tulisnya.
Tak berapa lama setelah Amada-sensei keluar dari kelas kami, wali kelas kami, Yamagishi-sensei, masuk ke kelas. Beberapa menit kemudian kami sudah keluar dari kelas kami dan berjalan ke berbagai arah. Ada yang ke klub olahraga, atau ke klub-klub yang lain, ke perpustakaan, juga ke Student Council, dan ada juga yang langsung pulang.
Hari ini aku tidak pulang bersama dengan Michi dan Runa, karena mereka ada kegiatan klub. Jadi hari ini aku pulang sendiri. Saat aku berjalan di depan kelas 1-B, aku melihat sebuah pulpen berwarna merah marun. Karena penasaran, aku mengambilnya dan membolak-baliknya. Aku menemukan inisial A.K di sana dengan warna emas. ‘Rasanya aku pernah lihat pulpen ini. Dimana ya?’ tanyaku dalam hati.
Aku terus memikirkannya sambil menggenggam pulpen merah marun itu. Tiba-tiba aku teringat,
‘Oh iya! Tadi Amada-sensei memakai pulpen seperti ini. Mungkin ini miliknya.’ aku mengangguk-angguk kecil. ‘Amada Ken, ya… Inisialnya pun A.K,’ pikirku lagi. Dengan segera, aku berjalan ke Faculty Office untuk mengembalikan pulpen milik Amada-sensei yang ada di genggamanku.
Setelah sampai di ruang Faculty Office, aku segera membuka pintunya dan mencari sosok Amada-sensei. Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Saat aku menoleh, kulihat Yamagishi-sensei.
“Ada apa, Maiko-chan?” tanya wali kelasku ini dengan suara lembut
“Umm… Aku mencari Amada-sensei.”
“Ken-kun? Tunggu sebentar ya, ah itu dia. Ken-kun!” panggil wali kelasku
“Fuuka-san? Ada apa?” tanya Amada-sensei
“Ini, ada yang mencarimu.” kata Yamagishi-sensei sambil menepuk punggungku ringan
“Kau… Maiko?” tanyanya ragu. Aku mengangguk.
“Kalau begitu aku duluan,” pamit Yamagishi-sensei sambil menganggukkan kepalanya dan berlalu. Tapi sebelum Yamagishi-sensei beranjak jauh, Amada-sensei memanggilnya, “Fuuka-san!”
“Ada apa Ken-kun?” Yamagishi-sensei berbalik
“Tentang acara hari minggu nanti, siapa saja yang akan ikut?” tanya Amada-sensei
“Semuanya,” jawab Yamagishi-sensei dengan senyum, “Tentu saja kecuali dia…” tiba-tiba wajahnya berubah sendu
“Jangan lupa datang, Ken-kun. Kurasa semuanya merindukanmu,” tambahnya sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Pasti,” janji Amada-sensei. Lalu Amada-sensei mengalihkan pandangannya kepadaku,
“Ada apa?” tanyanya
“Ano… Ini milik Anda?” tanyaku sambil menyodorkan pulpen merah marun yang kutemukan di koridor
“Wah! Dimana kau menemukannya? Aku memang mencari-cari pulpen ini. Arigatou gozaimasu.” katanya sambil menyunggingkan senyum hangatnya padaku dan mengambil pulpen itu dari tangaku
“Di depan kelas 1-B.” jawabku singkat
“Tapi bagaimana kau tahu ini milikku?” tanya sensei
“Saya melihat Amada-sensei menulis dengan menggunakan pulpen ini saat saya mengumpulkan kertas jawaban saya.”
“Begitu… Kau pengamat yang jeli.” pujinya
“A-arigatou gozaimasu,” kataku. ”Ngomong-ngomong, apa saya boleh bertanya?” tanyaku ragu
“Tentu,”
“Apa Anda dan Yamagishi-sensei saling mengenal?”
“Ya. Dulu kami satu asrama. Ya… satu-satunya asrama di Iwatodai yang dimiliki oleh Kirijo Group.” jawabnya
Aku terkesiap. Asrama yang dimiliki Kirijo Group? Dulu kan Kak Minato pernah bilang kalau dia tinggal di sana bersama dengan teman-temannya! Berarti pasti Yamagishi-sensei dan Amada-sensei mengenal Kak Minato!
“Ano… Apa saya boleh bertanya lagi?”
“Ya, ada apa?”
“A-apa di asrama itu ada yang bernama Minato?” tanyaku gugup
Tiba-tiba senyum di wajah Amada-sensei langsung menghilang dan matanya sedikit terbelalak. “Ya,” jawabnya parau. “Kau kenal Minato-san?” tanya Amada-sensei dengan kaget. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
”Anda juga kenal dengan Kak Minato? Kalau begitu pasti Anda tahu dimana Kak Minato!” kataku bersemangat
“Lebih baik kita bicarakan di tempai lain saja,” katanya dengan suara yang cukup pelan. Kulihat di sekelilingku. Hampir semua guru yang ada di ruangan ini menatap kami. Aku mulai gugup, dan dengan cepat berjalan keluar dari Faculty Office, mengikuti Amada-sensei.

Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di Paulownia Mall. Kupandangi sosok Amada-sensei dari belakang. Dari caranya melangkah, rasanya Amada-sensei belum akan berhenti. ”Kita mau kemana, sensei?” tanyaku bingung. Amada-sensei tidak menjawabku
Kami sampai di Chagall Café. Lalu masuk dan mengambil tempat duduk. Aku mencoba memperhatikan raut wajah Amada-sensei yang duduk di depanku. Tapi cukup sulit karena kepalanya yang ditundukkan, membuat wajahnya sedikit tertutup dengan rambut cokelat terangnya. Namun dapat kupastikan wajahnya muram, tidak seperti tadi.
Seorang pelayan menghampiri kami, “Pesan apa, nona, tuan?” tanya pelayan itu ramah
“Saya pesan Black Coffee dan—kau mau apa?” tanya Amada-sensei
“Eeh, saya Milk Tea saja,” kataku gugup
“Baik, ada lagi?” tanya pelayan itu ramah
“Tidak,” jawab Amada-sensei singkat. Pelayan tersebut terseyum dan meninggalkan kami
“Jadi?”
“Kau juga kenal dengan Minato-san, ya?” tanya Amada-sensei. Aku mengangguk.
“Apa yang dia katakan padamu?”
“Eeeh… Kak Minato tidak banyak bicara, tapi dulu dia sering bermain dengan saya dan mentraktir saya,” jawabku jujur
“Apa Minato-san mengatakan sesuatu tentang persona?” tanyanya serius
“Per—apa? Rasanya tidak.” jawabku sambil mengingat-ingat
“Persona,”
“Saya rasa tidak. Seperti yang saya bilang, Kak Minato jarang sekali bercerita tentang dirinya sendiri. Kak Minato hanya bilang bahwa dia tinggal di sebuah asrama yang dimiliki oleh Kirijo Group di Iwatodai, dan tinggal di sana bersama teman-temannya dan seekor anjing.” jelasku panjang lebar
“Begitu…” kata Amada-sensei. Entah kenapa, kurasa Amada-sensei sedikit ega mendengar penuturanku tadi
“Silahkan, Milk Tea dan Black Coffeenya,” pelayan tadi muncul dengan membawa nampan berisi secangkir Milk Tea dan secangkir Black Coffee. Lalu dia menaruh kedua cangkir itu di meja kami
“Arigatou,” kataku dengan senyum. Pelayan itu balas tersenyum dan melangkah pergi membawa nampan kosong.
“Amada-sensei, tolong katakan dimana Kak Minato sekarang?” tanyaku serius. Kutatap mata cokelatnya lekat-lekat
“Minato-san… sudah meninggal 8 tahun yang lalu…” jawabnya sambil menundukkan kepalanya lagi
“B-bohong! Tidak bungkin! Kak Minato belum mati!” kataku marah
“Tapi Minato-san memang sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan 8 tahun yang lalu,” tiba-tiba Amada-sensei mengangkat wajahnya lagi dan menatap mataku
“T-tapi…”
Amada-sensei terus menatapku
“K-kalau Kak M-minato mati…” air mata mulai bergulir di pipiku, “A-aku tidak m-mau Kak M-minato m-mati…” kataku terisak. Aku mulai menangis. Kudengar orang-orang di sekitarku mulai berbisik-bisik, tapi aku tidak peduli. Aku masih belum percaya Kak Minato sudah meninggal.
Amada-sensei menepuk kepalaku dan menyodorkanku Milk tea yang tadi kupesan, “Lebih baik diminum dulu,” sarannya. Kuambil cangkir itu dari tangannya dan mulai minum sedikit demi sedikit.
“Sudah enakan?” tanyanya. Aku mengangguk walaupun masih sedikit terisak
“Kalau kau tidak percaya, aku bisa membawamu ke tempatnya sekarang.” Amada-sensei menyodorkan sapu tangannya. “Kau mau kita ke sana?” tanyanya lembut
Aku mengangguk, “Ya,”

Lalu kami berdua keluar dari Chagall Café dan kubiarkan Amada-sensei menyetop sebuah taksi. Di dalam taksi, aku menceritakan tentang pertemuan pertamaku dengan Kak Minato serta pengalamanku bersamanya, juga tentangku yang memberikan hadiah kenangan padanya 9 tahun yang lalu sebelum aku pindah. Amada-sensei tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mendengarkan ceritaku dengan seksama.
Akhirnya, kami sampai di sebuah pekuburan. Lalu kami masuk dan kubiarkan Amada-sensei membimbingku berjalan diantara batu-batu nisan. Tidak lama kemudian kami menemukan apa yang kami cari, batu nisan milik Kak Minato.

Here Lies Our Beloved Friend,
Arisato Minato
1992-2010

Begitu melihat batu nisan itu, aku menangis tersedu-sedu. Amada-sensei berdiri di belakangku, membiarkanku menyandarkan diriku padanya. Dia menepuk bahuku, menghiburku. Tapi tetap saja rasanya sedih. Sulit untuk memercayai bahwa orang yang kau cintai telah meninggal 8 tahun yang lalu.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Yang kutahu aku menangis di dalam pelukan Amada-sensei. Akhirnya aku berhenti menangis dan mencoba menenagkan diriku. Amada-sensei masih menepuk punggungku, “Tenanglah,” bisiknya lembut
Setelah merasa lebih baik, kulepaskan diriku dari pelukannya dan mundur beberapa langkah. Kubalikkan tubuhku untuk menatap batu nisan itu.
“Kak Minato…”
Kupejamkan mataku dan berdoa untuknya. Lalu kubuka kembali mataku. Kutatap batu nisan itu dalam keheningan. Angin berhembus, menggoyangkan dedaunan dan semak-belukar, membuatnya bergemerisik. Kutengadahkan kepalaku ke arah langit yang kini berwarna jingga.

“Sudah sore, bukankah sudah saatnya bagimu untuk pulang?” tanya Amada-sensei. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk
“Ya,”
“Ayo!” ajaknya. Kuhampiri Amada-sensei dan berjalan di belakangnya.

Aku menoleh ke arah batu nisan itu,

‘Good bye, my love… No matter what happened, you’re still my love…’


~OWARI~

05/05/10

persona 3 (Welcome to Sanada Akihiko's Fansclub!)


*butler mode: ON*

Hahahayy.... lagi2 persona... harap maklum....

Huuuumm.... sudah diputuskan!!! kali ini yang jadi topik adalaaaaaah.... cowo favoritku di p3, SANADA AKIHIKO the BOXING CHAMP!! WEEEEEY... WAAAA....!!! *plok plok plok*

Akihiko... hmm... cowo berbadan tinggi dan berambut abu2(ato putih?) cepak. selalu pake vest merah (kecuali waktu ga sekolah), dan emang identik dengan warna merah. selain itu ciri khasnya yang lain adalah plester yang ada di pelipis kirinya. cowo berpostur kekar ini udah memiliki gelar Boxing Champ sejak masih di smp. Akihiko adalah anggota SEES yang pertama bergabung (gara2 diajak Mitsuru tentunya). bestfriend Aragaki Shinjiro ini adalah cowo yang benar2 terobsesi sama 'menjadi kuat' gara2 pernah kehilangan salah satu bestfriendnya, Miki. personanya tuh Polydeuces sama Caesar. elementnya lightning. kalau nanya soal weaponnya Akihiko, pasti gampang banget ketebak, apalagi coba kalau bukan sepasang gloves dan knuckles?


Setelah insiden kematian ibunya Ken, Shinjiro memutuskan untuk keluar dari SEES. Akihiko adalah orang yang paking ga setuju sama keputusan itu. soalnya... yah... Shinjiro kan bfnya Akihiko. sampe2 Akihiko tuh mati2an ngebujuk supaya Shinjiro tuh balik lagi ke SEES (yang tentunya ditolak mentah2 sama Shinjiro).

Di tanggal 4 Oktober (waktu Shinjiro ditembak Takaya), Akihiko-lah yang pastinya paling terpukul gara2 ini. tapi, waktu upacara penghormatan Shinjiro di Gekkoukan, anggota SEES (minus Aigis, Koromaru, sama Ken) yang ga dateng hanya Akihiko. Ternyata Akihiko datengnya pas after school, pas udah ga ada lagi murid yang ada di sana. saat itulah persona Akihiko, Polydeuces, berubah jadi ultimate persona, Caesar.


Amada Ken adalah fansnya Akihiko. kalo (aku) ngeliat mereka berdua entah kenapa pasti bawaannya pengen ketawa terus. mungkin gara2 mereka keliatan kaya kakak adik (?) kali ya? selain itu, Akihiko yang kelihatannya dewasa sering banget dipasangin sama Kirijo Mitsuru atau Main Chara di P3P (ga tau kenapa).

Aaaaaaakkkhhhhhhhh~~~!!! Akihiko emang cowo yang bener2 keren deh! ngeceng aku sama dia!! XD

Udah ah, dari pada tambah ngaco, mendingan udah aja ya...
See ya in next post!

*Akihiko and Mitsuru (Junior High Schoolers)*



*best friends forever*

*Akihiko in Persona Trinity Soul*

*Akihiko's past in P3FES*
*Akihiko: "This room is really hot!" Author: "It's because you're here! XD"*

*Akihiko: "Well, see ya later."*

persona 3 (About Amada Ken)

*Ken with beloved dog, Akamaru*


Hum hum.... lagi2 tentang persona... hehehe maklum.. lagi seneng persona sih...

Eh eh eh! di post yang lalu kan aku ngebahas tentang SEES sama Arisato Minato a.k.a main chara, sekarang aku mau ngebahas tentang salah satu tokoh cowo p3 yang aku suka, AMADA KEN!

Ken tuh... satu2nya anggota SEES yang masih SD (meskipun SDnya ga diketahui gara2 ga ada di storyline). meskipun masih SD, Ken tuh lumayan kuat loh! senjatanya tuh long spear--alesannya supaya bisa ngimbangin tinggi badannya (yang bisa dibilang pendek) dan memperluas jangkauan serangannya. personanya Ken tuh Nemesis dan Kala-nemi, elementnya light sama lightning. dan Ken tuh ngefans banget sama Akihiko. soalnya Akihiko tuh kuat (ya iya lah! Boxing Champ gitu!).

Kalau cerita tentang masa lalunya Ken... hmm... bisa dibilang cukup mengudang rasa iba juga sih... karena dua tahun sebelum Ken bergabung sama SEES, ibunya meninggal dalam sebuah 'kecelakaan'. sebenarnya yang (ga sengaja) ngebunuh ibunya Ken tuh Aragaki Shinjiro.

Sebenarnya, Ken sendiri mengajukan diri utk jadi anggota SEES tuh gara2 dia pengen nemuin pembunuh ibunya yang punya 'kekuatan aneh'. jadi Ken tuh bergabung dgn SEES karena alesan yg simple, DENDAM.

Ken sadar kalau pembunuh ibunya adalah Shinjiro setelah bertarung dengan Shadow Arcana Hermit di Club Escapade di Paulownia Mall. sejak saat itu, Ken mati2an nyusun rencana balas dendamnya. pada tanggal 4 Oktober--hari kematian ibunya Ken DAN bertepatan dengan fullmoon--Ken melancarkan aksi balas dendamnya. waktu anggota SEES selain Ken sama Shinjiro lagi ngelawan Shadow Arcana Strength sama Fortune, Ken ngajak Shinjiro ke suatu tempat (yg mirip sama 'backstreet' di Iwatodai Station). waktu Ken sama Shinjiro lagi ngomong2, tiba2 datanglah salah satu member dari Strega, Takaya. Takaya bilang kalau Shinjiro cepat atau lambat bakal mati (meskipun Ken ga ngebunuh Shinjiro). gara2 Takaya ngomong gitu, keinginan Ken untuk balas dendam mulai hilang. Takaya tiba-tiba nembak Shinjiro (tapi ga sampe mati). Ken yang kaget ga bisa ngapa2in ngeliat kejadian itu. terus tiba2 Takaya nembak Ken. tapi, sebelum pelurunya kena ke badan Ken, Shinjiro udah lompat ke depan Ken untuk ngelindungin Ken. udah gitu Takaya kabur gara2 ngeliat anggota SEES pada dateng. setelah Shinjiro ngomong beberapa hal, dia mati.

Besoknya waktu after school, semua anggota SEES lagi ngomongin soal kematiannya Shinjiro di Lounge. udah gitu Mitsuru nyuruh Aigis buat manggilin Ken di kamarnya. ternyata Ken kabur. udah gitu kita nunggu beberapa hari. nah, waktu kabur itulah personanya Ken, Nemesis, berubah jadi ultimate persona, Kala-nemi.

Akhirnya Ken ga dendam sama Shijiro, malahan kagum. dan Ken juga berusaha untuk menerima kematian ibunya dengan lapang dada.


Nah..... itu dia ceritanya Amada Ken.

see ya in other post!

*Amada Ken*

*Ken with his idol, Sanada Akihiko the Boxing Champ*

03/05/10

persona 3 (Arisato Minato's Story)




*dari kiri ke kanan: yamagishi fuuka, aragaki shinjiro, sanada akihiko, kirijo mitsuru, arisato minato, hamuko (main chara di P3P), mochizuki ryoji, takeba yukari, iori junpei, amada ken, aigis, koromaru*

nah... aku mau cerita2 dikit nih tentang persona 3....

main charanya persona 3 tuh (kalau di manga namanya Arisato Minato) cowo berambut biru dengan potongan emo dan mata indigo. personanya tuh Orpheus, Messiah, sama Thanatos. orangnya (kalau di manga) pendieeeeem... banget dan sering keliatan ngantuk. dia pindah ke iwatodai karena alesan yg ga diketahui, tapi dia dateng ke dorm waktu lagi dark hour.

nah nah.... apa lagi tuh dark hour...........?
dark hour tuh... waktu 1 jam yg ada diantara hari ini dan besok, alias jam antara 24.00 dan 01.00. hanya orang2 yg "berpotensi" yg bisa ingat dan tau tentang dark hour, sedangkan orang lain ga ada yg tau dark hour. kok bisa gitu? karena orang2 yg ga "berpotensi" bakalan berubah jadi "coffin" alias peti mati. hanya orang2 "berpotensi" dan orang2 yg ngedenger suara shadow yg ga mengalami proses "transmografi"

(oke... back to the storyline..)
Minato pindah ke dorm yg isinya persona-user; Kirijo Mitsuru si anak bos "Kirijo Group" dengan personanya Penthesilia dan Artemisia, Sanada Akihiko si King of Kickboxer (itu julukan dari aku!) dengan personanya Polydeuces dan Caesar, sama Takeba Yukari si anak terpopuler se-Gekkoukan Highschool dengan personanya Io sama Isis.
Awalnya Yukari yang seumuran sama Minato merasa aneh pada Chairman mereka, Ikutsuki Shuji, karena hanya persona-user lah yang boleh tinggal di dorm. tapi setelah kejadian yang melibatkan fullmoon, shadow arcana magician, evoker, dan persona, Yukari akhirnya sadar bahwa Minato adalah salah satu dari orang2 "berpotensi" alias persona-user seperti dirinya.

setelah mengetahui hal itu, sang Chairman, Ikutsuki, langsung meminta Minato untuk bergabung dengan grup pembasmi shadow bernama SEES atau Specialized Extracurricular Execution Squad.

setelah itu mulailah petualangan mereka demi mengungkap misteri tentang dark hour, shadow, dan tartarus (menara yang muncul saat dark hour dan terletak di bangunan sekolah mereka, Gekkoukan Highshool), dan bertemu dengan para persona-user lain seperti Iori Junpei si badut kelas dengan personanya Hermes dan Trismegistus, Yamagishi Fuuka yang pemalu dengan personanya Lucia dan Juno, Aigis si robot ani-shadow dengan personanya Palladion dan Athena, Koromaru si anjing dengan personanya Cerberus, Aragaki Shinjiro yang meninggal karena 'Insiden Strega' dengan personanya Castor, dan Amada Ken si anak SD dengan personanya Nemesis dan Kala-nemi.

selain bertemu dengan teman-teman persona-user, Minato juga bertemu dengan tiga orang persona-user yang menamai diri mereka Strega; Sakaki Takaya yang kejam dengan personanya Hypnos, Shirato Jin si informan kelas kakap dengan personanya Moros, dan Yoshino Chidori si cewek goth-loli dengan personanya Medea.

hmm..... tentang masa lalu Minato? aneh juga sih.. soalnya Minato ternyata punya shadow arcana death yang disegel di dalem badannya saat 10 tahun yang lalu. yang menyegelnya? Aigis si robot anti-shadow. sebenernya bukan kemauan Aigis untuk nyegel Death di dalem Minato, tapi itu gara2 kekuatan Death terlalu besar dan ga mungkin bisa dikalahin Aigis. jadi... Aigis terpaksa nyegel Death di dalem seorang anak kecil yang kebetulan ada di sana (alias si Minato).

in the end of the story... Minato meninggal gara2 menggunakan kekuatannya untuk ngelawan Nyx. (cerita selengkapnya mungkin di post lain)


yang pastiii persona 3 tuh kereeeeen banget! dan lagi serinya ga cuma 1! ada Persona 3 Portable (P3P) sama Persona 3 FES (The Journey sama The Answer).
coba main deh! aku jamin ketagihan!!! XD