Tampilkan postingan dengan label genre: romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label genre: romance. Tampilkan semua postingan

27/07/12

Randomness (Arioka Daiki and Chinen Yuuri)


.
.
Randomness (Arioka Daiki and Chinen Yuuri)
10 songs, 10 stories, 2 people; Arioka Daiki and Chinen Yuuri. Request from: Arioka Natsuko
Arioka Daiki and Chinen Yuuri belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny’s Jimusho
All these songs belongs to their singers and composers
Randomness (Arioka Daiki and Chinen Yuuri)—these stupid drabbles belongs to Kagami Hikari
WARNING! Contains: 100% DaiChii, BL NOT yaoi, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL romance.
.
ENJOY!
.
.
1. Snow Song by Hey! Say! JUMP
Baik Daiki maupun Yuuri, keduanya sama-sama menyukai salju di musim dingin. Dan mereka berdua sama-sama menyukai salju musim dingin karena alasan yang sederhana.
Jika alasan Yuuri adalah karena salju itu menyenangkan.
Maka alasan Daiki adalah karena ia senang melihat Yuuri bermain salju.
#AUTHOR’S note: Entah kenapa Author ngerasa kalau lagu ini pas banget buat mereka berdua!
.
2. Nagareboshi by Home Made Kazoku
Banyak orang bilang bahwa bintang jatuh akan mengabulkan harapan kita. Karena itulah malam itu Yuuri langsung memohon pada bintang jatuh yang ia lihat.
‘Kuharap aku bisa bertemu dengan orang yang kucintai dan mencintaiku!’ batin Yuuri
Dan ia tak pernah menyangka permohonannya akan begitu cepat dikabulkan.
Keesokan harinya kedua mata Yuuri langsung tertuju pada sosok pemuda yang baru ia kenal, Arioka Daiki.
#AUTHOR’S note: ....... Author ga tau mau bilang apa...
.
3. Stand By Me by The Brilliant Green
“Jika aku merasa gugup, biasanya aku menggenggam erat jimat yang Kaa-san berikan padaku!” kata Yuuri
“Jimat untuk menghilangkan kegugupan ya...” gumam Daiki sambil memasang pose berpikir. Yuuri mengangguk
Tiba-tiba Daiki menggenggam tangan Yuuri erat-erat. “D-dai-chan?”
“Kau bilang menggenggam erat jimat kan? Buatku jimat untuk menghilangkan kegugupan adalah kamu.” kata Daiki, “Apalagi kalau kau ada di sampingku,”
#AUTHOR’S note: Hahaha macam apa ini?! Daiki gombal!!
.
4. My Everything by Yabu Kouta
“Apa kau mencintaiku?” tanya Yuuri tiba-tiba
Daiki mengangguk, “Un,”
“Apa kau rela melakukan apapun untukku?” Daiki kembali mengangguk, “Meskipun aku mati?”
Kali ini Daiki tak langsung merespon pertanyaan yang diberikan Yuuri. Hingga akhirnya Daiki menggeleng.
“Sudah kuduga, kau memang tidak mencintaiku!” seru Yuuri marah dan berlari menginggalkan Daiki.
“Tunggu!” Daiki menggenggam pergelangan tangan Yuuri, “Kau tidak bertanya padaku tentang alasannya?”
Yuuri menatap Daiki kesal, “Baiklah... memang apa alasanmu?” tanyanya kesal
“Karena aku tidak yakin apakah aku masih akan hidup setelah mengetahui bahwa kau sudah mati.” jawab Daiki, “Karena bagiku, kau adalah segalanya...”
#AUTHOR’S note: Pasaran kah? Hehehe gomenasai... Tapi Daiki ngegombal ah!
.
5. Infinity by Hey! Say! JUMP
Dua buah pertanyaan membuat Arioka Daiki dan Chinen Yuuri sedikit bingung.
“Seberapa besar cinta yang kalian miliki? Dan seberapa lama cinta itu mungkin akan terus ada?”
Bagi Daiki dan Yuuri cinta adalah sesuatu yang tak bisa dihitung dengan apapun. Jadi jawaban mereka berdua sama, “Sangaaaaaaaat besar!”
Dan untuk menjawab pertanyaan kedua, jawaban mereka pun sama, “Selama-lamanya,”
#AUTHOR’S note: Ga jelas ya? Gomenasai...
.
6. Unmei by Saeki Taisuke and Matsumoto Shinya
Yuuri mengelap air mata yang sudah mengalir deras saat melihat sosok yang berbaring di kasur itu membuka matanya. “Dai-chan!”
“Chii?” tanya Daiki lemah
“Kau membuatku cemas! Aku pikir kau akan mati!” Yuuri memeluk Daiki yang masih berbaring
“Tidak.” Daiki menggeleng, “Aku tahu aku masih akan hidup, karena takdirku adalah bersamamu,”
#AUTHOR’S note: Daiki ngegombal lagi! XD Entah kenapa rasanya lucu!
.
7. Weeek by NEWS
Setiap hari Yuuri selalu teringat pada Daiki.
Setiap minggu ada 7 hari yang berbeda.
Artinya berapa kali Yuuri memikirkan Daiki selama seminggu?
Entahlah, Yuuri sendiri bahkan tak bisa menghitungnya
#AUTHOR’S note: Satu lagi drabble ga jelas!
.
8. HA-RU-NA-TSU-A-KI-FU-YU by Ya-Ya-Yah – Arioka Daiki’s POV
Haru, bagiku senyum Chii selalu terlihat seindah bunga sakura yang mekar di musim semi.
Natsu, bagiku tawa Chii selalu terlihat secerah sinar matahari di musim panas.
Aki, bagiku suara Chii selalu terdengar semerdu angin yang berhembus di musim gugur.
Fuyu, bagiku tatapan Chii selalu terlihat selembut salju yang turun di musim dingin.
#AUTHOR’S note: Macam apaaa?! Entah kenapa jadinya malah gini...
.
9. Eyes on Me by Faye Wong
Daiki tersenyum pada dirinya sendiri. “Hei, kenapa kau senyum-senyum sendiri terus?” tanya Hikaru
“Tidak apa-apa kok!” Daiki menggeleng.
Di sudut lain ruangan itu, Yuuri tengah memandangi Daiki diam-diam. Tapi Yuuri tak pernah mengetahui bahwa sebenarnya Daiki sudah menyadari hal itu sejak tadi.
#AUTHOR’S note: Ada yang ga ngerti? Maklum... ini emang rada ga jelas... Jadi maksudnya tuh Daiki seneng gitu diliatin sama Yuuri
.
10. Four Seasons by Namie Amuro – Chinen Yuuri’s POV
Hal yang kusukai di musim semi adalah bunga sakura yang bermekaran.
Hal yang kusukai di musim panas adalah bermain di pantai sambil menikmati sinar matahari.
Hal yang kusukai di musim gugur adalah pemandangan yang bernuansa jingga.
Hal yang kusukai di musim dingin adalah salju yang bisa kupakai bermain.
Tapi dari keempat hal berbeda di tiap musim itu, yang paling kusukai adalah melewati keempat musim itu bersama Daichan.
#AUTHOR’S note: Perasaan Author atau emang mirip sama yang Weeeek?
.
.
.
OWARIga kieien wo, kanjiteta you and I...

18/07/12

Difference Between Fanservice and Real Action



.
.
Difference Between Fanservice and Real Action
A Hey! Say! JUMP fanfic—Fanservice memang hal yang biasa, namun bagaimanakah sebenarnya perasaan mereka tentang fanservice? Apalagi jika menyangkut orang yang mereka sayangi. OkaJima and YamaChii.
All Hey! Say! JUMP’s members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny’s Jimusho
Difference Between Fanservice and Real Action belongs to Mochiraito
WARNING! Contains: OkaJima and YamaChii , Sho-ai NOT yaoi, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL romance.
This fanfiction is based on REAL fanservices at JUMPing Tour 08-09 and Mochiraito’s IMAGINATION.
DON’T LIKE DON’T READ!
.
ENJOY!
.
.
.
Okamoto Keito and Nakajima Yuto’s story
“Kau tahu, apalah artinya sebuah fanservice jika dibandingkan dengan real action?”
“I AM A BOY!”
“Kuharap itu bukan fanservice.”
.
.
“Sousa kirei kirei kirei na hodo,”
Konser JUMPing Tour 08-09 masih terus berlanjut. Kali ini menampilkan Nakajima Yuto yang menyanyikan lagu solonya, Uruwashi no Badgirl, ditemani dengan iringan gitar yang dipetik sahabatnya, Okamoto Keito.
“Ikusen no toge wo kakushiteru yo...”
Suara merdu Yuto masih mengalun bersama alunan suara gitar Keito. Mereka berdua berjalan semakin dekat ke tengah panggung utama. Keito ikut menyanyikan baris-baris terakhir lagu itu meskipun tahu penonton tak akan mendengar suaranya tanpa kehadiran microphone. Ia amat menikmati penampilan ini dan ia menoleh ke arah sahabatnya, Yuto.
“Kimi wa,” ia sadar telunjuk Yuto mengarah padanya saat mengatakan dua kata itu. “Uruwashi no Bad Girl!”
Dan mereka berdua pun mengakhiri lagu itu.
.
(backstage)
Yuto sibuk mengelap keringat yang mengucur deras dari dahi dan lehernya. Keito pun melakukan hal yang sama namun kedua onyxnya tak bisa lepas dari teman segrupnya yang satu itu.
“Okamoto-san, douzo.” salah satu kru menawarkannya sebotol minuman
“Arigatou gozaimasu.” ia mengambil botol itu dan tanpa pikir panjang langsung menenggak isinya. Tatapannya tidak pernah terlepas dari sahabatnya, Yuto.
“Hoi Keito, kalau tidak cepat-cepat ganti baju nanti tidak sempat lho!”  seruan Yuto menyadarkan Keito dari lamunan singkatnya. Keito hanya diam menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu. “Dengar,” kata Yuto. Keito diam mendengarkan. Ah, tentu saja! Ini suara Yamada yang sedang menyanyikan bagian terakhir dari lagu solonya, Perfume. Dan ia tahu ia harus tampil lagi di lagu selanjutnya yang akan dibawakan Hey! Say! 7, sub-grup dari Hey! Say! JUMP.
Tanpa basa-basi lagi, Keito langsung mengambil baju yang sudah ditaruh di sebuah gantungan dan mengganti setelan jaket dan celana panjang putih-birunya denga sebuah kaus tanpa lengan berwarna hitam dan baju lain yang berwarna kuning-ungu.
.
Suara musik dan gemuruh suara penonton memenuhi pendengaran kesepuluh anggota Hey! Say! JUMP yang sedang menyanyikan lagu mereka yang berjudul Bouken Rider. Semangat masih tampak jelas di kesepuluh wajah tampan mereka, meskipun tak dapat diingkari begitu banyak tetesan peluh yang tampak. Semangat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi fans-fans mereka masih berkobar kuat dalam diri mereka.
“..Niji wo tobikoete iku yo!” Mereka menggerakan tangan kanan mereka dalam gerakan melingkar sambil menyanyikan kalimat itu. Senyum pun tak pernah mau lepas dari bibir mereka.
“Taiyou e, Let’s fly with sky rider!” Lompatan penuh semangat pun mengakhiri lagu itu.
Tak lama terdengarlah bagian intro dari single pertama grup Hey! Say! 7, Hey! Say! Penonton tak memalingkan wajah mereka barang sedetikpun dari panggung tempat kesepuluh anggota boyband yang sedang naik daun itu.
Pemuda terjangkung di Hey! Say! 7—Yuto, menatap pemuda termungil di Hey! Say! 7—Yuuri. Dan keduanya berjalan mendekat sambil merentangkan kedua tangan mereka seakan-akan meminta pelukan dari lawannya. Tubuh mereka semakin mendekat dan Yuto pun membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah member Hey! Say! JUMP yang lebih muda beberapa bulan darinya itu. Jeritan histeris penonton semakin membahana menatap adegan itu. Tapi kedua pemuda itu segera menjauhkan tubuh mereka dan tersenyum polos. Tentu saja itu hal yang biasa, namanya juga cuma fanservice. Tak ada satu pun yang menyadari dua pasang onyx yang tengah mencuri-curi pandang kepada dua orang itu. Kemudian mereka pun menyanyikan lagu Hey! Say! yang disambut meriah oleh para penonton.
.
2 hours later
Kesepuluh anggota Hey! Say! JUMP kini telah melepas kostum konser mereka dan menggantinya dengan pakaian biasa. Rencananya mereka akan makan-makan untuk merayakan suksesnya konser ini. Namun tampaknya mereka belum akan berangkat sebentar lagi, masing-masing masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri.
Keito terlihat sedang duduk di sebuah kursi dan tampaknya ia sedang sibuk dengan keitainya—atau tampaknya ia ingin terlihat sedang sibuk dengan keitainya. Ia hanya tidak ingin orang lain tahu bahwa ia memerhatikan seseorang sedari tadi. Tentu saja, sedari tadi sepasang onyxnya tak henti-hentinya mencuri-curi pandang ke arah sahabatnya, Yuto.
“Keito! Sedang kirim mail ya?” tanya anggota termuda Hey! Say! JUMP, Morimoto Ryutaro.
“Ah, apa? Eh iya...” Keito buru-buru berpura-pura mengetikkan sesuatu.
“Uso... Aku tahu kok dari tadi matamu melihat Yuto terus~” Ryutaro menusuk-nusuk pipi Keito, “Ya kan~?”
“Chigau!” pemuda yang lebih tua berusaha menepis telunjuk pemuda yang lebih muda.
“Hontou? Pipimu memerah looh...” serangan pemuda bermarga Morimoto itu semakin bertubi-tubi karena kali ini bukan hanya telunjuk tangan kanannya saja yang menyerang pipi Keito, tapi telunjuk kirinya kini ikut andil dalam penyerangan itu. “Tenang saja, aku tidak akan bilang siapa-siapa kok soal itu~”
“Urusai!” Keito masih berusaha menepis dua telunjuk milik Ryutaro.
“Hahahahahaha...” pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu pun tertawa melihat Keito yang sudah jelas terlihat salah tingkah dan malu-malu. Sayangnya baik Keito maupun Ryutaro tak ada yang menyadari sepasang onyx lain yang menatap mereka dan tak lama bibir pemilik kedua onyx itu mengembangkan senyum pahit.
.
“Minna, ikuzo!” seru Hikaru melemparkan tinjunya ke udara dengan penuh semangat.
“Yooo!” sahut beberapa anggota Hey! Say! JUMP tak kalah semangat dari anggota yang bergigi gingsul itu.
“Aku ke toilet dulu,” kata Yuto buru-buru sebelum berlari meninggalkan kesembilan orang anggota segrupnya yang lainnya.
Keito merapatkan mantelnya. Tangannya merogoh ke dalam saku mantel biru tuanya, mencoba mencari eksistensi benda padat berbentuk persegi panjang—keitainya. Tidak menemukan tanda-tanda keberadaan keitainya di saku kanan, Keito ganti merogoh saku kirinya. Namun tampaknya keitainya itu memang tidak berada di saku mantelnya.
“Keito, doushita?” tanya Daiki.
“Sepertinya keitaiku tertinggal di ruang ganti. Akan kuambil dulu.” dan pemuda bermarga Okamoto itu berlari kembali ke ruang ganti mereka.
.
Pintu ruang ganti Hey! Say! JUMP terbuka tanpa suara dengan mulus. Dengan sedikit terburu-buru, Keito masuk ke dalam dan ia sedikit kaget mendapati lampu ruangan itu masih menyala terang. Seingatnya orang terakhir yang keluar dari ruangan ini, Yuya, sudah mematikan lampunya. Ia mengangkat bahunya dan mulai mencari keitainya di meja-meja maupun kursi-kursi yang ada.
“Keito?” Sebuah suara yang memanggil namanya membuat pemuda bermarga Okamoto itu menoleh ke arah sumber suara. “Yuto?”
Sang pemilik nama melemparkan cengiran yang biasa terpampang di bibir tipisnya namun entah kenapa cengirannya itu tak tampak seperti biasanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku mencari keitaiku,” jawab Keito. “Kau sendiri?”
“Tidak ada,” jawab pemuda jangkung itu sekenanya. “Oh iya, keitaimu ada di dekat tasku di sana,” telunjuk Yuto mengarah pada sebuah tas berukuran sedang yang ditaruh di atas sebuah meja. Di sampingnya tergeletak keitai bercasing biru tua.
“Arigatou gozaimasu,” kata Keito singkat tanpa menatap lawan biacaranya. Jujur saja ia tak mampu menatap mata pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Ia yakin wajahnya akan memanas bila ia menatap wajah Yuto, terutama tatapan tajam milik pemuda itu. Ternyata Yuto pun melakukan hal yang sama, ia sama sekali tidak menatap pemuda yang merupakan sahabatnya itu. Ia hanya melempar pandang pada dinding ruangan tempat mereka berada.
Tangan kanan Keito sudah menggenggam knop pintu, siap memutarnya ketika suara Yuto kembali menghentikan langkahnya, “Kenapa kau tidak bersama Ryuu?”
Keito tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menggenggam knop pintu itu erat-erat. Ia kesal mendengar pertanyaan itu dilontarkan Yuto dengan nada yang begitu datar—ah tidak, itu bukan nada yang datar tapi nada yang dingin.
Pemuda yang lebih tua membalikkan tubuhnya, “Kenapa kau tidak bersama Chinen?” balasnya ketus
Yuto pun sama, tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menundukkan kepalanya dan menghela nafas keras-keras. “Kau marah melihat fanservice kami saat lagu Hey! Say! kan?”
Pemuda bermarga Okamoto itu memalingkan wajahnya, “Iie,” jawabnya.
“Uso,” pemuda yang lebih tinggi itu menghampiri lawan bicaranya lalu dengan perlahan melingkarkan kedua tangan pada pundak pemuda yang lebih tua darinya. “Kau tahu, apalah artinya sebuah fanservice jika dibandingkan dengan real action?” Keito tidak menjawab pertanyaan itu. Yuto menarik tubuh yang masih dalam pelukannya itu menjauhi pintu.
“Kau ingat kan saat kita berdua menyanyikan lagu Uruwashi no Bad Girl?” otak Keito dengan cepat memproses memorinya saat ia dan Yuto menyanyikan lagu itu. Ia masih ingat gemerlap lampu panggungnya, ia masih ingat gemuruh teriakan penonton, ia masih ingat suara merdu Yuto. Dan ia masih ingat telunjuk Yuto yang mengarah padanya.
“I AM A BOY!” dengan kesal Keito membalikkan tubuhnya dan mengarahkan jempolnya ke dadanya sendiri untuk memberi penekanan pada kalimat yang memang sengaja ia katakan menggunakan bahasa Inggris.
“Aku tahu kok...” Yuto mendaratkan sebuah ciuman singkat di dahi Keito, “Kalau begitu bagaimana kalau lagunya kuubah saja jadi, ‘Kakkoi no Bad Boy’? Apa kau suka?” sebuah cengiran iseng terkembang di bibir tipis Yuto.
“Baka,” gumam pemuda yang lebih tua.
“Biarpun baka, tapi kau tetap suka padaku kan?” Yuto semakin memperlebar cengirannya.
“Sejak kapan cara bicaramu jadi seperti playboy? Jangan bilang Takaki yang mengajarimu,” Keito menatap lawab bicaranya dengan kesal.
“Ne? Memang bukan kok...” jawab Yuto santai.
Kesunyian menyelusup di antara mereka berdua. Masing-masing hanya terdiam tanpa saling mempertemukan kedua pasang onyx mereka.
“Kau tahu, aku juga kesal.” Kata Yuto tiba-tiba. Keito menatap lawan bicaranya tanpa memberikan respon yang berarti dalam ekspresinya, “Aku kesal melihatmu selalu bersama dengan Ryuu. Rasanya kalau dengan Ryuu kau selalu bisa tertawa lepas dan bercanda dengan santai.”
“Apa menurutmu begitu?” Yuto menganggukkan kepalanya kuat-kuat, “Kau tahu kan, aku sudah menganggap Ryuu seperti adikku sendiri...”
“Tapi tetap saja aku kesal!”
Keito menundukkan kepalanya, “Memangnya kau pikir bagaimana perasaanku saat melihatmu bersama Chinen—atau bahkan Raiya?” tanya Keito dengan suara kecil.
Kali ini Yuto terdiam. Tapi kemudian sebuah senyuman lebar muncul di wajahnya dan ia pun mempererat pelukannya pada pemuda yang lebih pendek darinya itu. “Hehehe... Syukurlah... Berarti kita memang masih saling menyayangi ya?” Keito menatap lawan bicaranya dan tersenyum tipis, “Kau benar.”
“Ah, yang lain pasti sudah menunggu kita!” Keito berusaha melepaskan diri dari pelukan Yuto
“Kau benar.” Yuto melepaskan pelukannya dan mengambil tas yang masih ada di atas meja, “Ne, Kei-chan, kau tahu tidak?”
“Nani?”
“Aku senang saat kau memelukku di bagian JUMP Hyakushiki tadi. Apalagi saat kau seperti tidak mau melepaskan pelukanmu!” wajah Keito memerah mengingat apa yang ia lakukan saat konser tadi, “Kuharap itu bukan fanservice...” kata-kata Yuto kontan membuat wajah pemuda yang lebih pendek semakin memerah
“Urusai!”
Yah hal itu mengingatkan Keito tentang hubungannya dengan Yuto yang sudah tidak bisa disebut sebagai sahabat lagi.
.
“Pantas saja mereka berdua lama...” bisik Ryutaro sambil terkikik
“Sst... jangan keras-keras baka!” Hikaru menjitak kepala pemuda yang lebih muda darinya itu.
.
.
Yamada Ryosuke and Chinen Yuuri’s story
“Kalau begitu... apa kau membenciku?”
“Karena banyak sekali fanservice yang kau berikan di konser tadi.”
“Memangnya kapan kita jadian?”
.
.
Penonton berseru histeris melihat dua dari tiga member dengan tubuh terimut di Hey! Say! JUMP muncul dengan kostum Yankumi-sensei dari Gokusen—siapa lagi kalau bukan Arioka Daiki dan Chinen Yuuri. Kouta, Daiki, Yuya, maupun Yuuri memainkan sebuah drama singkat yang penuh humor berbau dorama yang dibintangi Yuya, Gokusen 3. Mereka mengucapkan dialog-dialog yang memang sudah mereka hafalkan sebelumnya dan melakukan aksi-aksi panggung yang memang sudah tertera dalam skenario.
Seruan-seruan penonton semakin menjadi ketika Yuuri menempatkan kedua tangannya pada kedua bahu Yuya dan berjinjit. Kemudian semakin memajukan wajahnya sendiri mendekati wajah pemuda yang lebih tua darinya. Tentu saja itu membuat mereka berdua terlihat seperti akan berciuman. Tapi tentunya itu tidak akan menjadi ciuman sungguhan—karena itu memang cuma skenario. Yuya langsung memalingkan wajahnya yang sudah dihiasi tawa sembari mendorong tubuh mungil Yuuri yang langsung ditangkap Daiki. Dan drama singkat itu pun berlanjut semakin meriah dengan kedatangan Hikaru yang memerankan karakter Kinpachi-sensei dan trio B.I. Shadow.
.
(backstage)
Ryosuke sedang sibuk memainkan sebuah topi berbentuk sapi yang akan ia pakai saat menyanyikan lagu selanjutnya. Ia mendengar dialog yang diucapkan teman-teman segrupnya di panggung juga teriakan histeris penonton. Tidak perlu melihat langsung pun, ia sudah tahu apa yang sedang terjadi di panggung. Tentu saja ia bahkan sudah hafal setiap gerakan yang akan dilakukan teman-temannya di panggung saat ini.
Pemuda bermarga Yamada itu mengeratkan genggamannya pada topi di tangannya saat mendengar teriakan histeris penonton. Ia memejamkan matanya sambil berusaha berkonsentrasi untuk tidak memikirkan apa yang sedang terjadi di panggung. Tapi itu sulit. “Tenang Ryosuke... Itu cuma skenario...” gumamnya pada dirinya sendiri
“Yama-chan, doushita?” sebuah tepukan ringan mendarat di pundak Ryosuke, ia kenal suara itu.
“Nandemonai. Mungkin hanya sedikit gugup.” ia menjawab pertanyaan itu sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal
“Uso. Mana mungkin kau gugup sampai segitunya,” sang penanya, Yuto, menunjuk topi malang yang jadi korban cengkraman Ryosuke
“Daijoubu dayo...” Ryosuke beranjak dari posisi duduknya dan langsung pergi meninggalkan Yuto yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
.
“Dareka no kotae janaku,”
Kalimat itu dinyanyikan dengan merdu oleh Ryosuke dan Yuya. Yuto dan Keito mengambil inisiatif dengan maju ke depan bersama dengan dua orang yang sedang bernyanyi itu. Yuto dengan tingkah childishnya menarik-narik lengan Yuya yang menanggapinya dengan senyuman. Sedangkan Keito dengan santai merangkul pundak Ryosuke yang langsung dibalas dengan rangkulan juga.
“karada de kanjitai...”
Lagu terus berlanjut hingga akhirnya kalimat terakhir pun meluncur mulus dari sepuluh mulut pemuda tampan yang tergabung dalam satu grup boyband itu. Ryosuke tersenyum lebar mengakhiri lagu itu dengan menunjukkan kedua tangannya yang berpose peace pada penonton yang masih sibuk berteriak histeris.
Musik pun berganti menjadi intro dari single pertama grup Hey! Say! 7. Yuto dan Yuuri berjalan mendekat sambil merentangkan tangan mereka seolah-olah akan berpelukan. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat, hingga akhirnya kedua tubuh mereka hanya berjarak beberapa inchi saja. Yuto pun sudah menunduk dan Yuuri sedikit mendongakkan wajahnya—yang otomatis membuat wajah mereka berdua semakin dekat. Kemudian keduanya segera saling mejauhkan diri dengan senyuman terpampang di wajah mereka.
“Kimi wa sono mama ga ichiban...” mereka berdua meredam jeritan-jeritan histeris fans mereka dengan satu kalimat yang melantun mulus, “Say!” Dan sekali lagi Hey! Say! JUMP pun menyihir para penonton untuk ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama lagu mereka yang ceria.
.
3 hours later
Kesepuluh pemuda tampan itu memang tinggal di satu rumah yang sama. Rumah itu tergolong cukup besar dan mewah. Tentunya dengan lima kamar tidur, tiga kamar mandi, ruang tengah yang nyaman, ruangan untuk menyimpan alat musik, dapur dan pantry yang keren, ruang makan yang besar, dan halaman rumah yang luas. Keterbatasan kamar tidur membuat mereka harus saling berbagi—satu kamar ditempati oleh dua orang.
Malam itu di kamar yang ditempati Ryosuke dan Yuya, pemuda yang bermarga Yamada itu sibuk mondar-mandir di depan tempat tidurnya. Yuya, yang sedang asyik mendengarkan lagu dari iPodnya pun akhirnya terusik juga dengan tingkah teman sekamarnya. “Yama-chan, daijoubu ka?”
Sang pemilik nama tak langsung merespon, ia terdiam dulu sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan pemuda yang lebih tua darinya itu, “E-eh, daijoubu desu...”
“Kalau begitu duduk dan diamlah. Kau membuatku pusing tahu!”
“Gomen ne...” Ryosuke pun mengikuti kata-kata teman sekamarnya dan mengambil tempat duduk di atas sebuah single sofa berwarna merah di kamar itu. Namun mengubah posisinya menjadi duduk tidaklah mengurangi kegelisahan yang terpancar di wajah pemuda berpipi chubby itu—dan tampaknya onyx Yuya melihat hal itu.
“Kau lapar ya?” tanya Yuya
Ryosuke menggeleng, “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Bukannya kita tadi baru makan yakiniku?”
“Satu; biasanya kau terlihat gelisah seperti itu kalau kau lapar, dua; bukannya porsi makanmu itu memang besar ya? Lihat saja pipimu!” Yuya mengakhiri jawabannya dengan sedikit tawa sambil menunjuk pipi Ryosuke
“Urusai! Aku sedang tidak lapar!” sergah Ryosuke dengan sedikit ketus sebelum ia bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kamar diiringi suara pintu terbanting cukup keras.
“Lah, kok malah dia yang marah?” gumam Yuya pada dirinya sendiri sebelum ia kembali menyibukkan diri dengan iPodnya.
.
Pemuda bermarga Yamada itu berjalan ke dapur untuk mengambil sebotol air dingin. Ia menenggak air dingin itu dan menghela nafas. Ia kembali memikirkan konser JUMP-ing Tour tadi. Otaknya terus memutar kejadian-kejadian yang paling tidak ingin diingatnya. Ah, kenapa Yuuri harus banyak memberi fanservice sih? keluhnya dalam hati.
“Yama-chan?” Ryosuke langsung membuka kedua kelopak matanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya
“Chii?”
“Kau belum tidur?” tanya Yuuri
“Kau bisa lihat sendiri, kan?” jawab Ryosuke dingin sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan
Yuuri hanya terdiam mendengar jawaban yang dilontarkan Ryosuke. Ia menatap onyx lawan bicaranya lekat-lekat. “Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku sejak tadi sore? Apa aku punya salah padamu?” tanya pemuda yang lebih pendek
“Iie,” jawab Ryosuke masih dengan nada yang dingin
“Kalau aku tidak punya kesalahan apapun padamu, kenapa kau terus bersikap dingin padaku—hanya padaku?” tanya pemuda bertubuh mungil itu lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ryosuke menggelengkan kepalanya ia sedikit panik melihat mata Yuuri yang berkaca-kaca, “A-aku... hanya...”
“Kalau begitu... apa kau membenciku?” bisik Yuuri memotong perkataan Ryosuke, setetes bulir air mata sudah mengalir di pipinya. Melihat itu, Ryosuke semakin kalang-kabut dan kata-kata yang hendak ia ucapkan pun seakan tertahan di tenggorokannya.
“Gomen ne...” pemuda yang lebih muda kembali berbisik, kali ini ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Sungai-sungai air mata sudah membentuk jalurnya sendiri di pipi pemuda bermarga Chinen itu.
Tanpa diduga, jari telunjuk Ryosuke kini sedang berusaha menghapus bulir-bulir air mata yang terus turun dari onyx Yuuri. “Sssh... Jangan menangis...” bisiknya lembut
Sayangnya tindakan yang dilakukan Ryosuke malah semakin memicu tangis Yuuri. Pemuda mungil itu semakin terisak sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menggosok kedua matanya yang masih mengeluarkan air mata. Ryosuke semakin panik. Ia takut tangis Yuuri terdengar oleh penghuni rumah yang lain. Jika mendengar suara tangis tentunya mereka akan penasaran dengan apa yang terjadi dan datang ke sini kan? Ryosuke tentunya tak ingin hal seperti itu terjadi. Apa yang akan ia katakan pada teman-temannya yang lain jika mereka menanyakan alasan Yuuri menangis?
Ryosuke hanya bisa memutar otaknyauntuk menghentikan tangis Yuuri yang semakin mengeras. Refleks, tangannya langsung mendekap erat pemuda yang lebih muda darinya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. “Ssssh... Sudah dong, jangan menangis lagi...”
Pemuda bermarga Chinen itu langsung  menenggelamkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata ke dada orang yang memeluknya. Sedangkan Ryosuke, ia membiarkan t-shirt biru muda yang sedang ia kenakan basah oleh air mata orang yang ada di pelukannya. Tangan Yuuri beberapa kali memukul dada Ryosuke, kemudian meremas t-shirt yang dikenakan pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya itu.
“Hiks... Yama-chan wa... hiks... hidoi...” gumam Yuuri di sela-sela tangisnya. Sayangnya gumaman itu masih terdengar oleh sang pemilik nama
“Doushite?” tanyanya tanpa melonggarkan pelukannya
Butuh waktu beberapa saat bagi Yuuri untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mencoba menghentikan tangisannya terlebih dahulu dan mengatur nafasnya. Pemuda bertubuh mungil itu mencoba melepaskan diri dari pelukan Ryosuke dan menatap onyx orang yang masih memeluknya.
“Kau memperlakukanku dengan dingin dan membenciku.” Ryosuke terlihat hendak mengatakan sesuatu, tetapi Yuuri memotongnya, “Lalu kau memperlakukanku dengan sangat lembut.” Kali ini Ryosuke hanya terdiam menatap pemuda mungil yang kini menundukkan kepalanya, “Kau membuatku sulit untuk melupakanmu, Yama-chan...”
Ryosuke mempererat pelukannya kembali, “Kalau begitu jangan lupakan aku,”
“Eh?”
“Aku tidak pernah membencimu kok,”
“Lalu kenapa...”
“Aku hanya kesal.” Kedua pemuda itu saling mengadu kedua pasang onyx mereka, “Karena banyak sekali fanservice yang kau berikan di konser tadi.”
“Kau... cemburu?” tanya Yuuri. Ryosuke tidak menjawabnya, ia hanya membuang muka. Namun Yuuri tahu apa maksudnya saat melihat rona kemerahan di wajah pemuda yang lebih tua darinya itu.
“Aku juga kok!” kata Yuuri tiba-tiba
“Maksudmu?”
“Aku juga cemburu sekali! Sepertinya kau senang dirangkul Keito saat menyanyikan lagu Bouken Rider.” Yuuri menusukkan jari telunjuknya ke dada Ryosuke
“Bukan begitu... Kami kan hanya teman saja. Lagi pula kalau aku memang senang, kau mau aku mati dicincang Yuto? Hahahahahaha...” Yuuri tersenyum menanggapi jawaban Ryosuke, “Jadi, kita tidak putus kan?”
“Memangnya kapan kita jadian?” tanya Yuuri dengan wajah polosnya
“Dasar kau inii!” Ryosuke mencubi kedua pipi Yuuri keras-keras
“Iya... iya... gomen... aku hanya bercanda...” kata pemuda bermarga Chinen itu sambil mencoba melepaskan cubitan maut kekasihnya, “Tentu saja kita tidak putus, baka!” Ryosuke tersenyum dan melepaskan cubitannya
“Pipiku sakit...” rajuk Yuuri sambil memegangi pipinya yang memerah akibat dicubit oleh Ryosuke
“Mana? Sini kuobati...” tanpa aba-aba Ryosuke langsung mendaratkan bibirnya di kedua pipi Yuuri, kontan tindakan itu semakin membuat kedua pipi pemuda itu memerah.
“Arigatou, Yama-chan...”
.
“Hee... ternyata begitu masalahnya... Berarti salahku juga dia kesal sendiri. Nanti aku harus minta maaf padanya.” gumam Yuya pada dirinya sendiri sebelum meninggalkan pintu dapur dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
THE END

10/12/11

Randomness (Yabu Kouta and Inoo Kei)

Chapter 2 dari serial Drabbles!
Sebenernya ini tuh justru yang pertama Author bikin, tapi belum jadi-jadi (gara-gara bingung di lagu ke-8). Setelah bingung cari ide kesana-kesini, akhirnya kumpulan drabbles ini beres juga...
Kali ini pairingnya bukan NakaOka lagi, tapi sekarang YabuNoo. Kenapa Author pilih YabuNoo? Karena lucu.
Buat ARIOKA NATSUKO-san… Gomenasai… kayanya requestmu baru bisa aku post buat chapter 3nya atau mungkin bikin fanfic baru lagi. Jadi sabar ya…
Oh iya, sistemnya masih sama kaya yang chapter 1, Author nge-shuffle playlist Author di keitai. Terus nge-play 10 lagu. Nah, 10 lagu inilah yang aku jadiin drabbles.
Saa, selamat membacaa~
.

.
Randomness (Yabu Kouta and Inoo Kei)
10 songs, 10 stories, 2 people; Yabu Kouta and Inoo Kei
Yabu Kouta and Inoo Kei belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho
All these songs belongs to their singers and composers
Randomness (Yabu Kouta and Inoo Kei)—these stupid drabbles belongs to Kagami Hikari
WARNING! Contains: 100% YabuNoo NOT Inoobu, BL NOT yaoi, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL romance.
.
ENJOY!
.

.
.
.
1. Chance to Change by Hey! Say! JUMP
Sosok Yabu Kouta selalu diidentikkan dengan 2 kata. Yaitu sempurna dan malas. Malas? Ya, pemuda bertubuh kurus yang sempurna itu memang terbilang sangat malas.
Tapi semuanya berubah ketika ia bertemu dengan Inoo Kei.
Ya, seorang Inoo Kei sudah memberikan perubahan bagi seorang Yabu Kouta.
#AUTHOR'S note: Hahaha lagu pertama pas banget lagunya Hey! Say! JUMP!
.
2. Time by Hey! Say! JUMP
Dulu, hanya ada tiga hal yang tak pernah absen dari otak Inoo Kei; belajar, piano, dan arsitektur. Tapi tiga hal itu dengan cepat berubah menjadi 4 setelah ia bertemu Yabu Kouta.
Setiap hari, setiap waktu, sang pianis tak pernah menghilangkan Yabu Kouta dari benaknya.
#AUTHOR'S note: Lagu pertama sama kedua pas banget lagunya Hey! Say! JUMP! Dan FYI—meskipun sangat ga penting—ini tuh salah satu lagu JUMP yang paling Author suka!
.
3. Omae Dattanda by Kishidan
"Aku tidak bisa tidur dulu," Kouta menggeleng
"Doushite? Katanya kau mengantuk, deshou?" tanya Kei
Kouta mengangguk, "Ada satu hal yang membuatku tidak bisa tidur dulu."
"Apa itu?" sang pianis kembali bertanya
"Kamu,"
#AUTHOR'S note: Numpang curhat nih, ini tuh sebenernya pengalaman pribadi! Oh iya, buat yang ga tau artinya Omae Dattanda, itu tuh artinya sama aja kaya "It's You"
.
4. Tobira no Mukou by Hey! Say! JUMP
"Ne, Inoochan, kau tahu?" tanya Kouta tiba-tiba
"Nani?" potong Kei cuek
"Aku tidak peduli menurut orang lain masa depan seburuk apa yang ada di hadapanku jika bersamamu." kedua pasang onyx saling bertumbukan, "Asalkan ada dirimu, pasti itu bukanlah masa depan yang buruk,"
#AUTHOR'S note: GAJE SANGAT! Kouta ngegombal! Jujur, aku bingung mau nulis apa. Tapi ini JUMP yang ketiga ya.. hahahaha
.
5. Fate: Rebirth by KAITO, Kamui Gakupo, Kagamine Len
Bagi sang pianis muda, dunianya hanyalah sebatas rumah megahnya dan sekolah. Ia sama sekali tak mengenal bagaimana dunia luar. Dia bahkan tak mengerti apa arti dari kata 'kebebasan'.
Tapi Kouta mengajarkannya apa yang disebut 'kebebasan' dan membawa Kei pergi ke dunia luar.
#AUTHOR'S note: Ga ngerti deh... Ga tau ah mau bilang apa lagi...
.
6. Red or Black by Uehara Takuya and Matsushita Yuya
"Mawar hitam artinya kau menolakku, mawar merah artinya kau menerimaku." Kouta menunjukkan dua tangkai mawar berbeda warna di tangannya, "Mana yang kau pilih?"
Tanpa ragu Kei mengambil mawar merah dari tangan kanan Kouta.
Senyum pun merekah di wajah kedua pemuda itu.
#AUTHOR'S note: Sumpah ga ada hubungannya sama lagunya! Begitu ke-play lagu ini, aku langsung ngebayangin Grell nari-nari sambil bawa-bawa mawar buat Sebastian... Oh iya, FYI, ini tuh lagunya Kuroshitsuji Musical yang dinyanyiin sama Grell (Uehara Takuya) sama Sebastian (Matsushita Yuya)
.
7. Velonica by Aqua Timez
Sosok sang pianis muda terdiam di kerumunan orang yang berlalu-lalang. Dimana kah sang pujaan hati? Matanya tak mengangkap bayangan sang pemuda kurus bermarga Yabu.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tiga jam.
Yabu Kouta belum juga datang. Tapi ia sudah berjanji, jadi Kei tidak akan beranjak dari tempatnya.
#AUTHOR'S note: Bingung setengah mampus deh! Bener-bener sama sekali ga nyambung sama lagunya. Kebayang adegan gini gara-gara inget video klipnya Velonica.
.
8. Here I Am by Bryan Adams
Kei menangis kala mengetahui ia gagal dalam ujian masuk universitas impiannya. Ia menampik semua tangan yang mencoba merangkulnya dan menghiburnya.
Tapi ia tidak bisa menolak Kouta ketika pemuda itu berkata, "Tenang, aku di sini untukmu..."
#AUTHOR'S note: Apa banget deh sumpah! Author sampai geli sendiri baca ini!
.
9. Music by Angela Aki
Yabu Kouta memiliki suara yang sangat indah.
Inoo Kei mampu memainkan piano dengan luar biasa.
Keduanya tak pernah saling mengenal. Tapi mereka dipertemukan oleh sesuatu yang bernama musik.
#AUTHOR'S note: Kepikir ini gara-gara liat Kei lagi main piano, terus Kouta yang nyanyi. Author sendiri ga tau judul lagunya, tapi Author suka lagunya!
.
10. Life by YUI
Kini ada satu hal yang dapat membuat Yabu Kouta merasa hidup.
Yaitu Inoo Kei
Dan ada satu hal yang dapat membuat Inoo Kei merasa hidup.
Yaitu Yabu Kouta.
#AUTHOR'S note: Terlalu singkat? Hahahahaha emang...
.
.
.
OWARIga kieien wo, kanjiteta you and I...

Gyaaa! Jangan aniaya Author karena sudah membuat kumpulan drabbles macam inii!
Serius deh, Author ngerjainnya mati-matian! Mulai dari cari ide sampai dari waktu buat ngerjainnya. Aduh, kok Author malah jadi curcol gini? *tampoled*
Ne, kalau ada yang mau request, silahkan bilang ya~
Jangan lupa reviewnya~

18/08/11

Pretty Girl(?) at Library

.
.
Pretty Girl(?) at Library
Tuntutan untuk mendapat nilai tinggi di Ujian Tengah Semester membuat Hikaru bertemu dan menyukai seorang gadis manis di perpustakaan. Setelah berkenalan, apa yang membuat Hikaru berhenti menyukai gadis itu?
Yaotome Hikaru and Inoo Kei belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny’s Jimusho
Pretty Girl(?) at Library belongs to Kagami Hikari
WARNING! Contains: hint of HikaNoo, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot and story.
DON’T LIKE DON’T READ!
.
ENJOY!
.
.
.
Ujian tengah semester akan diadakan sekitar tiga minggu lagi. Mungkin bagi siswa-siswi yang lain, waktu tiga minggu itu masih bisa dipakai bersantai. Tapi tidak bagiku—Yaotome Hikaru. Aku harus belajar keras bahkan mulai dari sekarang karena aku tidak mau mendengar omelan panjang ibuku tentang nilai lagi. Masalahnya, beberapa hari yang lalu saat ibuku mengetahui nilai matematikaku yang hanya mencapai angka 57, aku dimarahi habis-habisan. Rasanya sampai kedua telingaku ini panas mendengarnya. Makanya, aku berniat untuk mendapatkan nilai tinggi, setidaknya saat ujian tengah semester nanti.
Dengan sangat terpaksa kulangkahkan kedua kakiku menuju perpustakaan untuk mengerjakan beberapa soal matematika yang diberikan guruku. Sebenarnya hari ini aku benar-benar mengantuk. Tadi malam aku mengerjakan PR sejarah yang segunung sehingga tidur terlalu larut dan harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak tertinggal kereta. Alhasil aku tertidur di pelajaran matematika dan membuatku harus mengerjakan dua puluh soal ekstra untuk dikumpulkan besok.
Suasana perpustakaan yang sunyi langsung membangkitkan rasa kantuk yang sedari tadi kutahan. Aku menepuk-nepuk pipiku untuk mengusir rasa kantuk itu. Kemudian kukeluarkan buku PRku dan mulai membaca soal.
Baru saja aku selesai mengerjakan soal keempat, rasa kantuk itu kembali datang. Kucoba untuk kembali mengusirnya dengan menggeleng-gelengkan kepalaku. Tapi sia-sia, rasanya kelopak mataku terlalu berat. Hingga akhirnya aku pun menopangkan kepalaku ke kedua sikutku yang berada di atas meja lalu menutup kelopak mataku. Mungkin aku bisa tidur sekitar lima belas menit untuk menghilangkan rasa kantukku, setelah itu aku akan melanjutkan mengerjakan soal.
.
“Hei... bangun...” panggil seseorang
“Lima menit lagi...” gumamku
“Hei, ayo cepat bangun!” kurasakan tubuhku diguncang-guncang
“Kaa-san... lima menit lagi...” gumamku lagi. Hening sesaat. Kurasa aku bisa melanjutkan tidurku.
“Bangun baka! Perpustakaannya sudah mau tutup. Kalau kau tidak bangun, kau tidak akan bisa keluar dari sekolah sampai besok pagi!”
Aduuh... padahal aku kan masih ngantuk... Tunggu, dia bilang perpustakaan? Sekolah?
Aku langsung tersentak. Aku kan sedang mengerjakan PR matematika! Ya ampun!
“Hei cepat pergi! Aku akan mengunci perpustakaan ini,” kata suara yang sedari tadi mengganggu tidurku. Kulihat seorang gadis berkacamata yang sangat manis sedang melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapku dengan pandangan kesal. “Bisa-bisanya kau tidur nyenyak begitu! Ini perpustakaan tahu, bukan tempat untuk tidur!”
“E-eh? Gomen ne...” aku membereskan buku-bukuku yang berserakan di meja dan bangkit dari posisiku. Kulirik sekilas gadis yang masih berdiri di sampingku. Demi Kami-sama! Dia manis sekali! Meskipun rambutnya dipotong pendek, tapi sama sekali tak mengurangi kecantikan yang terpancar di wajahnya. Manik matanya yang menatapku dengan kesal sangat indah dan terlihat berkilau. Dan pipinya yang halus... Ya ampun... Apa yang kupikirkan? Aku pasti terlalu banyak belajar!
“Cepatlah...” katanya, masih dengan roman wajah yang menunjukkan kekesalan. Aku pun berdiri di sampingnya dan merapikan kursi yang tadi kududuki.
“Lain kali jangan tidur di perpustakaan. Menyebalkan tahu!” katanya lagi setelah membetulkan posisi kacamata half-framenya. Jika diperhatikan, ia memajukan bibirnya sedikit—sepertinya tanda bahwa ia kesal. Dan itu, menurutku, benar-benar imut!
“Hehehe gomenasai... Sebenarnya tadinya aku juga tidak berniat untuk tidur, tapi entah kenapa aku benar-benar merasa mengantuk.” aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal
“Terserah! Yang pasti sekarang cepat pergi!” gadis itu mendorongku sampai ke pintu perpustakaan.
Dengan gerakan cepat ia mengunci pintu perpustakaan. Aku yang berdiri di belakangnya sama sekali tidak mengalihkan pandanganku darinya. Bahkan dari belakang pun ia masih tampak manis dan anggun!
“Apa lihat-lihat?!” ternyata ia sudah berbalik dan kini menatapku dengan kesal
“Betsu ni...” aku menggeleng, “Oh iya, arigatou gozaimasu,” tatapan kesalnya sedikit melunak, “karena sudah membangunkanku!” aku tersenyum
“Douitashimashita,” balasnya
“Anoo, aku duluan,” aku membungkuk sebelum berjalan meninggalkannya.
.
“Hikaru! Kau kemana saja? Kaa-san bilang kan jangan pulang setelah jam 5! Lihat sekarang sudah jam berapa?!” jitakan Kaa-san langsung menyambutku yang baru saja memasuki apartemen kami berdua
“Hehehe gomenasai, Kaa-san... Tadi aku mengerjakan PR di perpustakaan tapi akhirnya malah ketiduran,” aku memberikan cengiranku
“Sudahlah, sekarang cepat kau mandi, lalu makan malam!”
“Hai,” aku mengangguk, lalu memasuki kamarku.
Kulemparkan tubuhku ke ranjang begitu pintu kamarku tertutup. Wajah gadis tadi masih terbayang dalam benakku. Ah, dia memang benar-benar cantik! Apa mungkin besok aku bisa menemuinya di perpustakaan lagi? Mungkin dia pengurus perpustakaan, makanya dia yang mengunci pintu perpustakaan. Yosh! Sudah kuputuskan mulai besok aku akan mencari tahu soal dia!
.
Seperti janjiku pada diriku sendiri kemarin malam, aku berjalan dengan santai menuju perpustakaan. Hari ini memang tidak ada PR yang harus kukerjakan. Tapi demi mencari tahu soal gadis itu aku rela pergi ke perpustakaan yang notabene bukanlah tempat yang kusukai.
Tepat seperti dugaanku. Gadis itu sedang duduk dengan sebuah novel tebal di pangkuannya. Ah, dia masih terlihat sangat cantik di mataku! Ya ampun... apa yang kupikirkan sih? Sejak kapan aku jadi suka gadis kutubuku? Seingatku dalam sejarah hidup seorang Yaotome Hikaru, belum pernah ada seorang kutubuku yang berhasil mencuri perhatianku. Gadis itu adalah yang pertama.
Tapi sepertinya meskipun dari wajahnya terlihat anggun, gadis itu cukup tomboy. Kenapa aku bisa tahu? Karena ia menggunakan seragam untuk siswa, bukan siswi. Di sekolahku ini memang sangat sering didapati siswi tomboy yang menggunakan seragam siswa demi kenyamanan mereka sendiri. Tapi meskipun tomboy, dia tetap sangat manis buatku.
Tanpa kusadari gadis yang sedari tadi kupandangi telah menatap balik padaku. “Apa lihat-lihat?” tanyanya ketus—persis seperti kemarin sore
“Betsu ni...” aku menggeleng sambil memamerkan cengiranku
Gadis itu ikut menggelengkan kepalanya, lalu kembali ke aktivitas membaca bukunya.
Ah, Kami-sama! Kenapa bisa ada makhluk secantik dia di dunia ini?!
.
Ini adalah hari keempat aku datang ke perpustakaan untuk mengamati gadis pujaanku. Mungkin ini terdengar sangat konyol, tapi ini memang kenyataannya; aku sudah menggilainya sejak empat hari yang lalu dan sampai saat ini aku sama sekali tidak mengetahui namanya. Bagi seseorang yang memiliki sifat seperti seorang Yaotome Hikaru, itu benar-benar aneh. Bahkan aku sendiri tidak mengerti kenapa rasanya seluruh kata-kata yang ingin kuucapkan menghilang begitu saja saat kami bertatapan.
Sudah kuputuskan! Hari ini aku akan mengajaknya berkenalan! Minimal aku harus tahu nama dan kelasnya dulu. Baru setelah itu aku bisa berkenalan dengannya lebih jauh.
Aku sedang duduk di salah satu bangku yang ada di perpustakaan sambil berpura-pura menulis di buku sejarahku yang terbuka. Padahal sebenarnya otakku sedang berputar mencari cara untuk berkenalan dengan gadis pujaanku itu. Sebenarnya aku bisa saja berjalan ke arahnya dan mengajaknya berkenalan langsung. Tapi entah kenapa rasanya aku tidak bisa melakukan hal itu. Seperti yang sudah kubilang tadi, seluruh kata-kata yang ada di otakku menghilang begitu saja saat kami bertatapan.
Kulirik gadis itu diam-diam. Dia terlihat sedang sibuk menulis sesuatu dalam sebuah notes. Kira-kira apa ya yang ia tulis?
“Ah! Arioka-kun!” panggilnya setengah berbisik, lalu dengan terburu-buru membereskan semua barang-barangnya dan berlari ke arah pintu perpustakaan
Kuikuti arah geraknya dan mendapati seorang pemuda bertubuh pendek sedang berdiri di depan pintu perpustakaan dengan senyum di wajahnya. Kemudian mereka berdua pun berjalan pergi.
Kuso! Coba saja tadi aku tidak terlalu banyak berpikir, mungkin saat ini dia masih akan ada di sini dan mengobrol denganku!
Dengan kesal kubereskan buku-buku dan alat tulisku dan beranjak dari bangku tempatku duduk. Tepat setelah aku menyampirkan ranselku dengan asal di bahu kiriku, sudut mata kananku menangkap bayangan sebuah benda tergeletak di lantai yang berkarpet.
Sebuah pulpen berwarna biru langit. Sebenarnya sederhana, tapi otakku langsung mengingat gambaran yang tertangkap oleh retinaku beberapa saat yang lalu. Tepatnya saat gadis pujaanku sedang sibuk menuliskan sesuatu pada bukunya. Ya! Pulpen ini pasti miliknya!
Tanpa kusadari sudut bibirku sudah tertarik, menciptakan senyuman di wajahku. Akhirnya, aku punya alasan untuk mengajaknya mengobrol!
Besok akan kukembalikan pulpen ini dan mengajaknya berkenalan!
.
Kedua onyxku menangkap bayangan gadis pujaanku yang tengah sibuk dengan sebuah novel di pangkuannya. Kali ini kami tidak bertemu di perpustakaan, melainkan di kantin. Sepertinya Kami-sama mendukung rencanaku untuk berkenalan dengan gadis pujaanku itu.
Dengan langkah mantap, kuhampiri gadis yang tampaknya sama sekali tidak menyentuh makan siangnya itu. Aku sudah berada tepat di samping kursi tempat ia duduk tapi tampaknya dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku.
“Sumimasen,” aku memulai percakapan
Dia menoleh padaku, “Ya?” gadis itu membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit merosot
“Kau ingat aku?” tanyaku sambil memamerkan cengiranku
“He?” gadis itu terlihat sedang berusaha mengingat-ingat wajahku. Lalu ia menggeleng.
Aku terkekeh, “Ini aku loh! Yang beberapa hari yang lalu kau tegur karena tertidur di perpustakaan sampai sore!”
Gadis pujaanku itu terdiam sesaat, “Ah! Iya, iya! Aku ingat!” ia mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat poninya ikut bergoyang-goyang, “Ada perlu apa denganku?”
“Ini,” kusodorkan pulpen biru langit yang kemarin kutemukan, “punyamu, deshou?”
“Ah! Pulpen kesayanganku!” tangannya segera mengambil pulpen yang ada di genggamanku, “Doumo arigatou gozaimashita!” dia langsung menjabat tanganku
“D-douitashimashita...” aku menggaruk belakang leherku yang sama sekali tidak gatal, “Oh iya, boleh aku tahu namamu?”
“Aku?” ia membetulkan letak kacamatanya, “Inoo Kei desu,” katanysa sambil tersenyum manis dan kurasakan wajahku memanas melihat senyumnya. Ah, Kami-sama! Rasanya aku bisa meleleh melihat senyumnya yang sangat manis!
“Wah, namamu bagus sekali!” kataku, “Ore wa Yaotome Hikaru desu! Onegaishimasu!”
“Arigatou gozaimasu, Yaotome-kun!” ia tidak menghapus senyuman yang terkembang di wajahnya
“Anoo, kalau begitu aku duluan ya!” aku membungkukkan badanku sebelum berjalan meninggalkannya. Sepertinya aku sudah selangkah lebih dekat dengan gadis pujaanku itu! Kami-sama, hontou arigatou gozaimasu!
.
Tepat seperti dugaanku, kami semakin sering mengobrol. Sekarang aku tahu bahwa letak kelasnya cukup jauh dari kelasku, selain itu dia suka mempelajari kosa kata Bahasa Inggris, dan aku juga tahu bahwa dia takut ketinggian. Sebaliknya, dia juga tahu berbagai macam hal tentangku.
“Ne, Inoo-chan, kau memang benar-benar pintar!” pujiku setelah Kei membantuku menyelesaikan beberapa soal fisika
“Hahaha kau terlalu memujiku Hikaru-kun! Ini kan memang soal yang tidak terlalu sulit...” bisa kulihat wajah Kei sedikit memerah mendengar pujianku
“Inoo-chan, hontou arigatou na! Kau sudah banyak membantuku dalam hal pelajaran!” aku tersenyum padanya
“Douitashimashita, Hikaru-kun! Aku senang kok bisa membantu!” ia membalas senyumanku
Keheningan menghampiri kami untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya aku memecahkan keheningan itu.
“Anoo... Inoo-chan, apa kau mau pulang bersamaku?” tanyaku
“He? Boleh!” ia mengangguk
Yoshaaaa! Dalam hati aku bersorak gembira. Rencananya aku ingin mengutarakan perasaanku padanya. Aduh, semoga nantinya aku tidak mengatakan atau melakukan hal-hal bodoh di hadapannya karena kegugupanku!
.
Kami berjalan beriringan sambil mengobrol. Kadang aku menyisipkan lelucon, agar aku bisa melihat tawanya yang benar-benar manis. Kadang ia juga menimpali leluconku dan akhirnya kami tertawa terbahak-bahak bersama.
“Ne, Inoo-chan,” aku membuka topik baru, “kau itu manis sekali ya!”
“E-eh?” dia menatapku dengan bingung
“Yah, meskipun kau itu termasuk tomboy, tapi kau tetap manis kok!” kataku, bisa kupastikan wajahku sudah cukup memerah sekarang!
“Apa maksudmu, Hikaru-kun?” wajahnya terlihat bingung, “Aku tomboy?”
Aku mengangguk, “Buktinya kau memakai seragam untuk siswa laki-laki!” aku menunjuk celana seragam yang ia kenakan
“Bukan... Itu bukan karena aku tomboy!” ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Tapi karena aku memang laki-laki!”
Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna kalimat terakhirnya.
APA?!!! DIA ADALAH LAKI-LAKI?!! ‘GADIS’ YANG SELAMA INI KUSUKAI ADALAH SEORANG LAKI-LAKI?! Rasanya ada beribu-ribu ton batu menindih kepalaku.
“Jangan-jangan kau salah mengira aku ini perempuan ya?” Ukh! Pertanyaannya benar-benar tepat sasaran! “Hahaha memang banyak yang salah mengira aku adalah perempuan. Habisnya banyak yang bilang wajahku ini manis seperti anak perempuan.” Bagaimana bisa ia mengatakan itu dengan ringan, bahkan sambil tertawa pula!
“Gomen ne, Hikaru-kun... Sepertinya aku sudah membuatmu patah hati ya?” Ukh! Lagi-lagi tepat sasaran!
“Hahaha daijoubu dayo, Inoo-chan...” aku berusaha menyembunyikan perasaanku yang campur aduk dengan tawa garing
“Hehe... Baguslah kalau begitu!” ia kembali tersenyum
.
.
.
OWARI
Gaje? Sangat... Apalagi di bagian ending...
Kasian ya Hikaru... Udah capek-capek mikirin cara buat kenalan sama ‘cewek’ yang dia suka. Eh ternyata ‘cewek’ itu tuh sebenernya ‘cowok’.
Mohon maaf kalau ceritanya ngawur dan aneh, apalagi kalau terlalu pendek dan ga bermutu. Biasa lah... namanya juga Kagami Hikari, kalau bikin fanfic suka ngasal dan akhirnya jadi ga jelas.

10/08/11

Randomness (Nakajima Yuto and Okamoto Keito)

Just some drabbles special for Nakajima Yuto’s Birthday!! Otanjoubi omedetou gozaimasu Yuto!! Plus sebenernya masih ada satu fic lagi.. Dan itu ada hint of NakaOkanyaaa~ *tampoled*
Ne, kenapa aku bikin NakaOka? Hahaha pengen aja sih... *jotosed* Soalnya ichibanku di Hey! Say! JUMP tuh Yuto. Tapi akhir-akhir ini jadi suka juga sama Keito. Terus beberapa kali liat di foto-foto (papapics atau foto resmi Johnny’s), kok kayanya Keitosering nempel sama Yuto? Hahahahahaha jadilah kumpulan drabbles ini...
Oh iya, sistemnya Author nge-shuffle playlist Author di keitai. Terus nge-play 10 lagu. Nah, 10 lagu inilah yang aku jadiin drabbles.
Saa, selamat membacaa~
OTANJOUBI OMEDETOU suami sayaNAKAJIMA YUTO!!^o^
.
.
Randomness (Nakajima Yuto and Okamoto Keito)
10 songs, 10 stories, 2 People; Nakajima Yuto and Okamoto Keito. A fanfic for Nakajima Yuto’s Birthday!
Nakajima Yuto and Okamoto Keitobelongs to Kami-sama, their parents, and Johnny’s Jimusho
All these songs belongs to their singers and composers
Randomness (Nakajima Yuto and Okamoto Keito)—these stupid drabbles belongs to Kagami Hikari
WARNING! Contains: 100% NakaOka NOTOkaJima, BL NOT yaoi, ABALness, GAJEness,OOCness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL romance.
DON’T LIKE DON’T READ!
OTANJOUBI OMEDETOU suami sayaNAKAJIMA YUTO!! ^o^
.
ENJOY!
.
.
.
.
1. Akikaze no Uta by Akeboshi – Nakajima Yuto’s POV
Musim gugur kali ini tidak bisa kulewatkan bersama dengan Keito karena dia sedang berada di Suffolk. Sungguh, aku benar-benar merindukannya.
Mataku tak sengaja mengangkap fotoku dan Keito yang kutaruh di bufet di kamarku. Dan itu malah membuatku semakin merindukannya! Terlebih langit musim gugur benar-benar mengingatkanku padanya.
Ah! Kenapa semua hal mengingatkanku padamu, Kei-chan?
#AUTHOR’S note: Eaa eaa Yuto menggalau gara-gara ditinggal Keito! Huahahaha sabar yaa
.
2. Tears and Smile by Yabu Kouta and Yaotome Hikaru
“Kei-chan, kenapa sih ekspresimu selalu datar begitu?” celetuk Yuto iseng
“Wajahku memang begini sejak lahir,” sahut Keito cuek, “memang kenapa?”
“Aku kan sekali-sekali ingin melihatmu menangis atau tersenyum!”
“Laki-laki itu tidak boleh menangis,” kata Keito
“Kalau begitu, bolehkah aku melihat senyummu?”
Hening sejenak. Sebelum akhirnya pemuda bermarga Okamoto itu tersenyum malu-malu.
#AUTHOR’S note: Hahaha Keito malu-malu?! Ga kebayaaang! OOC sangat!!
.
3. Kimi no Inai Basho de by Kagamine Len and Kagamine Rin – Okamoto Keito’s POV
“Kimi ni aitai yo,” kataku
“Hontou ka?” suara Yuto terdengar dari speaker keitaiku
“Un,” aku mengangguk
“Ne, Kei-chan, kau tahu neraka itu tempat seperti apa?” tanya Yuto. Jujur saja, itu pertanyaan yang aneh. Aku kan belum mati. Mana mungkin aku pernah melihat neraka?
“Tidak. Aku kan belum pernah ke sana!” jawabku
“Tapi aku tahu,” sahut Yuto cepat
“He?” kunaikkan sebelah alisku
“Menurutku neraka adalah tempat dimana tidak ada dirimu di sampingku...”
#AUTHOR’S note: Edaaan si Yuto ngegombal maaaak! Hahaha ternyata asik ya bikin Yuto lagi ngegombal! *tampoled*
.
4. Arigatou~Sekai no Doko ni Itemo~ by Hey! Say! JUMP
Sebuah boneka berbentuk Doraemon yang berukuran cukup besar kini berada dalam genggaman Keito. Tapi wajah pemuda itu menyiratkan sedikit kekesalan.
“Aku kan bukan anak kecil lagi!” katanya kesal
“Ne? Bukankah kau bilang kau suka Doraemon?” si pemberi hadiah, Yuto, balik bertanya
“Tapi kan itu waktu aku SD!” sanggah Keito
“Kupikir sampai sekarang pun kau masih menyukainya... Pensil mekanik dan pulpenmu saja gambarnya Doraemon!” kata Yuto dengan cengiran di wajahnya
Keito tertegun. ‘Tahu dari mana dia? Seingatku aku hanya pernah sekali mengeluarkan pensil mekanik dan pulpen itu di depannya. Dan itu sudah lama sekali...’
“Arigatou...” kata Keito akhirnya, “Karena sudah mengingatnya,”
#AUTHOR’S note: Wah ternyata ingatan Yuto tajam juga ya... Oh iya, Keito emang beneran suka Doraemon loh!
.
5. Reset by Ayaka Hirahara – Okamoto Keito’s POV
Rasanya ada banyak sekali hal yang ingin kuulangi dan kuperbaiki di masa lalu. Karena sepertinya banyak hal yang kulakukan dengan tidak maksimal. Kalau memikirkan hal itu, kadang aku bisa jadi sangat kesal.
Tapi ada satu hal yang sangat ingin kuulangi tapi tidak pernah ingin kuperbaiki; saat aku bertemu dengan Nakajima Yuto.
#AUTHOR’S note: Hahaha aduh Keitonya OOC giniiii!
.
6. Darkness Eyes by DBSK – Nakajima Yuto’s POV
Aku sangat senang menatap kedua kepingan iris onyx milik Keito. Mungkin warnanya sama dengan iris milikku, atau milik Yamachan, atau milik Chinen, dan yang lainnya.
Tapi entah kenapa rasanya aku selalu bisa melihat sesuatu yang spesial di dalam matanya. Sesuatu yang tidak pernah kutemukan dalam mata beriris onyx yang lainnya.
#AUTHOR’S note: Ah sudahlah... Author sendiri bingung mau komentar apa...
.
7. Uruwashiki Hito by Ikimono Gakari
“Kei-chan, tahu tidak sebutanku untuk Hikaru-kun?” tanya Yuto tiba-tiba
“Tidak,” Keito memberikan respon yang cuek
“Monomane Hito!” Yuto memberikan cengirannya dan hanya direspon dengan ‘oh’ singkat dari Keito
“Kei-chan, tahu tidak sebutanku untukmu?” tanya Yuto lagi
“Tidak,” sekali lagi respon yang cuek dari Keito
“Uruwashiki Hito!” jawab Yuto sambil merangkul pundak Keito
#AUTHOR’S note: Ga ngerti deh maksudnya apa! Dan soal ‘Monomane Hito’ itu sebenernya maksa 100%. Apalagi pas ‘Uruwashiki Hito’nya! Oh iya, bagi yang ga tau, Uruwashiki Hito bisa juga berarti ‘Beautiful Person’
.
8. Sen no Yoru wo Koete by Aqua Timez – Nakajima Yuto’s POV
Aku menutup kedua mataku, tak berani menatap kedua matanya. Tindakan yang sangat memalukan bagi seorang lelaki yang baru saja menyatakan perasaannya pada orang yang dicintainya, aku tahu. Tapi melihat wajahnya yang seperti itu, kurasa dia tidak mencintaiku... ‘Aisaretai, demo aisou to shinai...’
“Aishiteru mou,” katanya
Langsung kubuka kedua mataku. Kali ini aku menatap kedua matanya langsung.
“Hontou ka?” aku tersenyum, “Kukira kau tidak akan mengatakan itu, Keito!” Keito membalas senyumku
Mencintai dan dicintai adalah hal yang menyenangkan, ne?
#AUTHOR’S note: Gaje sangat, deshou? FYI—walaupun sebenernya ga penting—ini tuh salah satu lagu favoritenya Author looh! *curcol* Oh iya, ‘Aisaretai, demo aishou to shinai’ tuh bisa berarti ‘Aku ingin dicintai, tapi sepertinya kau tak mencintaiku’
.
9. Ultra Music Power by Hey! Say! JUMP
Jika lagu Hey! Say! JUMP favorit Okamoto Keito adalah Your Seed.
Maka lagu Hey! Say! JUMP favorit Nakajima Yuto adalah Ultra Music Power.
Jika Keito menyukai lagu Your Seed karena terdengar bersemangat dan memiliki arti yang bagus.
Maka Yuto menyukai lagu Ultra Music Power karena meskipun sebentar ia punya kesempatan untuk duduk dan bernyanyi di dekat Keito dalam video mereka.
#AUTHOR’S note: Sumpah bener-bener kehabisan ideee! Jangan salahkan Author kalau drabble yang ini kacau sangat.
.
10. Rakuen by Do As Infinity – Okamoto Keito’s POV
Jika orang bilang “Surga” itu adalah tempat dimana kita merasakan kebahagiaan. Artinya setiap hari aku mengunjungi “Surga”.
Karena menurutku setiap waktu yang kuhabiskan dengan Yuto selalu bisa membuatku sangat bahagia. Bukankah itu artinya setiap hari aku mengunjungi “Surga”?
#AUTHOR’S note: Singkat, ga padat, dan ga jelas, ne? Bagi yang ga tau, Rakuen itu artinya surga.
.
.
.
OWARIga kieien wo, kanjiteta you and I...
#(another) AUTHOR’s note: Mungkin ada yang nanya, kenapa Author nulisin ‘NakaOka’ bukannya ‘OkaJima’? Hmmm gimana ya, jawabnya... Ah sudahlah, bagi yang punya pertanyaan gitu, silahkan dipikir sendiri deh jawabannya! *bilangajamalesjawab-__-*
Dan kalau ada yang bingung gara-gara Yuto manggil Keito dengan panggilan ‘Kei-chan’, itu sebenernya terinspirasi dari Summary 2010. Waktu itu Daiki manggil Keito pake panggilan ‘Kei-chan’, makanya aku pikir kayanya lucu juga kalau Yuto juga manggil gitu.
Kalau ada yang punya request seputar HSJ (atau diluar HSJ juga boleh) silahkan bilaang... Mau bilang di review, ataupun nge-PM, (atau bahkan ngewall di FB, ngesms, atau bilang langsung).
Chotto matte...
Emangnya ada ya yang mau nge-request? Dasar Author narsis nan autis...
.
Ne, kalau gitu Author boleh minta reviewnya, deshou?