Tampilkan postingan dengan label genre: angst. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label genre: angst. Tampilkan semua postingan

10/08/11

5 Seconds

Odorou, odorou STEP funde
Sono egao hajiketeru
Keitai milik seorang pemuda yang tengah tertidur di atas ranjangnya yang empuk berdering cukup keras. Tapi tampaknya deringannya belum bisa membangunkan sang pemilik keitai itu. Pemuda berambut raven itu masih sibuk dengan mimpinya.
Kirari, Kirari kirakira kimi to
Mizushibuki wo agete
Pemuda itu tampaknya mulai menyadari suara deringan keitainya. Lalu dengan malas membuka kelopak matanya. Kedua tangan pemuda itu tidak langsung meraih keitai yang masih berdering, melainkan sibuk mengucek mata untuk mengusir kantuk yang masih terasa.
Sousa kagayaku—
Baru saja tangannya menyentuh keitai itu, deringannya berhenti. Kemudian pemuda itu menatap tulisan yang tertera di layar keitainya.
One Missed Call
Okamoto Keito
“Dasar... Dia itu suka sekali sih mengganggu orang...” gumam pemuda itu pada dirinya sendiri sebelum menyimpan keitainya di bufet kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Kemudian melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
.
5 Seconds
10 Agustus—dua hal besar terjadi pada Nakajima Yuto. ‘5 detik... Jika saja Kami-sama memberikanku 5 detik...  Aku hanya butuh 5 detik untuk mengubahnya...’ A fanfic for Nakajima Yuto’s Birthday!
All Hey! Say! JUMP’s membersbelongs to Kami-sama, their parents, and Johnny’s Jimusho
5 Seconds belongs to Kagami Hikari
WARNING! Contains: hint of NakaOkaNOT OkaJima , hint of BL NOT yaoi  but still it’s all about friendship, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL angst and tragedy.
DON’T LIKE DON’T READ!
OTANJOUBI OMEDETOU suami sayaNAKAJIMA YUTO! ^o^
.
ENJOY!
.
Odorou, odorou STEP funde
Sono egao hajiketeru
Baru saja pemuda itu akan mengembara ke dunia mimpinya lagi, keitainya berdering sekali lagi. Dengan kesal pemuda itu meraih keitainya dan membaca tulisan yang tertera di layar.
Okamoto Keito
Calling...
Pemuda yang masih setengah mengantuk itu berdecak kesal.
Kirari, kirari kirakira kimi—PIP
“Apa?” tanya pemuda itu kesal begitu menekan tombol Answer
“Yuto, kau pikir ini sudah jam berapa? Kita kan janjinya jam 10!” jawab suara baritone milik seorang pemuda bernama Okamoto Keito di seberang sana
“Janji apa?” sekali lagi pemuda bernama Yuto itu bertanya dengan suara yang mengantuk
Jeda sesaat, “Jangan bilang kau baru bangun tidur! Ini sudah jam 11!”
“Memang iya...” sahut Yuto sambil mengucek matanya, “Ada apa sih?”
“Hukumanmu, PR fisika 50 soal, dikumpulkan besok. Kau ingat? Kan kau sendiri yang minta bantuanku!” jawab Keito kesal
“Ah!!” seru Yuto. Dengan seketika rasa kantuk menghilang dari wajahnya, “Yabai! Aku memang belum mengerjakannya sama sekali! Bisa tunggu sebentar lagi? Aku akan cepat-cepat ke sana!” pemuda berambut raven itu berlari menuju kamar mandi dan mengambil sikat giginya.
“Dasar... Ya sudah, kalau tidak datang sampai setengah jam lagi, aku tidak akan membantumu!” ancam Keito
“Yokatta~” sahut Yuto sebelum memutuskan sambungan telepon dan menyikat giginya dengan terburu-buru.
.
Singkat cerita, pemuda bertubuh jangkung bernama Nakajima Yuto itu berlari tunggang-langgang seperti dikejar anjing rabies begitu ia keluar dari rumahnya. Sepotong roti dengan selai strawberry yang sudah setengah termakan berada di genggamannya. Dan sebuah ransel tersampir di bahu kanannya.
Kenapa ia begitu terburu-buru?
Jawabannya adalah karena ancaman sahabatnya itu. Ia tahu ia tidak bisa mengerjakan PRnya sendiri, makanya kemarin ia minta bantuan pada sahabatnya yang notabene murid terpintar di kelas mereka untuk mengajarinya di perpustakaan kota. Jadi kalau pemuda bermarga Okamoto itu tidak membantu, Yuto yakin pasti ia akan dihukum sangat berat oleh guru fisika mereka.
Untunglah perpustakaan itu tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Nakajima. Jadi Yuto hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mencapainya—jika dengan kecepatan berlarinya tadi yang sudah seperti dikejar anjing rabies.
Kedua onyx Yuto mencari-cari sosok sahabatnya di dalam perpustakaan itu. Dan ia menemukan pemuda bermarga Okamoto itu sedang asik dengan sebuah novel di tangannya.
“Keito!” sapa Yuto setengah berbisik
Onyx Keito yang semula terpaku pada deretan huruf-huruf di dalam novelnya kini menatap Yuto, lalu menatap jam tangannya sekilas, “Beruntung sekali. Lima menit lagi aku akan pergi,” katanya dengan ekspresi datar andalannya
“Gomen ne... Tadi malam aku menemukan lagu yang beatnya sangat bagus, jadi aku—“
“Bermain drum semalaman dan telat bangun?” potong Keito, “Khas kau sekali.” sindirnya
“Gomen ne, Keito...” pemuda bertubuh tinggi itu sedikit membungkuk sebelum duduk di samping sahabatnya, “Bagaimana kalau kita mulai mengerjakan PRnya?” Yuto mencoba mengganti topik pembicaraan
Keito menghela nafas lalu mengangguk, “Bagian mana yang tidak kau mengerti?”
Dengan cepat Yuto mengeluarkan bukunya dan menunjuk beberapa soal yang ada di sana. Kemudian mereka berdua pun sibuk berkutat dalam soal-soal fisika yang harus dikerjakan oleh Yuto.
.
“Pusing sekali....” keluh Yuto sambil memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya
“Sabar, tinggal tujuh soal lagi,” Keito memberi semangat—tapi tetap dengan ekspresi datarnya
Yuto terkikik, “Hei, kalimatmu yang tadi itu apa maksudnya?”
“He? Tentu saja memberi semangat!” jawab Keito
“Hahahahaha mana ada orang memberi semangat dengan wajah datar begitu?!” kata Yuto sambil menusuk-nusuk pipi Keito dengan jari telunjuknya
Gurat-gurat kekesalan muncul di wajah Keito, “Wajahku memang begini sejak lahir. Memang seharusnya bagaimana?”
“Smile!” Yuto menarik kedua sisi bibir Keito sehingga membentuk senyuman dengan kedua jari telunjuknya
“Urusai!” Keito menepis tangan Yuto dari wajahnya lalu mengalihkan tatapannya pada novel yang masih setia berada di pangkuannya, “Cepat kerjakan soalnya!” Pemuda bermarga Nakajima itu kembali menatap buku PRnya dan mulai mengerjakannya sambil menahan tawa.
.
Dua orang pemuda berambut raven tengah berjalan keluar dari perpustakaan dengan santai. Pemuda yang lebih tinggi, Yuto, tak berhenti menyunggingkan senyum. Sedangkan pemuda yang berwajah tanpa ekspresi, Keito, sedang sibuk dengan keitainya.
“Keito, hontou arigatou na~” Yuto memeluk pundak sahabatnya
“Douitashimashita,” sahut Keito, “Sudah kubilang kan, kalau mau berusaha pasti bisa selesai!”
“Un! Kau memang sahabatku yang paling pintar!” puji Yuto
“Hanya ‘pintar’?” tanya Keito dengan ekspresi datarnya
“Ne? Baiklah... Kau memang sahabatku yang paling pintar, paling baik, paling sabar, paling ganteng, dan paling macho! Hahahaha puas?” canda Yuto
“Hahahahaha...” Keito tertawa mendengar candaan sahabat baiknya itu
“Tapi tetap saja, meskipun kau ini memang pintar, baik, dan sabar. Buat urusan ganteng dan macho tetap aku rajanya!” tambah Yuto. Dan tawa mereka pun meledak.
.
Keesokan harinya, Keito sedang menatap kalender yang terpampang di layar keitainya. 9 Agustus. Besok adalah tanggal 10 Agustus, tanggal yang spesial bagi sahabat baiknya, Nakajima Yuto. Ya, besok adalah hari ulang tahun Yuto. Pemuda bermarga Okamoto dan beberapa temannya yang lain telah menyiapkan sebuah pesta kejutan bagi Yuto. Pestanya mungkin hanya akan jadi pesta yang sederhana, tapi akan jadi momen yang berharga karena dihadiri oleh sahabat-sahabat Yuto serta keluarganya.
Pemuda bermarga Okamoto itu menopangkan dagunya pada tangan kanannya. Kedua onyx milik pemuda itu ia arahkan pada langit malam yang cerah penuh dengan bintang. Ia sedang sibuk mengulang rencana pesta kejutan yang ia buat sendiri untuk sang sahabat dalam benaknya.
Akiramenai kimi ga ireba
Keitai Keito berdering. Sebuah nama terpampang di layar.
Morimoto Shintaro
Calling
Donna toki mo—PIP
“Moshi-moshi Shintaro, doushita?”
“Keito-nii! Ini aku! Ryutaro! Aku pinjam keitainya Shintaro, soalnya keitaiku low bat dan aku lupa dimana menaruh chargernya!”
“Ooh ternyata kau Ryuu... Bagaimana persiapannya?” tanya Keito
“Semuanya sudah hampir sempurna! Hanya tinggal membuat kuenya besok! Keito-nii bisa jamin Yuto akan sampai setelah kuenya matang?” tanya Ryutaro pada kakak kelasnya
“Tentu,” Keito mengangguk
“Yokatta... semoga dia senang dengan kejutan yang kita buat, ne?”
“Un,” sekali lagi Keito mengangguk
“Ano, sudah dulu ya Keito-nii! Shintaro sudah mulai ngomel-ngomel nih... Mata ashita! Jaa!”
Dan sambungan pun terputus.
Keito tersenyum membayangkan pesta kejutan bagi sahabatnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat momen yang indah bagi sahabatnya. Yah, hitung-hitung balas budi. Karena saat tanggal 1 April lalu, saat ulang tahunnya, Yuto membuat pesta kejutan yang benar-benar ramai untuknya. Ia bahkan memberikan sebuah novel yang sudah lama ingin dibeli oleh Keito sebagai hadiah ulang tahun.
Pandangannya ia jatuhkan pada sebuah benda yang terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna jingga, warna kesukaan sahabatnya. Tentu saja itu adalah kado yang sudah disiapkan Keito untuk Yuto. Isinya? Sebuah topi. Keito tahu sahabatnya yang satu itu sangat suka mengoleksi topi dan Keito ingat saat itu sahabatnya ingin membeli topi itu, tapi tidak jadi karena uangnya kurang.
Drrt drrt
Keitai Keito bergetar beberapa kali, menandakan ada mail masuk.
From: Yamada Ryosuke
Subject: Untuk besok
Keito, konbanwa! Hanya ingin bilang, aku akan menggantikan Chii untuk membantu bibi membuat kue tartnya besok. Bagaimana persiapan yang lainnya? Sudah beres?
.
To: Yamada Ryosuke
Subject: Oke
Yamachan, konbanwa. Baguslah, arigatou na. Tapi ingat, jangan habiskan strawberrynya!
Persiapannya tentu saja sudah beres.
.
From: Yamada Ryosuke
Subject: ^o^
Hahaha kuusahakan deh!
Yeey! Aku tidak sabar untuk melihat muka terkejutnya Yuto besok! ^o^ Semoga semuanya berjalan lancar, ne?
.
“Ya, Semoga besok semuanya berjalan lancar...” gumam Keito sebelum memutuskan untuk tidur.
.
Keesokan harinya saat jam pulang sekolah, Yuto tengah asik membaca komik pinjamannya.
“Yuto, tolong gantikan aku menulis buku piketnya. Aku ada rapat koordinasi dengan anggota OSIS yang lain. Hanya sebentar kok!” Keito menyerahkan sebuah buku bersampul hijau tua pada sahabatnya yang sedang sibuk membaca komik di bangkunya
“Ne? Malas... Lagi pula petugas piket kan ada dua setiap harinya, kenapa tidak minta petugas piket yang satunya?” jawab Yuto malas tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang ia baca
“Karena Yamachan tidak masuk, baka!” jawab Keito kesal
“Lalu kenapa harus aku?” tanya Yuto, kali ini ia menatap Keito
“Hitung-hitung balas budi. Aku kan sudah menunggumu selama satu jam dua puluh lima menit dan membantumu mengerjakan PR.” kata Keito
“Haaah... Dasar kau ini... Baiklah. Asal tidak lama!” akhirnya Yuto menyetujui permintaan sahabatnya dan membuka buku piket yang tadi diberikan Keito
“Yuto, arigatou gozaimasu!” kata pemuda bermarga Okamoto itu sebelum keluar dari kelas
.
From: Yamada Ryosuke
Subject: Keitoooo!
Keitooo tartnya sudah jadi dan persiapan sudah beres! Kalian akan ke sini sebentar lagi kaan?
-Chii
NB: aku pinjam keitainya Yamachan tanpa bilang-bilang! Jadi balasnya cepat ya, aku tidak mau ketahuan sama Yamachan! :P
.
To: Yamada Ryosuke
Subject: Yosh
Hahaha dasar kau ini...
Sudah beres? Baiklah, kami akan ke sana sebentar lagi.
.
From: Yamada Ryosuke
Subject: Yatta~
Cepat ya! Nanti makanannya dingin dan jadi tidak enak! :D
.
Keito tersenyum membaca mail dari salah satu sahabatnya, Chinen Yuuri. Ia pun mempercepat langkahnya untuk mencapai kelas.
.
“Kau ini lama sekali sih?” keluh Yuto setelah melihat Keito masuk ke kelas
“Tadi itu cuma sebentar kok. 30 menit saja tidak sampai.” sahut Keito cuek, seperti biasa
“Terserah kau saja deh...” Yuto mengalah. Ia tahu ia hanya akan kesal sendiri kalau terus melanjutkan perdebatannya dengan sahabatnya yang satu ini. Dan mereka berdua pun berjalan keluar dari kelas mereka.
.
Yuto merasakan jantungnya berdegup kecang. Entah kenapa ia merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Entah pada dirinya, keluarganya, temannya, atau kenalannya. Yang pasti firasat buruk itu sudah menghantuinya sejak tadi pagi. Tapi ia mencoba untuk tidak memikirkan firasat itu. Sampai beberapa menit yang lalu, usahanya memang berhasil. Sayangnya entah mengapa jantungnya semakin berdegup kencang seiring dengan langkahnya yang menjauhi gerbang sekolah.
“Yuto, doushita? Tumben sekali kau melamun,” pertanyaan Keito membuyarkan lamunan pemuda jangkung itu
“Ne? Nandemonai...” jawab Yuto setengah menerawang, “Hanya punya firasat buruk,” gumamnya. Sayangnya pemuda yang berjalan di sampingnya tidak mendengar gumaman sulung Nakajima itu. Jadi ia hanya menanggapi jawaban temannya dengan mengangkat bahunya bersamaan.
Mereka berdua berjalan menyeberangi zebra cross dalam diam—Keito yang memang sifatnya pendiam dan Yuto yang masih sibuk dengan usahanya untuk tidak menghiraukan firasat buruknya. Tanpa disadari, lamunan Yuto membuatnya memperlambat langkahnya, membuatnya tertinggal beberapa langkah dari sahabatnya. Sayangnya Keito sama sekali tidak menyadari hal itu karena saat itu cukup banyak orang yang menyebrang bersama mereka.
Keito menoleh ketika sudah menginjak trotoar lagi, “Yuto—“ pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya ketika tidak melihat sosok pemuda bertubuh tinggi kurus di sampingnya. “Yuto?” onyx Keito mencari-cari sosok sahabatnya.
Tak terlalu sulit menemukan Yuto yang notabene bertubuh cukup tinggi dan masih memakai seragam SMA mereka. Pemuda bertubuh tinggi itu menghentikan langkahnya tepat di tengah zebra cross dengan tatapan kosong, entah apa yang ia lakukan. Hal itu membuat Keito cukup panik saat ia sadar bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
“Yuto! Nakajima Yuto!!” panggil Keito sekeras mungkin
Tampaknya itu berhasil, Yuto tersadar dari lamunannya dan menatap Keito. Tapi tampaknya sulung Nakajima itu belum sepenuhnya sadar dari lamunanya.
“Cepat kemari, baka!” seru Keito
Yuto terlihat sedikit bingung sebelum mengambil satu langkah maju. Sayangnya ia sama sekali tidak sadar suara klakson mobil yang sedang melaju meraung-raung. Keito yang menyadari hal itu langsung saja maju untuk menyelamatkan sahabatnya.
BRAAAKKK
DUAAAK
Kejadiannya begitu cepat, hanya selang beberapa detik setelah Keito melangkahkan kakinya ke arah sang sahabat. Bahkan tak semua entitas yang berada di sekitar tempat kejadian menyadari apa yang baru saja terjadi. Yang mereka tahu hanyalah sesosok tubuh pemuda yang memakai seragam SMA sedang terbaring di aspal dengan bersimbah darah.
Butuh waktu beberapa detik bagi Keito untuk sadar dari shocknya dan menyadari segalanya. Kedua onyx pemuda berambut raven itu terbelalak seketika ketika ia melihat darah yang tercecer di jalan adalah milik sahabatnya, “Yutoooooooo!!” panggilnya sambil berlari ke arah sang pemilik nama yang tidak sadarkan diri. Ia mengguncang-guncang bahu sahabatnya. “Yuto! Jangan mati!” serunya pada sosok yang bahkan sepertinya tidak mendengarnya.
“Ambulans! Tolong panggil ambulans!” seru Keito pada kerumunan orang yang mulai berkumpul di sekeliling mereka. Tampak seorang lelaki paruh baya langsung mengambil keitainya untuk memanggil ambulans.
Pemuda bermarga Okamoto itu menatap sungai darah yang bermula di kening Yuto dan beberapa luka menganga yang terus mengucurkan darah dengan tatapan ngeri. “Yutoo! Nakajima Yuto!! Bangun, baka!” Keito kembali berseru
Ia segera menghela nafas lega begitu melihat kedua kelopak mata sahabatnya terbuka dengan perlahan, “Kei...to...?” gumam Yuto dengan suara yang sangat lemah
“Ya, ini aku!” sang pemilik nama mengangguk cepat, “Kau harus bertahan! Bersabarlah sebentar, ambulans akan segera datang!”
“Ku...rasa... su...dah... wak...tunya...” bisik Yuto terputus-putus
“Tidak! Kau harus pulang! Kami sudah menyiapkan pesta ulang tahun dan hadiah untukmu!” bulir-bulir air mata mulai terbentuk di kedua mata Keito
“Sou... desu... ka? Hon...tou... a...ri...ga...tou... na.... Keito...” Yuto tersenyum sebelum akhirnya menutup kembali kedua kelopak matanya.
Nakajima Yuto telah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Yuto? Yuto!!! Yuto! Jangan matii!” air mata sudah membuat jalurnya sendiri menuruni pipi Keito, “Yutoo!” pemuda itu sekali lagi mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya yang telah tiada. “Yutoo!” ia pun memeluk tubuh sahabatnya erat-erat.
Bisikan-bisikan iba mulai terdengar di kerumunan orang yang mengelilingi dua pemuda itu. Biasanya Keito akan merasa risih jika banyak orang mengerumuninya—apalagi sampai membicarakan dirinya tepat di hadapannya. Tapi kali ini ia tak ambil pusing soal itu. Yang ia pedulikan hanya satu, sosok yang kini tengah terbaring tak bernyawa di dalam pelukannya.
.
Suasana duka menyelimuti kediaman Nakajima. Setiap orang yang keluar maupun masuk rumah itu pasti menggunakan pakaian hitam tanda duka. Tentu saja mereka berduka atas kematian sang sulung Nakajima yang datang begitu tiba-tiba.
Rasanya kabar akan kematian Yuto sudah melunturkan seluruh warna-warni kebahagiaan yang semula ada di rumahnya, menggantinya dengan warna kesedihan. Pesta ulang tahun yang meriah kini tak bisa terlaksana. Kue tart yang sudah dibuat kini hanya teronggok begitu saja di meja makan beserta beberapa makanan kesukaan sang sulung Nakajima. Hadiah-hadiah ulang tahun yang sudah dipersiapkan kini tak akan pernah dibuka oleh pemuda yang berulang tahun. Dekorasi yang meriah pun kini hanya membuat pilu di hati saat menatapnya.
Sungguh ironi bagi setiap orang yang mengenal Nakajima Yuto. Di tanggal 10 Agustus, hari di mana seharusnya ia merayakan ulang tahunnya, Kami-sama malah mengambil nyawanya. Bahkan pesta ulang tahun yang sudah dipersiapkan pun berubah menjadi pemakaman.
Satu per satu sahabat-sahabat Yuto bangkit dari posisi duduk mereka dan berjalan ke sisi ruangan. Tak ada ekspresi lain yang tampak di wajah-wajah muda mereka selain duka yang mendalam.
Onyx Keito menangkap bayangan Nyonya Nakajima, ibu dari sahabatnya. Ia pun berjalan menghampiri wanita paruh baya itu. “Oba-san,”
“Ah, Keito...” wanita itu menoleh sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan
“Gomenasai...” Keito membungkuk dalam-dalam di hadapan wanita itu
“Doushita?”
“Kalau saja aku sadar lebih cepat... Pasti tidak akan kubiarkan Yuto menghentikan langkahnya di tengah zebra cross.” jawab Keito
“Tidak, ini bukan salahmu, Keito. Aku tahu kau pasti bermaksud untuk menolong Yuto,” wanita itu tersenyum, berusaha tampak tegar. Namun Keito masih dapat melihat tatapannya yang sendu dan mendengar kegetiran dalam suaranya.
“Tapi aku—“
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kami tidak menyalahkanmu, tidak akan pernah. Mungkin ini memang takdir yang sudah ditentukan Kami-sama bagi kami.” Nyonya Nakajima memotong kata-kata Keito, “Kau sudah banyak membantu Yuto. Aku benar-benar berterimakasih padamu, Keito.” Keito hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat terakhir ibu dari sahabatnya.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Nyonya Nakajima, Keito mengangguk.
Ia menatap foto Yuto yang diletakkan di altar. Pemuda bertubuh jangkung itu tengah tersenyum lebar di dalam foto itu. Tapi senyum itu malah membuat perasaan bersalah yang hinggap di dada Keito semakin besar. Ia tundukkan kepalanya, tak berani menatap foto itu.
‘Gomenasai Yuto... 5 detik... Jika saja Kami-sama memberikanku 5 detik... Aku hanya butuh 5 detik untuk mengubah ini...’ Dan setitik air mata mengalir di pipi Keito.
“Ini memang takdirku, aku tahu. Hontou arigatou na, Keito...”
“Yuto?!” pemuda berambut raven itu menatap foto sahabatnya
“Sayonara...”
.
.
.
.
THE END
Endingnya ga jelas? Aneh? Emang iya...
Sebenernya aku agak bingung mau gimana bikin endingnya. Ya terus aku ketik aja ide-ide yang kelewatan di kepala. Dan begitu sadar, ternyata jadinya kaya gini. Tadinya pengen diganti, tapi sudahlah... Nasi sudah menjadi bubur... *tampoled*
Aku sedikit ragu juga sih sama fic ini. Soalnya begitu dibaca ulang, kok kesannya ga kaya ‘Friendship’ dan malah kaya ‘Romance’ ya? Tapi sumpah deh, ga ada niatan bikin Romance... Niatnya cuma bikin Angst/Friendship doang...
Eh iya, soal Ryutaro yang manggil Keito dengan sebutan ‘Keito-nii’ itu Cuma gara-gara Ryutaro udah nganggap Keito kaya kakak sendiri gitu.
.
Si Author sarap ya? Orang ultah malah dibikin meninggal ditabrak mobil. Kasian banget.. Dan Author beneran nangis waktu ngetik deskrip waktu Yuto ketabrak sampai akhirnya meninggal. Soalnya ga tegaaa T^T *curcol #gaploked*
Ah sudahlah, daripada si Author tambah sakaw, mendingan sekarang Author minta reviewnya. Ya ya ya?

15/11/10

Little Secret

.
LITTLE SECRET
Presented by: Murasaki Sakura
.
Summary: Empat hal—seorang pemuda, seorang anak kecil, kematian, dan setelah kematian—, empat perasaan—iri, kagum, bersalah, dan bahagia—, dan satu orang. Summary macam apa ini?!!
Disclaimer: Persona 3 tetep punya ATLUS kok
.
.
SILVER FIST
Hei,
apa kau tahu?
Sebenarnya aku sangat iri padamu.
Kau begitu hebat, begitu percaya diri, dan begitu kuat.
.
Jika dibandingkan denganku?
Hahahaha malah hanya akan membuatku bertanya,
Sebenarnya untuk siapa kugunakan kekuatanku?
.
Hei,
apa kau tahu?
Aku pun sangat mengagumimu.
Kurasa, bila kau tahu siapa sebenarnya aku,
maka kau hanya akan tertawa dan meninggalkanku.
.
Karena itulah aku selalu mengenakan topeng ini dihadapan semua orang
Karena untuk melindungi diriku yang lemah dengan sebuah kebohongan
.
Hei,
apa kau tahu?
Meskipun aku iri sekaligus kagum padamu,
aku selalu senang menjadi sahabatmu
.
BROWN LITTLE BOY
Mata anak itu selalu mengingatkanku pada hal yang paling tak ingin kuingat.
Ya, kebodohanku sendiri.
Membuatku mengingat betapa lemahnya diriku.
Dan aku sangat membenci itu
.
Meskipun perasaan bersalah selalu menggerogoti hatiku,
Aku sama sekali tidak bisa mengatakannya padamu karena diriku yang seorang pengecut
.
Meskipun hanya satu kata,
tapi mengapa begitu sulit?
.
Hari itu,
Sudah kuputuskan bahwa aku harus mengakhiri perasaan ini.
Akan kubiarkan kau membunuhku.
Karena aku tahu, hanya hal itulah yang dapat membuatmu tenang.
.
Maafkan aku
.
LAST FULLMOON
Angin malam yang begitu menusuk,
Hawa membunuh yang begitu mencekam,
Sinar rembulan yang begitu hampa,
Tak membuatku mengurungkan niatku.
.
Aku tahu,
Hari ini adalah hari pembalasan bagimu padaku.
Dan aku menerimanya.
Karena aku tahu, aku memang bersalah padamu.
.
Tapi, takdir berkata lain.
Ternyata nasibku bukanlah mati di tanganmu,
Tapi mati di tangan lelaki itu.
.
Takdirku bukanlah mati karena ketajaman tombakmu,
Tapi karena pelurunya yang begitu cepat menembus diriku.
.
Tapi, pada akhirnya aku bisa lega.
Karena satu-satunya hal yang bisa menebus dosaku telah tercapai,
.
Ya, kematianku.
.
FOREVER
Putih.
Yang kuingat adalah putih.
Karena semua menjadi putih di pandanganku saat itu.
.
Seruan-seruan yang begitu kukenal terus memanggilku di kejauhan.
Rasanya ingin kujawab seruan mereka,
kugapai tangan-tangan mereka,
kuhampiri mereka.
.
Tapi kurasa mustahil.
Karena saat ini, aku sudah mati.
.
Entah sudah berapa lama aku memandangi kalian semua dari sini
.
Saat kalian menangis untukku,
saat kalian berjuang melawan shadow,
saat kalian bahagia akan kemenangan,
.
Ah, senandainya aku bisa bersama kalian lagi…
Seandainya aku bisa tetap bersama kalian…
.
Satu hal yang ingin kuucapkan,
Terimakasih teman-teman,
Aku tahu kalian tidak akan melupakan aku
Dan aku pun tidak akan melupakan kalian

Selamanya…
.
.
WAKS!! APA-APAAN INIII?!!! GYAAAAAAAAAAH!!
Gomen ne… Otak Saku lagi error nih gara-gara makan ramen yang pedesnya setengah mati… Makanya jadi bisa bikin yang beginian.
Eh ada yang bisa ngerti maksud dari fic ini? Kalau ada, hebat. Soalnya Saku sendiri agak ga ngerti. -__-

04/06/10

Maiko's Story (oneshot)

Summary: 9 tahun setelah cerita P3. Semua orang memliki jalan hidup yang harus ditempuhnya masing-masing, begitu pula kau dan aku. The story about The Girl at The Shrine, Maiko, the Hangedman Arcana.


9 tahun berlalu setelah aku bertemu dengannya dan juga berpisah dengannya
Sejak saat itu hidupku berubah
2 tahun berlalu setelah kepulanganku ke sini
Dimanakah dirimu,
Minato-san?


Halo semuanya! Namaku Maiko. Umurku 16 tahun dan sekarang duduk di bangku SMA di Iwatodai, tepatnya Gekkoukan High School, kelas 1-D. Aku kembali ke Iwatodai 2 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP. Sebenarnya akulah yang memaksa mama agar segera kembali ke Iwatodai dan berbaikan dengan papa. Aku tahu kemungkinan mama dan papa berbaikan akan sangat kecil, tapi setidaknya aku harus kembali ke Iwatodai.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku sangat ingin kembali ke Iwatodai, jawabannya adalah Kak Minato. Kak Minato adalah orang yang dulu sering bermain bersamaku. Meskipun sedikit pendiam, Kak Minato sangat baik padaku. Dia sering mentraktirku takoyaki, main bersamaku, menemaniku, dan bahkan membantuku saat aku berencana kabur dari papa dan mama dulu. Mungkin Kak Minato sekarang sudah lulus kuliah, karena dulu saat aku pertama bertemu dengannya di sudah duduk di bangku SMA.
Tapi sejak hari pertama kepindahanku ke Iwatodai, Kak Minato tak kunjung kutemukan. Tapi aku tidak menyerah! Hampir setiap hari aku mencarinya, namun menemui hasil yang sama. Kemanakah dirimu, Kak Minato?


Aku sedang mecoret-coret buku catatan matematikaku saat bel berbunyi. Aku menghela nafas dan menutup buku matematikaku dengan malas. Setelah guru matematika keluar dari kelas, seorang gadis berambut hijau tua dan seorang gadis berambut biru muda bernama Michi dan Runa langsung menghampiri mejaku.
“Hei, katanya kita dapat guru sejarah baru loh!” Runa berkata dengan semangat
“Iya! Kata anak-anak 1-A sih cakep banget!” Michi menimpali, “Udah gitu masih muda lagi!”
“Kau sudah pernah melihatnya?” tanya Runa padaku
“Boro-boro. Aku baru tau kok kita bakal dapat guru baru.” kataku malas.
Aku memang malas ngomongin tentang cowo-cowo di sekolahku ini—termasuk gurunya juga. Habis menurutku tidak ada yang bisa menandingi Kak Minato. Yah… setidaknya BELUM, dan aku harap tidak ada.
“Ah, kau sama sekali tidak asik! Masa kau sama sekali tidak tertarik?” tanya Michi dengan suara yang sengaja dibuat kecewa
“Maaf, tapi aku memang tidak tertarik.” jawabku sambil mengambil buku mata pelajaran selanjutnya sekaligus pelajaran terakhir, sejarah.
“Mai-chaaaan…. Kau ini aneh! Masa sih tidak ada cowo di sekolah ini yang kau bilang ganteng?” tanya Runa
“Tidak ada tuh.” jawabku santai
“Pasti karena cowo yang waktu itu kau ceritakan kan? Siapa namanya? Um… Mi..Mi…” ejek Michi
“Minato. Namanya Kak Minato.” potongku ketus
“Tapi itu kan udah 9 tahun yang lalu. Aku yakin si Minato itu udah punya pacar,” kata Michi enteng
“Tidak mungkin! Kak Minato kan sudah janji padaku!”
Runa sepertinya akan mengatakan sesuatu, tapi tersela oleh suara pintu geser yang terbuka. Kami bertiga refleks langsung melempar pandang kami ke pintu. Aku sedikit terkesiap.
Seorang pemuda dengan rambut berwarna cokelat muda masuk ke kelasku. Dia menggunakan vest rajutan berwarna hitam dan kemeja putih polos berlengan pendek juga celana hitam berbahan katun. Dia tidak mengenakan dasi dan rambut cokelatnya terlihat sedikit acak-acakan. Pemuda yang kelihatannya tidak berumur lebih tua dari 30 tahun itu melangkah dengan santai sambil membawa beberapa buku sejarah di tangan kirinya. Dia berjalan ke meja guru dan menyimpan buku-bukunya di sana. Setelah itu dia berjalan kembali ke depan kelas dan sedikit merapikan kerah bajunya. Mata cokelatnya menatap kami dengan tatapan yang tegas, menyiratkan bahwa dibalik wajahnya yang terlihat masih sangat muda itu, terdapat otak yang cemerlang.
“Selamat siang. Saya Amada Ken, guru sejarah kalian yang baru. Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan sayalah yang akan menjadi guru sejarah kalian.” katanya
“Oh iya, maaf ya tadi saya datang sedikit terlambat. Saya masih belum hafal jadwal mengajar saya.” tambahnya dengan senyum
“Amada-sensei umurnya berapa?” celetuk salah seorang siswi di kelasku
“Sebenarnya saya tidak punya kewajiban untuk mejawab pertanyaan itu, tapi karena ini hari pertama kita semua bertemu di kelas, maka saya akan menjawabnya. Umur saya 26 tahun.” jawabnya
Terdengar cekikikan dari belakangku. Karena penasaran, kutengok ke belakang dan mendapati temanku Sayo dan Mitsuki sedang cekikikan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas dan kudapati hampir semua siswi di kelasku cekikikan atau hanya senyum-senyum. Aku menatap mereka heran, tapi lalu kualihkan pandanganku ke guru sejarah baruku, Amada-sensei. Amada-sensei hanya tersenyum sekilas. Dia berjalan ke meja guru dan mengambil salah satu buku.
“Saya ingin tahu, bab berapa yang terakhir kalian pelajari?” tanyanya
“Bab 7,” jawab ketua kelasku
“Hmm… Kalau begitu kita adakan kuis untuk menguji pemahaman kalian tentang bab 7. Silahkan keluarkan kertas selembar,” kata Amada-sensei sambil membolak-balik halaman buku yang dipengangnya
“Aaah… Malas…” kudengar Michi mengguman dari bangku di serong depanku
“Kukira kita bisa santai sedikit karena dapat guru baru… Ternyata…” Sayo dibelakangku mengeluh
Aku hanya mengangkat bahu dan mengeluarkan selembar kertas seperti yang diperintahkan sensei. Menurutku sih kuis ini sama sekali tidak menjadi masalah besar, karena satu, pelajaran kesukaanku adalah sejarah; dan dua, toh materi bab 7 tidak terlalu sulit buatku. Kukerjakan soal yang didiktekan Amada-sensei dengan cepat. Lalu mengumpulkannya. Kulihat Amada-sensei sedang menulis sesuatu di sebuah kertas dengan sebuah pulpen berwarna merah marun.
“Wah, cepat sekali. Sepertinya kau tidak menemui kesulitan sedikitpun ya?” dengan cepat Amada-sensei mendongak ke arahku
“Ya. Kurasa materi bab 7 itu cukup mudah,” jawabku pelan
“Hahaha kau benar. Siapa namamu?”
“Maiko,” jawabku singkat sebelum kembali ke bangkuku
Aku duduk di bangkuku dan mengeluarkan sebuah buku. Kuambil pensil mekanik dan memainkannya di tanganku sambil memandangi salah satu halaman di buku itu. Saat aku hendak menggoreskan pensil mekanikku, tiba-tiba saja Yuzu, teman sebangkuku menyikutku.
“Apa?” tanyaku
“Kau tadi ngobrol apa dengan Amada-sensei?” tanya Yuzu balik
“Ga kok. Tadi dia cuma tanya namaku.” jawabku singkat
“Lalu?”
“Aku kembali ke sini. Emangnya kenapa sih?”
“Hee… Ga apa-apa kok. Aku cuma iri aja sama kamu, Mai-chan.” kata Yuzu
“Iri?” tanyaku sambil menatap mata hitamnya
“Kau bisa langsung ngobrol dengan Amada-sensei. Huuuh… aku juga mau…” katanya sambil mengerucutkan bibirnya. Aku hanya tertawa cekikikan melihat wajahnya.
“Hahahaha kau kan bisa ajak Amada-sensei ngobrol saat jam pelajarannya selesai.” saranku
“Benar juga ya!” bisiknya dengan mata berbinar, “Thanks buat sarannya ya, Mai-chan!” sambungnya
Aku hanya tersenyum menganggapi kata-katanya, lalu mencoret-coret buku yang ada di mejaku dengan gambar-gambar.

Dua puluh menit kemudian, Amada-sensei meminta kami mengumpulkan kertas kami. Muncullah berbagai reaksi, ada yang tersenyum dipaksakan, ada yang cemberut, ada yang ekspresinya biasa saja, ada yang tersenyum kecil, sampai ada yang terlihat hampir menangis. Aku tidak ambil pusing dengan pemandangan itu dan melanjutkan gambarku. Setelah kami semua kembali ke bangku kami masing-masing, Amada-sensei berjalan ke depan kelas.
“Nah, sekarang sebelum memulai pelajaran saya ingin mengetahui nama kalian masing-masing. Ya, silahkan perkenalkan diri kalian mulai dari sini.” katanya sambil menunjuk bangku Michi.
“Namaku Tominaga Michi,”
“Aku Asou Rai,”
“Saya Nakajima Hitsugi,”
Dan seterusnya sampai giliranku,
“Aku Reihatsu Maiko,”
“Nama saya Tsumugi Hiro,”
“Saya Takigawa Rie,”
Dan seterusnya sampai murid terakhir. Setelah kami selesai memperkenalkan diri kami, Amada-sensei hanya mengangguk-angguk, lalu berkata, “Baiklah. Kalau begitu kita mulai pelajaran hari ini.”


Pelajaran sejarah hari ini sungguh menyenangkan. Materinya mengasyikkan dan cara mengajar Amada-sensei sama sekali tidak membuat kami bosan.

TING TONG

Bel pun berbunyi. Menandakan jam pelajaran telah berakhir.
“Baiklah, sampai di sini dulu pelajaran kali ini,” kata Amada-sensei, ”Jangan lupa, saya akan mengadakan pre-test minggu depan. Jadi belajarlah.” sambungnya sambil tersenyum kecil. Dapat kudengar erangan malas dari teman-temanku. Tapi sensei sama sekali tidak memedulikannya dan segera keluar dari kelas kami sambil membawa buku-bukunya, kertas jawaban kuis kami, dan beberapa alat tulisnya.
Tak berapa lama setelah Amada-sensei keluar dari kelas kami, wali kelas kami, Yamagishi-sensei, masuk ke kelas. Beberapa menit kemudian kami sudah keluar dari kelas kami dan berjalan ke berbagai arah. Ada yang ke klub olahraga, atau ke klub-klub yang lain, ke perpustakaan, juga ke Student Council, dan ada juga yang langsung pulang.
Hari ini aku tidak pulang bersama dengan Michi dan Runa, karena mereka ada kegiatan klub. Jadi hari ini aku pulang sendiri. Saat aku berjalan di depan kelas 1-B, aku melihat sebuah pulpen berwarna merah marun. Karena penasaran, aku mengambilnya dan membolak-baliknya. Aku menemukan inisial A.K di sana dengan warna emas. ‘Rasanya aku pernah lihat pulpen ini. Dimana ya?’ tanyaku dalam hati.
Aku terus memikirkannya sambil menggenggam pulpen merah marun itu. Tiba-tiba aku teringat,
‘Oh iya! Tadi Amada-sensei memakai pulpen seperti ini. Mungkin ini miliknya.’ aku mengangguk-angguk kecil. ‘Amada Ken, ya… Inisialnya pun A.K,’ pikirku lagi. Dengan segera, aku berjalan ke Faculty Office untuk mengembalikan pulpen milik Amada-sensei yang ada di genggamanku.
Setelah sampai di ruang Faculty Office, aku segera membuka pintunya dan mencari sosok Amada-sensei. Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Saat aku menoleh, kulihat Yamagishi-sensei.
“Ada apa, Maiko-chan?” tanya wali kelasku ini dengan suara lembut
“Umm… Aku mencari Amada-sensei.”
“Ken-kun? Tunggu sebentar ya, ah itu dia. Ken-kun!” panggil wali kelasku
“Fuuka-san? Ada apa?” tanya Amada-sensei
“Ini, ada yang mencarimu.” kata Yamagishi-sensei sambil menepuk punggungku ringan
“Kau… Maiko?” tanyanya ragu. Aku mengangguk.
“Kalau begitu aku duluan,” pamit Yamagishi-sensei sambil menganggukkan kepalanya dan berlalu. Tapi sebelum Yamagishi-sensei beranjak jauh, Amada-sensei memanggilnya, “Fuuka-san!”
“Ada apa Ken-kun?” Yamagishi-sensei berbalik
“Tentang acara hari minggu nanti, siapa saja yang akan ikut?” tanya Amada-sensei
“Semuanya,” jawab Yamagishi-sensei dengan senyum, “Tentu saja kecuali dia…” tiba-tiba wajahnya berubah sendu
“Jangan lupa datang, Ken-kun. Kurasa semuanya merindukanmu,” tambahnya sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Pasti,” janji Amada-sensei. Lalu Amada-sensei mengalihkan pandangannya kepadaku,
“Ada apa?” tanyanya
“Ano… Ini milik Anda?” tanyaku sambil menyodorkan pulpen merah marun yang kutemukan di koridor
“Wah! Dimana kau menemukannya? Aku memang mencari-cari pulpen ini. Arigatou gozaimasu.” katanya sambil menyunggingkan senyum hangatnya padaku dan mengambil pulpen itu dari tangaku
“Di depan kelas 1-B.” jawabku singkat
“Tapi bagaimana kau tahu ini milikku?” tanya sensei
“Saya melihat Amada-sensei menulis dengan menggunakan pulpen ini saat saya mengumpulkan kertas jawaban saya.”
“Begitu… Kau pengamat yang jeli.” pujinya
“A-arigatou gozaimasu,” kataku. ”Ngomong-ngomong, apa saya boleh bertanya?” tanyaku ragu
“Tentu,”
“Apa Anda dan Yamagishi-sensei saling mengenal?”
“Ya. Dulu kami satu asrama. Ya… satu-satunya asrama di Iwatodai yang dimiliki oleh Kirijo Group.” jawabnya
Aku terkesiap. Asrama yang dimiliki Kirijo Group? Dulu kan Kak Minato pernah bilang kalau dia tinggal di sana bersama dengan teman-temannya! Berarti pasti Yamagishi-sensei dan Amada-sensei mengenal Kak Minato!
“Ano… Apa saya boleh bertanya lagi?”
“Ya, ada apa?”
“A-apa di asrama itu ada yang bernama Minato?” tanyaku gugup
Tiba-tiba senyum di wajah Amada-sensei langsung menghilang dan matanya sedikit terbelalak. “Ya,” jawabnya parau. “Kau kenal Minato-san?” tanya Amada-sensei dengan kaget. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
”Anda juga kenal dengan Kak Minato? Kalau begitu pasti Anda tahu dimana Kak Minato!” kataku bersemangat
“Lebih baik kita bicarakan di tempai lain saja,” katanya dengan suara yang cukup pelan. Kulihat di sekelilingku. Hampir semua guru yang ada di ruangan ini menatap kami. Aku mulai gugup, dan dengan cepat berjalan keluar dari Faculty Office, mengikuti Amada-sensei.

Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di Paulownia Mall. Kupandangi sosok Amada-sensei dari belakang. Dari caranya melangkah, rasanya Amada-sensei belum akan berhenti. ”Kita mau kemana, sensei?” tanyaku bingung. Amada-sensei tidak menjawabku
Kami sampai di Chagall Café. Lalu masuk dan mengambil tempat duduk. Aku mencoba memperhatikan raut wajah Amada-sensei yang duduk di depanku. Tapi cukup sulit karena kepalanya yang ditundukkan, membuat wajahnya sedikit tertutup dengan rambut cokelat terangnya. Namun dapat kupastikan wajahnya muram, tidak seperti tadi.
Seorang pelayan menghampiri kami, “Pesan apa, nona, tuan?” tanya pelayan itu ramah
“Saya pesan Black Coffee dan—kau mau apa?” tanya Amada-sensei
“Eeh, saya Milk Tea saja,” kataku gugup
“Baik, ada lagi?” tanya pelayan itu ramah
“Tidak,” jawab Amada-sensei singkat. Pelayan tersebut terseyum dan meninggalkan kami
“Jadi?”
“Kau juga kenal dengan Minato-san, ya?” tanya Amada-sensei. Aku mengangguk.
“Apa yang dia katakan padamu?”
“Eeeh… Kak Minato tidak banyak bicara, tapi dulu dia sering bermain dengan saya dan mentraktir saya,” jawabku jujur
“Apa Minato-san mengatakan sesuatu tentang persona?” tanyanya serius
“Per—apa? Rasanya tidak.” jawabku sambil mengingat-ingat
“Persona,”
“Saya rasa tidak. Seperti yang saya bilang, Kak Minato jarang sekali bercerita tentang dirinya sendiri. Kak Minato hanya bilang bahwa dia tinggal di sebuah asrama yang dimiliki oleh Kirijo Group di Iwatodai, dan tinggal di sana bersama teman-temannya dan seekor anjing.” jelasku panjang lebar
“Begitu…” kata Amada-sensei. Entah kenapa, kurasa Amada-sensei sedikit ega mendengar penuturanku tadi
“Silahkan, Milk Tea dan Black Coffeenya,” pelayan tadi muncul dengan membawa nampan berisi secangkir Milk Tea dan secangkir Black Coffee. Lalu dia menaruh kedua cangkir itu di meja kami
“Arigatou,” kataku dengan senyum. Pelayan itu balas tersenyum dan melangkah pergi membawa nampan kosong.
“Amada-sensei, tolong katakan dimana Kak Minato sekarang?” tanyaku serius. Kutatap mata cokelatnya lekat-lekat
“Minato-san… sudah meninggal 8 tahun yang lalu…” jawabnya sambil menundukkan kepalanya lagi
“B-bohong! Tidak bungkin! Kak Minato belum mati!” kataku marah
“Tapi Minato-san memang sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan 8 tahun yang lalu,” tiba-tiba Amada-sensei mengangkat wajahnya lagi dan menatap mataku
“T-tapi…”
Amada-sensei terus menatapku
“K-kalau Kak M-minato mati…” air mata mulai bergulir di pipiku, “A-aku tidak m-mau Kak M-minato m-mati…” kataku terisak. Aku mulai menangis. Kudengar orang-orang di sekitarku mulai berbisik-bisik, tapi aku tidak peduli. Aku masih belum percaya Kak Minato sudah meninggal.
Amada-sensei menepuk kepalaku dan menyodorkanku Milk tea yang tadi kupesan, “Lebih baik diminum dulu,” sarannya. Kuambil cangkir itu dari tangannya dan mulai minum sedikit demi sedikit.
“Sudah enakan?” tanyanya. Aku mengangguk walaupun masih sedikit terisak
“Kalau kau tidak percaya, aku bisa membawamu ke tempatnya sekarang.” Amada-sensei menyodorkan sapu tangannya. “Kau mau kita ke sana?” tanyanya lembut
Aku mengangguk, “Ya,”

Lalu kami berdua keluar dari Chagall Café dan kubiarkan Amada-sensei menyetop sebuah taksi. Di dalam taksi, aku menceritakan tentang pertemuan pertamaku dengan Kak Minato serta pengalamanku bersamanya, juga tentangku yang memberikan hadiah kenangan padanya 9 tahun yang lalu sebelum aku pindah. Amada-sensei tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mendengarkan ceritaku dengan seksama.
Akhirnya, kami sampai di sebuah pekuburan. Lalu kami masuk dan kubiarkan Amada-sensei membimbingku berjalan diantara batu-batu nisan. Tidak lama kemudian kami menemukan apa yang kami cari, batu nisan milik Kak Minato.

Here Lies Our Beloved Friend,
Arisato Minato
1992-2010

Begitu melihat batu nisan itu, aku menangis tersedu-sedu. Amada-sensei berdiri di belakangku, membiarkanku menyandarkan diriku padanya. Dia menepuk bahuku, menghiburku. Tapi tetap saja rasanya sedih. Sulit untuk memercayai bahwa orang yang kau cintai telah meninggal 8 tahun yang lalu.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Yang kutahu aku menangis di dalam pelukan Amada-sensei. Akhirnya aku berhenti menangis dan mencoba menenagkan diriku. Amada-sensei masih menepuk punggungku, “Tenanglah,” bisiknya lembut
Setelah merasa lebih baik, kulepaskan diriku dari pelukannya dan mundur beberapa langkah. Kubalikkan tubuhku untuk menatap batu nisan itu.
“Kak Minato…”
Kupejamkan mataku dan berdoa untuknya. Lalu kubuka kembali mataku. Kutatap batu nisan itu dalam keheningan. Angin berhembus, menggoyangkan dedaunan dan semak-belukar, membuatnya bergemerisik. Kutengadahkan kepalaku ke arah langit yang kini berwarna jingga.

“Sudah sore, bukankah sudah saatnya bagimu untuk pulang?” tanya Amada-sensei. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk
“Ya,”
“Ayo!” ajaknya. Kuhampiri Amada-sensei dan berjalan di belakangnya.

Aku menoleh ke arah batu nisan itu,

‘Good bye, my love… No matter what happened, you’re still my love…’


~OWARI~