Tampilkan postingan dengan label vocaloid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vocaloid. Tampilkan semua postingan

15/11/10

Behind the Mirror chapter: IV

.
Summary: Apa kau tahu apa yang ada di balik cermin? Ketika kau tahu, bisakah kau mengingkarinya? CHAPTER IV: REFLECTIONS AND SHADOWS: …Kau adalah aku, aku adalah kau. Kita adalah satu…
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
.
BEHIND THE MIRROR
.
.
Aku ingin menjadi lebih kuat!
Aku ingin menjadi lebih hebat!
Aku ingin bisa melindungi orang-orang yang kusayangi!
Aku ingin dunia melihatku!
.
Murasaki Sakura Presents:
BEHIND THE MIRROR
CHAPTER IV: REFLECTIONS AND SHADOWS
…Kau adalah aku, aku adalah kau. Kita adalah satu…
.
Matahari bersinar sangat cerah di luar sebuah pondok kecil. Meskipun begitu, angin berhembus cukup kencang, membuat para penghuni pondok itu sama sekali tidak merasa kepanasan. Sembilan orang tengah mengerjakan berbagai aktivitas di dalam pondok itu. Ada yang sibuk bertengkar, ada yang sibuk melamun, ada yang sibuk membuat minuman, dan ada juga yang sibuk saling memerhatikan.
“Silahkan tehnya,” kata seorang gadis berambut hitam yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi sembilan gelas teh hangat
“Terimakasih,” kata seorang remaja berambut aqua, Mikuo
Seorang anak lelaki yang sangat mirip dengan gadis berambut hitam tadi langsung meletakkan gelas-gelas berisi teh hangat itu di meja kayu yang ada di tengah-tengah mereka semua. Kaito langsung mengambil gelasnya dan menyesap isinya. “Hei, teh ini enak!” katanya
“Benarkah? Terimakasih,” gadis berambut hitam tersenyum manis
“Sama-sama.” Kaito membalas senyumannya. Tiba-tiba Kaito merinding. Dia merasa ada aura pembunuh di dekatnya.
“Hei, tak usah genit-genitan segala dengan Rui. Bisa-bisa kau dibunuh,” bisik pemuda berambut merah yang sangat mirip dengan Kaito
“Ha? Apa maksudmu?” tanya Kaito kebingungan, tapi pemuda itu masih bisa merasakan aura pembunuh yang makin memancar. Kaito merasakan tatapan menusuk dari sampingnya. Lalu dia pun menoleh ke arah sumber tatapan itu. Dilihatnya anak lelaki berambut hitam yang mirip dengan gadis berambut hitam itu tengah menatapnya dengan pandangan membunuh. Kaito juga dapat merasakan aura pembunuh yang dirasakannya juga berasal dari anak lelaki itu
“Rei!” panggil gadis berambut hitam. Suara gadis itu sukses membuat si pemilik nama sedikit terlonjak. “Jangan menakut-nakuti Kaito,” lanjut gadis itu
“Huh!” anak lelaki itu hanya mendengus sambil membuang muka
“Maaf ya, kadang-kadang Rei bisa jadi menyebalkan seperti itu. Padahal biasanya tidak kok!” gadis itu membungkuk sedikit
“Tidak apa-apa,” Kaito tersenyum sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal
“Tunggu, rasanya tadi kau bilang ‘Jangan menakut-nakuti KAITO’” celetuk Mikuo. Remaja bermata aqua itu memberi penekanan pada kata terakhirnya
“Ya,” gadis itu mengangguk
“Dari mana kau bisa tahu nama Kaito? Padahal kami sama sekali belum memperkenalkan diri.” tanya Mikuo tajam
“Hahahaha tidak terlalu serius seperti itu, Mikuo. Santailah sedikit sepertiku!” kata pemuda berambut hitam yang sebagiannya dicat merah
“Kau juga tahu namaku?!” seru Mikuo
“Tentu saja, bodoh! Kami tahu semua nama kalian,” kata si rambut merah
“Tolong jelaskan apa yang terjadi di sini!” pinta Rin dengan tegas
“Sudah kuduga,” si rambut merah bersungut. “Tapi kurasa, dijelaskan pun tidak ada gunanya. Kalian tidak akan mengerti!” lanjutnya dengan nada meremehkan
“Apa kau bilang?! Kau pikir kami ini bodoh?!” Mikuo berdiri dari kursi tempatnya duduk dan menatap pemuda berambut merah itu dengan sengit
“Whoa whoa… Lebih baik kau tenang dulu. Tentu saja aku hanya bercanda,” pemuda berambut merah itu memperlihatkan cengiran jahilnya
“Sudahlah, Akaito, kurasa Tuan Mikuo sama sekali tidak suka dengan lelucon bodohmu!” lerai pemuda berambut hitam yang sebagian dicat merah. Pemuda berambut merah itu hanya mengedipkan sebelah matanya dan kembali menampakkan cengiran kudanya.
“Baiklah, kurasa kami harus memperkenalkan diri terlebih dahulu,” kata anak lelaki berambut hitam, Mikuo mengangguk tanda setuju
“Namaku Kagene Rei,” kata anak lelaki itu. “Dan ini kembaranku, Rui,” lanjutnya sambil menengok ke arah gadis berambut hitam yang berada di sebelahnya
“Aku Akaito!” pemuda berambut merah itu tersenyum
“Kalian bisa memanggilku Rook,” pemuda berambut hitam yang sebagian dicat merah
“Namaku Kagamine Len,” Len memperkenalkan dirinya
“Aku Kagamine Rin, kembarannya Len!” kata Rin ceria
“Hatsune Mikuo,” kata Mikuo dingin
“Aku adik Kak Mikuo, namaku Hatsune Miku” Miku membungkukkan badannya sedikit
“Dan namaku Shion Kaito!” Kaito menutup perkenalan
“Sudah kubilang, kami sudah tahu nama kalian!” pemuda berambut merah bernama Akaito
Tak ada yang menanggapi kata-kata Akaito. Mereka semua hanya diam di tempat, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mikuo mengedarkan pandangannya pada kedelapan orang yang berada di ruangan itu. Dan akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan.
“Darimana kalian tahu nama kami?” tanya Mikuo
“Tentu saja kami tahu, karena kami ini kalian,” Akaito menjawab pertanyaan itu dengan santai. Tangannya dikaitkan di belakang kepalanya yang tertutup rambut merah
“Aku tidak mengerti…” kata Miku
“Kalian ingat darimana kalian masuk ke sini?” tanya Rook setelah menyeruput teh hangatnya
“Cermin…” gumam Rin
“Tentu saja, cermin! Itulah jawabannya!” Akaito menepuk puncak kepala Rin
“Tolong jelaskan! Aku masih tidak mengerti!” pinta Miku
“Tentu,” Akaito mengangguk. “Begini…”
“Kurasa akan lebih baik jika bukan kau yang menjelaskannya, Akaito.” sela Rook dengan sinis
“Apa maksudmu, Rook?” Kaito memberikan death glarenya pada Rook
“Biar aku saja yang jelaskan,” lerai Rei
“Silahkan,” Rook tersenyum. Rei menghela nafas, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Kami menyebut dunia ini Hyuponia. Kalian, manusia, tidak mengetahui keberadaan kami dan dunia ini karena kami selalu menjaga portalnya agar selalu tertutup. Tapi karena suatu alasan, aku harus memanggil kalian ke sini.” mata kuningnya memandang lurus ke mata biru Len
“Kurasa itu sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.” Mikuo melipat kedua tangannya di depan dada. Rei tersenyum sekilas
“Kalian tahu siapa kami?” tanya Rei
“Kau sendiri yang bilang kalau manusia tidak mengetahui keberadaan kalian dan dunia ini,” jawab Mikuo sinis
“Kami biasa disebut Reflection.” kata gadis bernama Rui
“Reflection?” tanya Rin
“Ya. Karena kami, yang hidup di Hyuponia adalah refleksi dari kalian, yang hidup di Dunia.” jelas Rui setelah meletakkan gelas berisi teh hangat di tangannya ke atas meja.
“Refleksi dari kami?” mata Mikuo sukses membulat mendengar penjelasan Rui
“Ya,” Rui mengangguk, “Bisa dibilang bahwa kami ini adalah perwujudan dari apa yang ada di hati kalian.” lanjutnya
“Lalu, apakah artinya kalian adalah perwujudan dari hati kami?” tanya Kaito
“Tepat sekali!” sahut Akaito ceria, “Apa kau bisa menebak dari hati siapa aku tercipta?” sambung Akaito
“Hatiku?” tanya Kaito
“Tepat!” seru Akaito sambil mengacungkan jempolnya
“Kalau begitu Rei dan Rui adalah perwujudan dari hatiku dan Rin?” tanya Len
“Benar sekali,” Rei mengangguk
“Apa? Berarti dia adalah perwujudan dari hatiku?” tanya Mikuo kaget, jari telunjuknya mengarah ke dada Rook
“Hahaha benar sekali, Tuan Jenius!” Rook menepuk puncak kepala Mikuo
“A-apa?!” Mikuo memberikan death glare-nya pada Rook
“Kalau begitu bagaimana denganku?” Miku menyela
“Ah, benar sekali! Di sini bahkan tidak ada reflection yang bisa menjadi perwujudan dari hati Miku!” seru Mikuo penuh kemenangan. “Coba jelaskan itu!”
“Aku sendiri tidak tahu soal itu. Tapi kita bisa mencaritahunya nanti, setelah kita menyelesaikan masalah yang akan kukatakan pada kalian.” Rei mengangkat kedua bahunya dan menatap mereka semua dengan tatapan serius
“Masalah?” tanya Miku
“Ya. Biar kujelaskan. Kami, yang hidup di Hyuponia terbagi atas dua golongan. Reflections, perwujudan dari hati manusia yang hidup di Dunia seperti kami, dan Shadows, Reflections yang kehilangan wujud aslinya di Dunia.” jelas Akaito
“Dalam setiap jiwa Reflections—atau sebutlah kami, kami mengetahui siapa sebenarnya wujud asli kami di Dunia meskipun wujud asli kami sudah meninggal. Tapi, berbeda dengan para Shadows. Mereka entah bagaimana melupakan wujud asli mereka sehingga mereka kehilangan kendali diri dan melakukan berbagai hal yang merugikan dan sulit dikendalikan.” sambung Rei
“Bagaimana kalau kita langsung ke inti permasalahan?” usul Kaito
“Masalahnya muncul sejak beberapa bulan yang lalu, sekumpulan Shadows yang dipimpin oleh seorang Reflection menyerang Kastil dan mengganggu kehidupan Hyuponia yang bisa dibilang cukup damai. Beberapa Reflections telah mencoba membuat aliansi untuk memerangi mereka, tapi usaha-usaha aliansi itu selalu gagal.” jelas Rei panjang lebar
“Jadi, maksud kalian memanggil kami kesini adalah untuk membantu kalian?” tanya Len yang menatap lurus ke mata Rei. Biru laut melawan kuning matahari.
“Ya,” Rei menganggukkan kepalanya
“Whoa kurasa ini bukan urusan mudah!” seru Kaito yang disambut anggukan setuju dari Mikuo
“Mungkin negerimu ini menderita karena si Reflection dan Shadows itu, tapi kurasa itu sama sekali bukan urusan kami. Karena kami sendiri sudah tinggal di dunia yang berbeda dengan kalian. Jadi urusan dunia kalian sudah bukan urusan kami.” sahut Mikuo
“Mungkin yang kau katakan ada benarnya, Tuan Jenius. Tapi apa kau lupa? Reflections adalah cerminan dari hati kalian, bagian dari hati kalian juga.” kata Rook sambil melipat kedua tangannya di depan dada
“Tapi… tetap saja kita tinggal di dunia yang berbeda!” seru Mikuo sengit
“Kak Mikuo, cukup!” lerai Len
“Benar, Tuan Jenius, cukup!” ejek Rook yang menirukan kata-kata Len
“Kau juga, Rook!” seru Akaito. Rook hanya terkekeh mendengar seruan Akaito.
“Jadi, apa kalian mau membantu kami?” tanya Rei. Suaranya memang seserius wajahnya, tapi jika kita menatap ke jauh dalam matanya, kita bisa melihat ada sedikit kesedihan yang tersirat di sana.
Len mengangguk, “Baiklah, kami akan membantu kalian,”
“Tunggu dulu Len! Apa maksudnya ini?!” tanya Mikuo, kemarahan terdengar kentara dalam suaranya
“Ya, kita akan membantu mereka,” Len mengulangi pernyataannya
“Aku tidak setuju! Lebih baik kita pulang sekarang!” teriak Mikuo yang langsung berdiri dari kursi yang didudukinya dengan wajah penuh amarah
“Apa kau tahu caranya?” tanya Akaito
“Tidak, tapi kalian pasti tahu!” Mikuo menuding Rei
“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan seceroboh itu.” Rei berkata acuh tak acuh
“Apa maksudmu bocah?!” amarah Mikuo semakin memuncak
“Satu-satunya cermin yang bisa kau gunakan untuk kembali adalah Cermin Agung yang berada di Kastil yang dijaga ketat oleh puluhan bahkan ratusan shadows. Selain Cermin Agung, tidak ada cermin lain yang bisa kau jadikan jalan keluar dari Hyuponia.” jelas Rei tanpa bahkan memandang ke arah Mikuo. Mendengar itu, Mikuo hanya bisa berdecih kesal.
“Kurasa, sudah diputuskan bahwa kita akan berada di sini sampai Shadows yang menjaga cermin itu hilang.” Kaito menarik keputusan
“Ya, aku tidak keberatan dengan hal itu.” Miku mengangguk
“Sama sekali tidak!” Rin menggelengkan kepalanya kuat-kuat
Rui tersenyum lebar mendengar pernyataan Kaito, Rin, dan Miku. Sedangkan Rook dan Akaito hanya nyengir kuda seperti biasanya. Rei maju ke depan Len dan menjabat tangan remaja pirang itu.
“Terima kasih… Aku tahu kalian pasti bisa melakukannya.”
Len menyambut tangan Rei dan tersenyum.
Tapi masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya, kata-kata Mikuo, ‘Di sini bahkan tidak ada Reflection yang bisa menjadi perwujudan dari hati Miku’.
Apa yang terjadi pada Reflection Miku?
.
.
TO BE CONTINUED
TO CHAPTER V: SHADOW AND THE PRINCESS
.
Halo minna-san! Apa kabar?
Gomen kalau updatenya luamaaaaaaaaaa buaaaaaanget dan chapternya pendek buaaaaaaaanget! Gomen banget yaa soalnya Saku sangat sangat sangat sibuk dengan urusan sekolah yang bejibun! Apalagi sekarang ini Saku udah kelas 9, jadi harus banyak belajar buat UN, belum lagi banyak tugas dan ulangan… Hhhh gomen ne…
.
Thanks for all READERS! Baik yang ngereview dan yang cuma jadi Silent Readers! Juga bagi yang udah mau nungguin fic ini update! THANKS FOR YOU ALL! :DDDD

16/09/10

Behind the Mirror chapter: III

.
Summary: Apa kau tahu apa yang ada di balik cermin? Ketika kau tahu, bisakah kau mengingkarinya? CHAPTER III: ANOTHER WORLD: …Apakah yang ada dalam cermin?…
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
.
BEHIND THE MIRROR
.
.
Aku ingin menjadi lebih kuat!
Aku ingin menjadi lebih hebat!
Aku ingin bisa melindungi orang-orang yang kusayangi!
Aku ingin dunia melihatku!
.
Murasaki Sakura Presents:
BEHIND THE MIRROR
CHAPTER III: ANOTHER WORLD
…Apakah yang ada di dalam cermin?…
.
Suara ketukan pintu membangunkan anak lelaki berambut pirang yang sedang bergelung malas dibalik selimutnya. Anak lelaki itu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian anak lelaki itu mengucek matanya sebentar dan menuruni tempat tidurnya. Lalu dia berjalan malas ke arah pintu kamarnya dan perlahan membukanya. Tampaklah seorang anak perempuan berambut pirang dengan bando berpita menghiasi kepalanya.
“Pagi, Len.” sapa gadis itu ramah. Si pemilik nama hanya menggaruk rambut jabriknya yang juga berwarna pirang dengan malas. “Tumben kau bangun telat,” imbuh si gadis
“Hmm… Oh ya?” sahut anak lelaki yang bernama Len itu. Gadis bernama Rin itu menganggukkan kepalanya
“Sekarang, cepat bersiap! Kita akan pergi ke rumah Miku lagi!” seru Rin dengan penuh semangat
“Hm? Iya… Iya…” kata Len dengan malas. Kemudian Rin berjalan meninggalkan Len yang masih setengah sadar berdiri di ambang pintu kamarnya.
.
.
Len berjalan dengan langkah malas menuju kamar mandi. Dia masih memikirkan tentang bayangan di pantulan cermin yang dilihatnya kemarin. Dia mencoba mengingat-ingat rupa anak lelaki berambut hitam yang dilihatnya di cermin kemarin. Tapi sayangnya Len hanya mampu mengingat anak lelaki itu dengan samar. Len hanya mengingat rambut hitam kelam milik anak itu yang sepanjang rambut pirangnya jika tergerai, juga mata kuning milik anak itu yang menatapnya dengan pandangan menusuk, serta kemeja hitam tak berlengan yang dikenakan anak lelaki itu. Dia tidak mengingat detil lainnya tentang anak itu. Tapi entah mengapa Len merasa bahwa anak berambut hitam itu sangat mirip dengan dirinya. Tanpa terasa anak lelaki berambut pirang jabrik itu sudah sampai di depan pintu kamar mandi. Dia membukanya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi itu.
Len berjalan ke arah wastafel. Lalu dia menyalakan keran dan mencuci mukanya. Len mengambil handuk putih yang tergantung di balik pintu kamar mandi dan mengeringkan mukanya yang basah. Kemudian Len mengambil sebuah sikat gigi berwarna kuning dan pasta gigi rasa mint. Sesaat kemudian Len sibuk menyikat giginya sambil memandangi cermin yang ada di depannya. Pikirannya melayang kembali ke bayangan anak lelaki misterius berambut hitam yang dilihatnya kemarin. ‘Siapa ya anak itu? Apa itu hanya halusinasiku saja?’ pikir Len. Len meludah ke wastafel dan berkumur, tapi pikirannya belum juga beranjak dari apa yang dilihatnya kemarin.
Ditatapnya cermin di hadapannya dengan setengah hati. Lalu Len memejamkan matanya dan menghela nafas. “Itu hanya halusinasi,” katanya pada diri sendiri dengan tegas. Setelah itu dibukanya kedua mata sapphirenya lagi. Betapa terkejutnya Len ketika mendapati sepasang mata kuning tengah menatapnya dari balik cermin—persis kemarin. “HUWAAAAAAAAA!!!!” seru Len
Tubuhnya yang terjengkang ke belakang mendarat dengan kasar di atas lantai keramik kamar mandi yang keras. Dikuceknya kedua matanya, kemudian diarahkannya pandangannya ke cermin itu—hanya untuk memastikan apakah bayangan itu halusinasinya atau bukan. Ternyata Len sama sekali tidak berhalusinasi, buktinya anak lelaki sebayanya dengan rambut jabrik berwarna hitam kelam dan mata kuning tengah menatapnya dari balik cermin yang tergantung di dinding kamar mandinya.
Len berdiri dengan perlahan-lahan sambil menjadikan kloset yang ada di dekatnya sebagai pegangan. Dengan sebelah tangan memegang pinggiran kloset dan sebelah tangan memegang dadanya, Len berdiri. Setelah beberapa detik menenangkan diri, Len kembali mengarahkan pandangannya ke arah cermin. Bayangan anak berambut hitam dan bermata kuning itu masih tetap di sana. Memandangnya dengan tatapan matanya yang menusuk. Perlahan-lahan Len melangkahkan kakinya ke arah cermin itu.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Len sedikit kaget. Dia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terkunci rapat. “Len, ada apa?!” seru Neru dari luar
“Hah? T-tidak ada apa-apa!” jawab Len balik berteriak
“Kau yakin?” tanya Neru
“Yeah,” sahut Len
“Baiklah…” kata Neru sebelum terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Len membuang nafas dan kembali menoleh ke arah cermin. Namun, lagi-lagi bayangan anak berambut hitam itu lenyap begitu saja digantikan bayangan dirinya yang berambut pirang jabrik dan bermata sapphire. Lagi-lagi Len mengucek matanya dan mencari-cari bayangan anak lelaki asing itu. Tapi bayangan itu tak juga ditemukannya. Akhirnya Len menyerah dan memutuskan untuk segera mandi.
.
.
Lima orang remaja sedang duduk-duduk di sebuah ruangan bernuansa hijau yang penuh dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi. Mereka sibuk memperbincangkan hal-hal yang mereka temui kemarin di gudang.
“Kau tahu? Seperti yang kubilang kemarin, sepertinya aku sedang sial!” seru Mikuo setelah menghela nafas
“Yeah, aku juga. Aku sama sekali tidak menemukan hal menarik kecuali bola kaca itu.” timpal Kaito
“Sepertinya kali ini kita juga tidak menemukan benda menarik, ya kan, Rin?” tanya Miku. Rin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. “Ya, hanya dua topeng itu saja,” timpal Rin
Len memandangi kembaran dan ketiga temannya tengah sibuk dengan cerita tentang pengalaman mereka masing-masing di gudang Keluarga Hatsune kemarin. Pikirannya lagi-lagi melayang ke bayangan anak laki-laki berambut hitam yang sempat dilihatnya tadi pagi. Dibiarkannya bayangan anak laki-laki itu memenuhi benaknya. Suara-suara Mikuo, Miku, Kaito, dan Rin pun terdengar semakin jauh dan jauh.
“Kurasa kita semua sedang sial kemarin!” Mikuo menyimpulkan
“Mungkin,” Kaito menganggukkan kepalanya, diikuti Miku dan Rin
“Bagaimana denganmu, Len? Apa kau menemukan sesuatu yang menarik? Seingatku kau belum menceritakan apa-apa sejak kemarin.” tanya Mikuo. Len masih membiarkan pikirannya melayang ke bayangan anak lelaki misterius itu
 “Len?” panggil Mikuo. Len belum juga memberikan respon
“Hei, Len!” panggil Kaito sambil menepuk pundak Len. Len yang kaget langsung terlonjak
“E-eh? A-apa?” tanyanya kebingungan
“Kau ini… sedang melamun ya?” tanya Rin
“Kurasa,” Len mengangkat bahunya
“Jadi, apa kau menemukan sesuatu yang menarik?” Mikuo kembali mengulang pertanyaannya
“A-aku,” Len sedikit terbata, “Mungkin, aku menemukan sesuatu yang menarik…” gumam Len
“Benarkah? Apa itu? Kenapa kau tidak membawanya ke sini?” tanya Miku dengan antusias
“Tapi, aku sendiri tidak yakin, apakah itu bisa dibilang menarik atau tidak.” kata Len ragu-ragu
“Memangnya benda apa sih itu?” tanya Kaito
“Cermin,” gumam Len
“Apa?”
“Cermin,” ulang Len dengan suara yang lebih keras
“Cermin? Cermin apa?” Mikuo menatapnya dengan tatapan penuh tanya
“Lebih baik kita pastikan dulu,” kata Len sambil berdiri dari sofa yang didudukinya
“Baiklah,” Mikuo mengangguk. Mereka berlima pun meninggalkan perpustakaan bernuansa hijau itu dan mulai berjalan di lorong-lorong panjang menuju gudang Keluarga Hatsune.
.
.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” tanya penjaga berambut merah yang ditemui Rin dan Len kemarin, Kasane Ted
“Apa kau yang menyimpan kunci gudang lama?” Mikuo bertanya balik padanya
“B-bukan saya. Sora yang menyimpannya, Tuan.” jawab Ted sambil membetulkan letak kacamatanya
“Lalu dimana Suiga?” tanya Mikuo lagi
“Tadi dia izin sebentar untuk menemui Momo,”
“Begitu ya… Terima kasih, Kasane.”
“Sama-sama, Tuan,” Ted membungkuk pada kelima orang yang ada di hadapannya sebelum kelima orang itu beranjak pergi.
.
.
Mikuo berjalan di paling depan, memimpin teman-teman dan adiknya untuk mencari penjaga bernama Suiga Sora. Mereka berjalan di sepanjang lorong panjang yang juga bernuansa hijau, melewati banyak pintu kayu yang ukurannya besar-besar. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tangga dari batu marmer putih. Kemudian mereka berlima menuruni tangga itu menuju ke lantai bawah atau sebut saja basement.
Setelah menjejakkan kaki di anak tangga terakhir, mereka dapat melihat banyak maid dan butler yang berlalu-lalang, mereka semua terlihat sibuk. Ada yang menenteng nampan kosong, ada yang membawa troli besi berisi berbagai makanan, ada yang sibuk menenteng ember dan alat pengepel serta sapu, tapi ada juga yang mondar-mandir dengan tangan kosong. Mikuo menghampiri seorang maid berambut merah panjang. “Namine, apa kau melihat Momone?” tanya Mikuo pada gadis itu
“Tidak, tuan. Maaf,” maid itu membungkuk pada Mikuo dan langsung bertanya pada temannya, “Hei, Uta, kau lihat Momo?” tanya maid yang dipanggil Namine itu pada seorang maid lain berambut ungu
“Momo?” maid itu menoleh
“Ya,”
“Kalau tidak salah tadi pergi ke arah sana bersama Sora. Memang ada apa Ritsu?” jawab maid berambut ungu yang dipanggil Uta itu sambil menunjuk ke arah lorong yang bercabang ke kiri
“Tuan Mikuo mencarinya.” bisik Namine Ritsu pada si rambut ungu. Sedangkan maid berambut ungu itu hanya mengangguk-angguk
“Ke sana?” Mikuo kembali memastikan jawaban maid itu
“Ya, tuan muda,” maid bernama Uta itu mengangguk
“Baiklah, terimakasih, Utane.” Mikuo mengangguk singkat. “Terimakasih, Namine,” tambah Mikuo sambil tersenyum pada kedua maid itu
“Sama-sama,” balas kedua maid itu bersamaan
Kemudian Mikuo, Miku, Kaito, Rin, dan Len pun meninggalkan kedua maid itu dan berjalan ke arah lorong yang ditunjuk oleh maid berambut ungu bernama Utane Uta tadi.
.
.
Tampaklah seorang gadis yang kelihatannya seumuran dengan Miku. Rambutnya yang berwarna merah muda tergerai di punggungnya, baju maid yang dikenakannya tampak rapi, dan nampan kayu yang dibawanya diletakkan di depan perutnya. Gadis itu tengah mengobrol dengan seorang anak lelaki yang kira-kira seumuran juga dengannya. Rambutnya yang berwarna orange mengingatkan Rin pada jeruk kesukaannya. Seragam penjaga anak lelaki itu sama dengan seragam penjaga yang dikenakan penjaga bernama Kasane Ted—berwarna hitam dengan aksen merah marun di beberapa bagiannya. Sebuah gantungan kunci berbentuk bulat yang penuh dengan rencengan kunci yang terkadang sibuk bergemerincing tergantung di pinggangnya. Kedua orang yang sedang bercakap-cakap itu langsung berpaling ke arah lima orang yang baru saja datang.
“Ah! Tuan Mikuo! Nona Miku!” seru maid itu, kemudian dia dan penjaga berambut orange itu langsung membungkuk dalam-dalam
“Momone, boleh aku pinjam Suiga sebentar?” tanya Mikuo dengan tenang
“Eh, ah, s-saya, m-maksud saya, tentu saja boleh!” seru maid itu tergagap. Kemudian anak lelaki berseragam penjaga itu menghampiri Mikuo yang sudah maju beberapa langkah dari tempatnya.
“Ada apa, tuan?” tanya penjaga itu
“Aku hanya ingin pinjam kunci gudang lama.”
“Kunci gudang lama?” penjaga yang dipanggil Suiga itu memandang Mikuo dan teman-temannya dengan tatapan bingung. Mikuo mengangguk.
“Sebentar,” penjaga itu mengambil gantungan kunci berbentuk bulat yang dipenuhi rencengan kunci dari pinggangnya, kemudian memilah satu-persatu kunci itu sampai akhirnya dia menemukan sebuah kunci berwarna perak yang diberi nomor 258. Setelah melepas kunci dari gantungannya, penjaga itu memberikan kunci itu pada Mikuo. “Silahkan, tuan,”
“Terimakasih, Suiga.” Mikuo mengangguk singkat pada penjaga itu. Penjaga itu membalasnya dengan membungkuk dalam-dalam. Setelah penjaga itu bangun, Mikuo kembali berjalan ke arah keempat temannya, kemudian mereka pun melangkah pergi meninggalkan maid berambut pink itu dengan penjaga berambut orange itu.
.
.
Kaito dan Len menyimpan rantai dan gembok yang mengunci gudang lama keluarga Hatsune di samping pintu sementara Mikuo mencoba membuka pintu kayunya. Sekali lagi pintu itu terbuka, menampakkan beberapa barang yang penuh debu yang teronggok di dalamnya. Mereka saling berpandangan seakan saling bertanya siapa yang akan masuk duluan. Tapi, karena tidak mendapat jawaban, Mikuo memutuskan untuk berjalan duluan. Beberapa saat kemudian, mereka berlima sudah masuk ke dalam gudang gelap itu.
Rin merapatkan tubuhnya pada Len yang berada di sampingnya, Miku juga melakukan hal yang sama, yaitu merapat pada Len. Sedangkan Kaito hanya terkikik geli memandang kelakuan kedua anak perempuan itu dari belakang dan Mikuo yang memegang senter biru milik Kaito memimpin di depan. “Miku, apa kau tidak membawa senter lagi?” tanya Kaito
“Tidak. Maaf, aku lupa,” kata Miku
“Tidak apa-apa kok,” Kaito tersenyum sambil menepuk kepala Miku. Miku hanya tersenyum
“Jadi, apa yang kau temukan, Len?” tanya Mikuo setelah menolehkan kepalanya untuk menatap Len
“Sudah kukatakan, sebuah cermin.” jawab Len
“Dimana tepatnya cermin itu?” tanya Mikuo lagi, kemudian menyerahkan senter biru yang tadi dipegangnya kepada Len. Len mengambil senter itu dengan ragu, kemudian maju beberapa langkah.
“Kemari, ikuti aku,” kata Len pelan. Semua menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan di belakang Len.
.
.
Len mencoba mengingat-ingat jalan yang dilaluinya kemarin. Namun karena banyaknya barang dan kurangnya cahaya, Len menjadi sedikit bingung. Diarahkannya senter di tangan kanannya ke segala arah, mencoba mencari jalan yang benar. Sedangkan keempat orang yang berjalan di belakangnya hanya mengikuti langkah-langkah kecilnya dalam diam.
Tiba-tiba sesuatu melintas di dekat kaki Miku dengan cepat, membuat gadis berkucir dua itu menjerit ketakutan, “KYAAAAAAAAAA APA ITU?!!” Miku langsung berlari kea rah Kaito yang ada di belakangnya dan memeluk lengannya
“Tenang saja, Miku, mungkin itu hanya tikus,” kata Kaito santai sambil sedikit terkikik geli. Mendengar hal itu, Len langsung menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang melihat teman-temannya. Sedangkan Rin langsung merapat pada Mikuo yang berjalan sedikit di depannya.
Miku mencubit lengan Kaito “Aw! Aduh, kau ini apa-apaan sih, Miku?” tanya Kaito sambil mengusap-usap bagian lengannya yang tadi dicubit Miku
“Jangan menakut-nakutiku!” Miku menggembungkan pipinya sedikit
“Hehehe maaf. Tapi aku tidak menakut-nakutimu kok!” Kaito menampakkan cengiran khasnya
“Hmph!” Miku kembali menggembungkan pipinya
“Hei, sudahlah. Kalian ini apa-apaan sih?” tanya Mikuo. Miku dan Kaito saling berpandangan, kemudian mengangkat bahu mereka bersamaan
“Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan,” kata Mikuo sebelum menepuk pundak Len singkat. Len mengangguk dan mulai berjalan lagi.
Mereka terus berjalan diantara barang-barang bekas yang tertutup kain putih dan tumpukan debu di sana-sini. Tak ada suara di sana kecuali suara langkah kaki dan suara nafas mereka sendiri—juga terkadang suara bersin Mikuo. Keempat orang itu kecuali Len sedang sibuk menebak-nebak cermin seperti apakah yang menarik perhatian Len.
“Ke sini,” bisik Len sebelum dia berbelok menuju celah kecil diantara sebuah meja kayu yang tertutup kain putih dan sebuah lemari kayu tua yang sangat besar dan berat. Keempat orang lainnya hanya mengikuti arah langkah kaki Len tanpa menjawab. Len kembali memainkan senternya, mencari-cari dinding gudang. Dan dia menemukannya. Anak lelaki bermata sapphire itu sedikit mempercepat langkahnya menuju ke pojok gudang itu. Kemudian berlari dengan cukup cepat.
“Hei, Len! Tunggu!” seru Rin. Tapi Len tidak bisa menunggu. Anak lelaki itu masih sibuk dengan pikirannya tentang bayangan misterius yang sudah dua kali dilihatnya. “LEN!!” panggil Rin lagi. Lagi-lagi Len tidak menjawab. Rin hanya menggelengkan kepalanya sedikit sebelum mempercepat langkahnya juga. Sedangkan yang lainnya hanya memerhatikan anak kembar itu, kemudian ikut mempercepat langkah juga. Akhirnya Len sampai di pojok ruangan. Dia mengarahkan senternya ke berbagai arah untuk mencari pantulan cahaya dari senternya seperti yang dilihatnya kemarin. ‘Ketemu!’ batinnya. Len beranjak dari tempatnya dan mendekati cermin itu.
Dia mengamati setiap detil cermin itu yang dilewatkannya kemarin. Ternyata itu adalah cermin yang sudah cukup tua. Cerminnya sudah tidak jernih lagi—tapi sedikit kusam karena usia. Pinggirannya pun dipenuhi ukiran-ukiran yang rumit yang dipenuhi debu. Dan kain putih kusam yang menutupi cermin itu kemarin masih teronggok di depan cermin itu.
Pandangan Len kembali jatuh pada cermin itu. Dia menatap bayangannya lekat-lekat. Normal. Anak lelaki berambut pirang dikucir dengan poni berantakan, mata sebiru langit, mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dilipat sampai siku, vest cokelat muda yang terlihat sedikit acak-acakan, celana hitam selutut, dan ikat pinggang berwarna hitam-kuning. Ya, yang dilihatnya adalah bayangan dari Kagamine Len, bukan bayangan anak lelaki dari anak lelaki misterius itu.
Len menutup matanya dan membuang nafasnya dengan lega. ‘Jadi itu memang hanya halusinasiku saja…’ batinnya lega. Anak lelaki berambut berambut pirang itu kembali membuka matanya dan tersenyum kecil ‘Kurasa aku hanya kecapekan karena membantu membereskan kebun Dell dan jadi berhalusinasi tentang anak itu,’ Len meyakinkan dirinya
“Len!” suara Rin membuyarkan pikiran Len. Si pemilik nama menoleh ke arah sumber suara dan dilihatnya empat orang temannya sedang berlari ke arahnya
“Kau ini mengagetkan kami saja! Ada apa? Kenapa tiba-tiba berlari seperti itu?” tanya Kaito
“Maaf,” kata Len
“Dimaafkan. Tapi lain kali jangan membuat kami kaget ya!” sahut Miku dengan senyum. Len menganggukkan kepalanya
“Jadi?” tanya Kaito lagi
Len menoleh kearah Kaito dan mengangguk lagi. Dia menunjuk ke arah cermin yang ada sebelah kanannya.
“Ini cermin yang kau bilang itu?” tanya Mikuo
“Yeah. Tapi kurasa tidak semenarik kemarin. Kurasa aku hanya berhalusinasi,” jawab Len. Sepertinya kalimat terakhir Len cukup untuk membuat Rin dan Miku saling pandang dengan tatapan penuh tanya
“Coba pinjam senternya,” kata Mikuo. Len menyerahkan senter biru di tangannya pada Mikuo. Kemudian remaja berambut aqua itu mengarahkan cahaya senternya ke cermin yang ditunjuk Len.
“A-apa?!!” serunya kaget. Matanya terbelalak kaget menatap pantulan cermin yang tampak di matanya
“Ada apa?” tanya kaito sambil menepuk pundak Mikuo
“I-itu…” Mikuo tergagap, tapi tangannya menunjuk ke cermin yang berada di samping kanan Len
“Mustahil!!” seru Kaito. Seruan Kaito membuat Rin dan Miku menatap cermin itu juga. Seketika mata mereka terbelalak ketika melihat bayangan yang terpantul di cermin
“Ada apa sih?” tanya Len pada teman-temannya yang masih tercengang. Sunyi, tak ada yang menjawab.
Karena tak mendapat jawaban, Len menoleh ke arah cermin itu. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bayangan misterius yang menghantui pikirannya sejak kemarin kembali terlihat. Len dapat melihat rambutnya yang hitam mencapai bagian belakang tengkuknya, juga mata kuningnya yang menusuk, kemeja hitam tak berlengannya, dan dasi putih yang melilit rapi di lehernya. Len memutar tubuhnya menjadi menghadap cermin—begitu pula bayangan anak misterius itu. Len mengangkat tangan kanannya, anak itu mengangkat tangan kirinya. Len menggerak-gerakkan tangan kanannya, anak itu menggerak-gerakkan tangan kirinya. Len memiringkan kepalanya ke kiri, anak itu memiringkan kepalanya ke kanan. Lalu perlahan-lahan disentuhnya permukaan cermin itu dengan menggunakan telapak tangan kanannya, anak itu juga menyentuh permukaan cermin menggunakan telapak tangan kirinya dengan perlahan. Permukaan cermin terasa dingin di kulit Len yang hangat. Namun tiba-tiba rasa dingin itu hilang digantikan oleh rasa hangat. Len terbelalak kaget, sedangkan anak misterius itu hanya tersenyum simpul. Len menarik tangannya lagi dan kembali menatap mata kuning anak itu.
“Len… itu…” bisikan Rin membuyarkan segala pikiran yang berkecamuk di otak Len. Anak lelaki berambut pirang itu menoleh pada saudari kembarnya.
“…siapa?” sambung Rin. Len terdiam. Rin maju selangkah demi selangkah dan mulai mendekati saudara kembarnya yang masih terpaku di depan cermin itu. Seiring dengan langkah Rin yang semakin mendekat, Len kembali memandang permukaan cermin yang menampakkan bayangan anak misterius itu.
Rin berdiri dengan ragu disamping saudara kembarnya dan merapatkan diri padanya. “Len…” bisik gadis itu
Si pemilik nama menaikkan sebelah alisnya ketika melihat ruang kosong di sebelah bayangan misterius itu, tempat dimana seharusnya Rin berada.
“Rin, kenapa bayanganmu tidak ada?” bisiknya
“A-apa?!” Rin mengucek matanya dan berjalan mendekati cermin. Namun hasilnya tetap sama, bayangan Rin tak juga muncul di cermin itu. Gadis berbando itu menoleh ke belakang, mendapati teman-temannya sedang berdiri di belakangnya dan saudara kembarnya. Tapi, tidak ada bayangan mereka di cermin itu. Cermin itu hanya memantulkan bayangan anak misterius yang harus Rin akui bahwa mirip dengan Len. Bayangan anak misterius dalam cermin itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
Len menggelengkan kepalanya. ‘Apa ini masih salah satu dari halusinasiku?’ batinnya
Lagi-lagi Len menjulurkan telapak tangan kanannya dan disentuhnya permukaan cermin dengan tangannya itu. Bayangan anak itu juga melakukan hal yang sama, tappi menggunakan tangan kirinya. Len dapat merasakan permukaan dingin cermin itu, tapi sama seperti sebelumnya tiba-tiba rasa dingin itu berubah menjadi hangat. Seakan-akan Len sedang menyentuh kulit makhluk hidup yang masih bernafas, bukannya permukaan cermin.
Bayangan anak lelaki misterius itu menarik tangannya menjauh dari permukaan cermin, membuat Len kembali merasakan dinginnya permukaan cermin. Len melakukan hal yang sama sambil memandangi anak itu dengan penuh tanya. Sedang anak itu sama sekali tidak menjawab pandangan itu, dia hanya mengepalkan tangan kirinya. Len menaikkan sebelah alisnya, pertanda bahwa dia sangat bingung. Perlahan anak itu membuka kepalan tangan kirinya dan mengisyaratkan Len untuk menghampiri dirinya. Len hanya diam di tempatnya. Dia sama sekali tidak yakin akan apa yang harus dilakukannya.
“Len,” Mikuo menepuk bahu anak lelaki pirang itu, membuatnya sedikit terlonjak
“Inikah yang kau maksud menarik?” sambung Mikuo. Len mengangguk
“Aku juga melihatnya pagi ini di rumah,” tambah Len
“Siapa itu?” tanya Kaito
“Entahlah,” Len menggelengkan kepalanya
Len kembali menoleh ke cermin. Dia melihat anak lelaki misterius itu masih berdiri di sana dan mengisyaratkan Len untuk menghampirinya. Dengan langkah ragu, Len berjalan menghampiri cermin itu kembali menyentuh permukaannya. Len membayangkan akan menyentuh permukaan keras dan dingin seperti sebelumnya, tapi ternyata yang disentuhnya adalah zat tak padat yang mirip air. Hal itu membuat tangannya melesak masuk ke dalam cermin tua itu. Dengan spontan Len menariknya. “A-apa itu?!” serunya
“Ada apa Len?” tanya Kaito
“Coba letakkan tanganmu di cermin itu,” gumam Len
“Hm? Baiklah…” Kaito meletakkan telapak tangan kirinya di permukaan cermin itu. Dia pun mengalami hal yang sama dengan Len, tangan kirinya melesak masuk ke dalam cermin itu. “A-apa?!”
Mikuo, Miku, dan Rin mengamati bagaimana tangan Kaito masuk ke dalam cermin itu. Mereka bertiga hanya saling berpandangan dalam tatapan bingung.
“Kurasa ada sesuatu di balik sana,” perkataan Rin sepertinya menyuarakan apa yang ada di pikiran mereka berlima. Miku mengangguk, “Kurasa Rin benar,” katanya
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Kaito
“Masuk ke sana?” usul Rin
“Kau gila! Mana mungkin kita ke sana?!” seru Mikuo
“Kenapa tidak?” tanya Rin
“Kita tidak tahu apa yang ada di balik sana, kan?” Mikuo balik bertanya
“Justru karena tidak tahu, ya kita cari tahu!” Rin berkacak pinggang. “Kurasa di sana tidak akan ada hewan buas yang mengerikan,” sambungnya
“Kurasa Rin benar. Anak itu sepertinya mengajak kita ke sana,” kata Miku pelan sambil menunjuk anak lelaki misterius itu
Hening. Tak ada yang memberi tanggapan. Semuanya sibuk memerhatikan apa yang terpantul di cermin. Namun hasilnya nihil, perbedaan dari benda asli dan pantulan di cermin tua itu hanyalah anak lelaki misterius itu. Sisanya semuanya sama, meja kayu yang penuh debu, sofa empuk yang ditutupi kain putih kusam, bangku-bangku kecil, lemari-lemari kokoh yang berdebu disana-sini.
“Aku akan ke sana,” Len memecah keheningan
“Len?!! K-kau?!” Mikuo terkesiap mendengar pernyataan Len
“Ya, aku ingin tahu siapa dia,” jawab Len dengan mantap
“Aku ikut,” kata Rin dengan antusias
“Kalau begitu aku ikut juga!” kata Kaito
“Hhh… Apa boleh buat… Aku juga akan ikut,” Mikuo menghela nafas
“Aku juga!” Miku menganggukkan kepalanya
“Tidak, kau tidak boleh ikut!” kata Mikuo tegas
“Aku juga ingin ikut… Aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya,” Miku memainkan pita-pita di baju terusannya
“Tidak!”
“Tapi…”
“Biarkan saja Miku ikut. Kurasa tidak ada salahnya juga kan?” tanya Kaito santai
“T-tapi…” Mikuo melirik wajah Miku yang dipenuhi antusiasme. Rasanya dia tidak tega jika harus memadamkan antusiasme adik tersayangnya dengan satu kata. “Baiklah… Kau boleh ikut…”
“Yeaaah!! Terimakasih kak!” Miku memeluk erat Mikuo, sedangkan Mikuo hanya menepuk-nepuk punggung Miku ringan.
“Baiklah, siap?” Len memberi aba-aba. Semua mengangguk
“Ayo,”
.
.
Mereka berlima terjatuh di atas hamparan rumput hijau yang terasa empuk di bawah mereka. Masing-masing masih sibuk dengan diri mereka sendiri. Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki yang semakin mendekat. Len mencoba membuka matanya, namun sangat sulit entah karena apa. Satu-satunya hal yang dia tahu adalah tempat itu dipenuhi cahaya matahari yang menyilaukan sehingga membuat matanya harus beradaptasi terlebih dahulu.
“Hei, kau yakin mereka orangnya?” tanya suara baritone yang pasti dimiliki oleh seorang pria
“Yeah,” sahut suara lain
“Aku tidak percaya,”kata suara pertama dengan nada meremehkan
“Apa kau bilang—“
“Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar terus!” kata suara ketiga yang pasti dimiliki seorang anak gadis
“Hei, Rui, jangan dihentikan dulu. Ini semakin menarik!” kata suara keempat dengan nada jahil
“Cukuuuup!” gadis itu berteriak. Sesaat kemudian hening, tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. “Hei… kalian tidak apa-apa kan?” tanya si gadis
“Aku yakin mereka baik-baik saja,” suara keempat berkata sambil menusuk-nusuk pipi Kaito dengan jari telunjuknya yang dicat merah
“Ummhh… Kalian… siapa?” tanya Len lemah sambil mengucek matanya yang sakit
“Kami? Hahahaha kurasa lebih baik kujelaskan saat teman-temanmu sudah sepenuhnya sadar!” kata pemilik suara baritone
“Ummhh…” Pandangan Len mulai jelas, kini dia bisa melihat sosok-sosok yang tadi bertengkar di dekat mereka. Len melihat empat orang dengan umur berbeda-beda sedang mengelilingi mereka. Sosok pertama bertubuh tinggi dengan rambut berwarna hitam pekat, namun sebagian rambut di bagian samping wajahnya dicat merah senada dengan warna baju luarannya. Dia menggunakan aksesori yang terlihat seperti sabuk di kedua pergelangan tangan serta pergelangan kakinya sebuah. Dan sebuah sabuk merah meliliti pinggangnya. Baju luarannya yang berlengan panjang itu tidak dikancingkan, memperlihatkan baju berwarna hitam yang menutupi dadanya.
Kemudian sosok kedua adalah anak lelaki misterius yang dilihat Len dan teman-temannya tadi. Tapi sekarang Len dapat melihat sosoknya lebih jelas. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai mencapai tengkuknya, matanya yang kuning memandang tajam, dan kulitnya seputih porselen. Kemeja hitam beraksen kuning yang dikenakannya berbeda di bagian lengannya—yang kanan berlengan panjang sedangkan yang kiri lengannya terpisah. Dasi putih melingkar rapi di lehernya. Celana abu-abu yang dikenakannya terlihat rapi ditambah dengan sabuk berwarna hitam-putih juga sepatu putih dengan sedikit aksen kuning
Lalu sosok ketiga adalah versi perempuan dari sosok kedua. Rambut mereka sama-sama hitam, namun rambut gadis ini memakai jepit untuk menahan poninya dan pita putih di bagian belakang kepalanya. Matanya juga yang berwarna kuning sama menusuknya dengan sosok kedua, juga kulitnya yang seputih porselen. Tapi gadis ini mengenakan baju putih tak berlengan yang bagian bawahnya berbentuk zig-zag serta vest tanpa lengan berwarna hitam dan pita putih terikat manis di kerahnya. Ditambah dengan rok abu-abu selutut dan celana hitam ketat juga ikat pinggang hitam-putih dan sepatu putih dengan sedikit aksen kuning
Sosok keempat sangat mirip dengan Kaito. Hanya warna rambut dan gaya berpakaiannya saja yang berbeda. Badannya tinggi dan bisa dikatakan kurus. Warna rambutnya yang merah serasi dengan mata dan syal yang melingkar di lehernya. Pakaiannya seperti mantel berbahan ringan berwarna putih dengan aksen merah dan kuning di beberapa bagian. Mantel itu sama sekali tidak dikancingkan, memperlihatkan kaos hitam ketat yang dikenakannya sebagai dalaman. Celana cokelatnya terlihat sangat pas di kakinya dilengkapi dengan ikat pinggang berwarna hitam polos dan sepatu berwarna putih dengan aksen merah.
Tapi ada satu hal yang menjadi kesamaan mereka. Earphone. Mereka semua menggunakan earphone, meskipun dengan berbagai warna dan ukuran. “Selamat datang di, Hyuponia,” kata mereka berempat
.
.
TO BE CONTINUED
TO CHAPTER IV: REFLECTIONS AND SHADOWS
.
Akhirnya chapter III selesai jugaa! Fyuuh… Saku ngerjainnya dengan penuh pengorbanan nih! (ngaco tuh *gaploked*) Gomen kalau updatenya bener-bener lama… -___- Aih, jadi ga enak sama Readers yang udah penasaran sama fic ini… Oh ya mohon maaf juga ya kalau banyak typo, penuh dengan OOCness, dan ceritanya aneh bin ga jelas. Thanks for all Readers! Baik yang ngereview ataupun yang hanya jadi Silent Readers! Saku seneng kalau ada orang yang mau baca fic Saku! ^u^
And, special thanks to: RIO ADITYA PERMANA a.k.a FUYUGAMI RYO!!! Thanks ya udah bantuin Saku bikin fic ini… Tanpa bantuanmu, fic ini ga akan jadi gini *lebay mode: ON*


*sesama bernuansa 'mirror' hehehe... :P*

24/08/10

Behind the Mirror chapter: II

.
Summary: Apa kau tahu apa yang ada di balik cermin? Ketika kau tahu, bisakah kau mengingkarinya? CHAPTER II: REFLECTION: …kami hanyalah anak-anak biasa yang berharap bisa mengubah diri kami…
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
.
BEHIND THE MIRROR
.
.
Aku ingin menjadi lebih kuat!
Aku ingin menjadi lebih hebat!
Aku ingin bisa melindungi orang-orang yang kusayangi!
Aku ingin dunia melihatku!
.
Murasaki Sakura Presents:
BEHIND THE MIRROR
CHAPTER II: REFLECTION
…Siapakah yang ada di sana? Apakah itu aku?…
.
Dua orang anak tengah berusaha berlari di sebuah jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berdesakan. Tangan mereka yang saling menggenggam membantu mereka agar tidak terpisahkan. Kedua anak itu tampak terengah-engah karena aktivitas mereka, terutama karena pasokan oksigen yang mereka dapat semakin menipis diantara kerumunan orang yang memenuhi jalan yang mereka lalui.
“Len, kita lewat jalan lain saja deh. Kalau kita di sini terus, bisa-bisa kita jadi gepeng!” kata salah seorang dari mereka yang bernama Rin
“Yeah, kurasa kau benar.” Len mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa melepas genggaman tangan mereka
“Aku tahu gang yang bisa dipakai untuk jalan pintas!” seru Rin
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita pergi!” seru Len
Lalu kedua anak itu berusaha mencari jalan keluar di antara kerumunan orang itu. Akhirnya setelah beberapa menit berusaha, kedua anak kembar itu berhasil sampai di depan gang yang dimaksudkan oleh Rin. Lalu mereka berlari memasuki gang itu tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
.
.
Seorang pemuda kurus berambut pirang yang berpakaian penjaga abu-abu menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Dia berdecih sebelum membukakan pintu gerbang pada dua orang anak kembar berambut pirang yang kemarin membuatnya malu di depan atasannya. Len tersenyum dan mengangguk padanya saat pemuda kurus bernama Leon itu membukakan gerbang untuk mereka.
“Wah, sepertinya kali ini dia tidak melupakan kita, ya kan, Len?” tanya Rin dengan nada mengejek
Len tidak menjawab pertanyaan Rin dan menyikut kakak kembarnya.
“Aduh, apa sih Len?” tanya Rin sambil mengusah-usap sikunya
“Miku dan Kak Mikuo sudah menunggu,” jawabnya, lalu menggamit tangan Rin
Rin menganggukkan kepalanya dan melepaskan genggaman tangan Len. Lalu dia berjalan di belakang Len. Setelah beberapa langkah dari gerbang utama, gadis berbando itu menolehkan kepalanya ke arah pos jaga dan melihat Leon tengah memandangi mereka dengan tatapan tidak suka. Rin menjulurkan lidahnya keluar dengan gaya mengejek pada Leon. Leon langsung tersentak dan meninggalkan pos jaganya. Rin hanya cekikikan mendapan reaksi seperti itu. Lalu gadis itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
.
.
“Nona Miku dan Tuan Mikuo sudah menunggu Anda,” kata seorang pelayan pria berambut biru panjang dan berkacamata. “Silahkan ikuti saya,” tambahnya
Rin dan Len pun berjalan di belakang pelayan itu. Mereka bertiga berjalan menjauhi ruang perpustakaan dan ruang duduk pribadi Miku dan Mikuo yang terletak di bagian timur puri dan malah berjalan ke arah barat puri. Rin yang mulai bingung pun bertanya pada pelayang berkacamata itu, “Sebenarnya kita mau kemana, Taya?”
Pelayan berkacamata yang bernama Taya itu menghentikan langkahnya sejenak sebelum membalikkan wajahnya dan menjawab pertanyaan Rin, “Tuan Mikuo berpesan bahwa saya harus membawa Anda ataupun Tuan Kaito ke Taman Mawar kesukaan Nona Miku yang berada di sayap barat puri ini.”
“Kenapa?” tanya Len
“Saya sendiri tidak tahu. Tuan Mikuo hanya berpesan seperti itu.” Taya membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot, lalu kembali membalikkan wajahnya ke depan. Kemudian dia pun melanjutkan langkahnya diikuti si kembar Kagamine.
.
.
Setelah berjalan melewati lorong panjang yang menghubungkan begitu banyak ruangan, mereka bertiga sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu oak yang kokoh. Di sebelah pintu itu, terdapat sebuah meja kecil serta kursi kecil yang ditempati oleh seorang pemuda berkacamata yang berpakaian penjaga. Namun, warnanya berbeda dari pakaian penjaga yang dikenakan penjaga puri yang sering dilihat Rin dan Len, warnanya hitam dengan aksen merah marun di beberapa bagian sedangkan pakaian penjaga biasa hanya berwarna abu-abu dengan aksen hijau tua di beberapa bagiannya. Pemuda itu tengah asik membaca buku yang ada di tangannya tanpa memerhatikan kami.
Taya berdehem. “Ehm,”
Sepertinya hal itu membuat konsentrasi pemuda itu terpecah, jadi dia menengadahkan kepalanya dari bukunya sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Selamat pagi, Ted.” sapa Taya pada pemuda itu
“Taya. Ada apa?” tanyanya singkat
“Aku membawa teman Tuan Mikuo dan Nona Miku.” jelas Taya sambil mengembangkan senyumnya
“Halo, aku Kagamine Rin! Ini kembaranku, Len!” sapa Rin
“Ya, halo. Aku Kasane Ted.” kata pemuda berambut merah itu sambil sekali lagi membetulkan letak kacamatanya
“Apa Sora belum kembali?” tanya Taya
“Belum. Bocah orange itu pasti bolos lagi.” Ted menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat kunciran rambutnya bergoyang ke kanan dan ke kiri
“Hhh… Dasar… kalau dia sudah kembali, bilang padanya Momo memanggilnya.” Taya ikut menggeleng-gelengkan kepalanya
“Ada lagi?” Ted mengangguk
“Tidak, terimakasih Ted,” Taya menepuk pundak pemuda yang lebih beberapa inchi darinya itu, membuat Ted sedikit mengernyit. Taya berbalik ke arah Rin dan Len yang memerhatikan percakapannya dan Ted dari tadi. “Silahkan Tuan dan Nona ikuti saya lagi,” katanya dengan senyum terbentuk di bibirnya. Lalu ketiga orang itu kembali melangkahkan kaki mereka setelah pintu oak yang kokoh itu dibukakan oleh Ted.
“Silahkan,” katanya
“Terimakasih,” kata Len, diikuti Rin yang mengangukkan kepalanya pada penjaga berambut merah itu.
.
Begitu melewati pintu oak itu, mereka bertiga disambut oleh sebuah patung pemuda yang menunggang kuda yang terbuat dari gips. Di depan patung itu terdapat sebuah bangku taman mungil yang diapit oleh dua semak bunga liar yang berwarna-warni. Kami memutari patung itu dan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu.
Tanaman yang dipotong seperti tembok menghiasi hampir seluruh pinggiran jalan setapak yang dilewati tiga orang itu. Kadang terdapat celah untuk orang keluar-masuk di antara tanaman itu. Tapi Taya yang memimpin perjalanan memutuskan untuk tidak berbelok ke arah celah-celah itu maupun ke cabang-cabang jalan setapak lain yang tak bisa lagi dihitung oleh Rin. Ketiga orang it uterus berjalan mengikuti jalan setapak lurus yang dari awal mereka pijak tanpa berbelok.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka bertiga sampai di depan sebuah gapura yang terbuat dari kayu yang dicat putih serta dirambati tanaman rambat yang berbunga warna-warni. Gapura itu ternyata berujung pada pagar kayu yang dicat putih. Di belakang pagar putih itu terdapat semak bunga liar yang terawat rapi.
“Silahkan ikuti saya,” ucap Taya sambil kembali menoleh ke arah kedua remaja berambut pirang itu
‘Dari tadi kami mengikutimu…’ kata Rin dalam hati
Setelah mengatakan hal itu, Taya membuka pagar kayu pendek yang ada di depan mereka dan mempersilahkan kedua remaja itu untuk masuk. Sebuah pohon besar ditanam di tengah-tengah taman kecil itu dan dibawahnya terdapat dua bangku taman panjang dan beberapa kursi kayu kecil yang dicat putih serta dua buah meja kayu panjang yang juga dicat putih. Kedua meja kayu panjang diatur sehingga diapit oleh bangku taman saling berhadapan. Sedangkan kursi-kursi kayu yang berukuran kecil diletakkan di dekat kedua bangku taman.
Dua orang yang duduk saling berhadapan di bangku taman tengah mengobrol santai. Salah satunya sedang bertopang dagu, sedangkan satunya lagi sedang memainkan ujung syalnya. Dan orang ketiga, atau si gadis sedang memetik beberapa bunga dari semak-semak yang ada di belakang pagar putih pembatas.
“Tuan Mikuo, saya datang bersama Tuan Len dan Nona Rin,” kata Taya sopan dengan badan membungkuk
“Ah, akhirnya kalian datang juga! Terimakasih, Taya,” sahut Mikuo yang langsung berdiri dari posisinya semula
Kedua remaja berambut pirang itu langsung berlari ke arah Mikuo setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan yang telah mengantar mereka. Sedangkan pelayan berkacamata itu langsung pergi meninggalkan tuan dan nonanya bersama teman-temannya.
“Aku tidak percaya kalian telat lagi!” seru Miku
“Ah, jalanan benar-benar padat! Kami sampai susah berjalan!” kata Rin
“Ayolah, akui saja kalau ini adalah kebiasaan baru kalian!” kata Kaito bercanda
“Kaito, jalanan benar-benar padat! Lagi pula untuk apa telat dijadikan kebiasaan? Emang kami itu kau?” tanya Rin ketus sambil berkacak pinggang
“Hahahaha baiklah, maafkan aku.” Kaito menghampiri kedua remaja itu dan menepuk kepada mereka yang tertutupi rambut pirang
“Jadi, apa kakak menemukan kuncinya?” tanya Len pada Mikuo sekaligus untuk mengubah topik
“Coba tebak?” Mikuo membalikkan pertanyaannya sambil tersenyum jahil
“Kakak menemukannya?” tebak Rin
“Entahlah!” wajah Mikuo berubah lesu, disusul oleh wajah ketiga orang lainnya.
“Tapi aku menemukan ini!” seru Mikuo dengan seringai jahil di wajahnya sambil menunjukkan gantungan bulat yang penuh dengan kunci-kunci
“Horeeee! Kalau gitu kenapa kita ga langsung ke gudang?” seru Rin penuh semangat
“Ide bagus!” Mikuo mengangguk. “Ayo!”
.
.
Sebuah bangunan besar dari kayu bercat cokelat tua berdiri di hadapan lima orang itu. Di sisi kiri dan kanan bangunan itu terdapat dua buah pohon besar yang tidak berbuah maupun berbunga, dan di beberapa bagian dinding kayunya sudah ditumbuhi tanaman rambat yang berbunga ungu. Pintunya yang berukuran sangat besar digembok dan dirantai. Dengan santai Mikuo berjalan ke arah gembok itu sambil memainkan kunci-kunci yang bergemerincing di tangan kanannya. Keempat orang lainnya menyusul dengan langkah-langkah kecil di belakangnya.
Pemuda berambut aqua itu mencoba kunci pertama. Setelah diputar berulang kali, hasilnya gagal. Bagitu juga dengan kunci kedua, ketiga, dan keempat. Namun, pemuda berambut aqua itu berhasil pada percobaannya yang kelima kali. Kuncinya berputar diiringi suara klik pelan dan gembok pun terbuka. “Yes!” Mikuo berbisik. Mendengarnya, Kaito dan Len langsung menghampiri Mikuo dan membantu pemuda itu melepas rantai yang melilit gagang pintu itu.
Setelah beberapa detik, rantai berhasil tersingkir dan kini rantai itu teronggok begitu saja di samping pintu yang sudah terbuka. Mikuo tersenyum lebar memerhatikan hasil kerjanya, “Oke, kita masuk!” katanya dengan penuh semangat. Keempat temannya pun menganggukkan kepala mereka dan berjalan mengikuti Mikuo masuk ke bangunan yang digunakan sebagai gudang keluarga Hatsune itu.
.
.
Begitu berada di dalam, mereka langsung disambut oleh kegelapan yang ada di sana. Rin bergidik ngeri saat melihat sesuatu melesat dengan cepat diantara benda-benda yang ada di sana. “Len…” dia memeluk lengan Len yang ada di sebelahnya
“Tenang saja, Rin. Paling hanya tikus,” Len menoleh ke arah saudari kembarnya
“Tikus? Kuharap bukan.” Miku ikut-ikutan memeluk lengan Len
“Hei, kalian ini apa-apaan sih?” Kaito menaikkan sebelah alisnya saat melihat ke arah Rin, Len, dan Miku
“Kami takut…” kata Miku
“Kalian ya, aku tidak,” kata Len
“Hei Miku, bukankah kau kuminta membawa senter?” tanya Mikuo
“Ah iya, ada di sini,” Miku merogoh saku rok terusannya yang berwarna merah marun
“Ada! Tiga buah senter,” katanya sambil menyerahkan senter-senter itu ke tangan kakaknya
“Aku juga bawa senter!” kata Kaito sambil mengeluarkan sebuah senter berwarna biru tua dari saku celana jeansnya
“Baguslah, kalau begitu kita punya empat senter. Aku satu, Kaito satu, Len satu, dan kalian satu.” kata Mikuo sambil membagi-bagikan senter di tangannya
“Kita cari apa nih?” tanya Len
“Terserah, cari saja benda yang menurutmu menarik, lalu bawa kemari. Berhubung gudang ini sangat besar, jangan sampai tersesat ya.” jawab Mikuo. Keempat orang lainnya menganggukkan kepala mereka masing-masing
“Kita ketemu di sini lima belas menit lagi,” tambah Mikuo
“Baiklah,” Kaito menganggukkan kepalanya lagi, “Ayo mulai!” serunya
.
.
[Bagian Kaito]
Kaito berjalan ke arah rak-rak buku yang penuh dengan berbagai buku berdebu dan botol-botol berbentuk aneh. Senternya terus diarahkan ke atas dan ke arah depan, sedangkan matanya terus mengikuti arah cahaya senternya yang bisa dibilang cukup kecil. Tiba-tiba sesuatu melesat dan berputar-putar di dekat kakinya. “HUWAAAAA!!!” seru Kaito kaget. Lelaki berambut biru itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh menyenggol sebuah rak, menimbulkan bunyi ‘BRAK’ yang lumayan keras dan suara ‘KRAK’ serta ‘TRING’.
Dengan cepat Kaito kembali berdiri dan langsung mengarahkan senternya ke rak yang tadi disenggolnya—mengecek kalau-kalau ada benda yang pecah atau jatuh karenanya. Mengetahui semua baik-baik saja, Kaito membuang nafasnya lega. Tiba-tiba sebuah bola kaca menggelinding ke arah kaki Kaito dan membentur kakinya, menimbulkan suara ‘TUK’ pelan.
“Huh? Apa ini? Bola?” Kaito membungkuk dan mengambil bola kaca itu
Bola itu berukuran lebih kecil dari genggaman tangannya. Warnanya bening dan sedikit kusam karena tertutup debu. Kaito memutar-mutarkan bola kaca di tangannya itu sambil sesekali mengusapnya untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel di sana. Pemuda berambut biru itu menggenggam erat bola kaca itu. Kemudian membuka lagi genggaman tangannya. “Ternyata tidak serapuh yang kukira,” kata Kaito
Kaito mengantongi bola kaca itu dan kembali berjalan.
‘Semoga ada benda menarik,’
.
[Bagian Mikuo]
“Hatsyiiii!” suara bersin Mikuo memecah kesunyian di sana
“Ah, sial! Debunya banyak sekali!” rutuk Mikuo sambil menyeka hidungnya dengan tangan kemeja putihnya
Dia berjalan dengan tangan menutupi hidung, mencegah debu-debu yang berterbangan di sekitarnya untuk membuatnya bersin lagi. Mikuo mengedarkan pandangannya ke benda-benda yang ada di sekitarnya. Mayoritas dari benda-benda itu adalah meja dan kursi yang tertutup kain putih kusam serta beberapa perkakas berdebu yang sama sekali tidak menarik. Mikuo menyibak kain yang menutupi sebuah meja kayu. Debu berterbangan dari kain putih yang digunakan untuk menutupi meja itu.
“Hatsyiiii!” lagi-lagi Mikuo bersin
Senternya diarahkan ke atas meja itu. Dia berusaha mencari benda menarik yang mungkin ada di atas meja itu. Sayangnya tidak ada apapun di atas meja itu. Tapi Mikuo tidak patah semangat, dicarinya laci, lalu dibukanya laci-laci itu. Memang, sebagiannya terkunci, tapi dia mengobrak-abrik laci-laci yang tidak terkunci. “Apa di sini tidak ada benda yang menarik?” umpatnya.
Mikuo kembali berjalan ke depan dan mengecek laci-laci serta rak-rak, tapi sama sekali tidak menemukan satu hal pun yang menarik.
“Huh, lebih baik aku kembali saja,” kata Mikuo seraya menaruh tangan kirinya di pinggang, dan memutar-mutarkan senter yang ada di tangan kanannya.
.
[Bagian Miku dan Rin]
Cahaya senter yang menjadi satu-satunya penerang mereka terlihat sedikit gemetar.
“Miku, hentikan! Kau membuat cahayanya terlihat kabur!” kata Rin sambil menarik ujung baju terusan Miku
“M-maaf, Rin. Aku takut…” sahut Miku dengan suara bergetar
“Aku juga… Coba kalau Len ada di sini…” timpal Rin
“Sudahlah, lebih baik kita cari barang yang menarik!” usul Miku masih dengan suara yang sedikit bergetar
“Ide bagus,” Rin menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun berjalan masuk lebih dalam ke gudang itu.
.
Miku yang bertugas memegang senter berjalan dengan langkah kecil-kecil, dia takut dengan monster yang mungkin melompat keluar dari persembunyiannya dan memakan dirinya dan Rin. Kakinya yang tertutup kaus kaki putih selutut dan rok terusan selutut sedikit gemetar. Jari-jari lentiknya yang memegang senter pun belum berhenti bergetar.
Sedangkan Rin yang berada di belakangnya memegang erat ujung pita yang ada di bagian belakang baju terusan Miku. Tangannya sedikit gemetar, namun pandangannya tetap lurus ke depan, sambil sesekali mengamati apa yang ada di sekitarnya. Rin memasang telinganya baik-baik, mencoba mendengarkan seluruh bunyi mencurigakan yang mungkin berasal dari binatang pengerat yang ditakutinya atau dari serangga-serangga lain. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.
“KYAAAAAAA!!” seru Rin. Gadis berbando pita itu jatuh terjengkang ke belakang
“Ada apa, Rin?!” tanya Miku panik sambil menyenteri lantai di sekitar Rin
“D-di sana…” Rin menunjuk belakang Miku dengan jari gemetar
“A-ada apa?” tanya Miku dengan suara bergetar
“Coba kau senteri,” kata Rin yang masih dalam keadaan terduduk. Miku menelan ludah, lalu mengangguk. Gadis berkucir dua itu berbalik dengan perlahan dan menggerakkan senternya kesana-kemari, mencoba mencari sesuatu yang membuat Rin sangat ketakutan.
“Ada apa sih?” tanya Miku tanpa menoleh ke belakang
“Coba di sekitar sana…” Rin mengarahkan tangan Miku yang memegang senter ke arah serong kanan atas. Tiba-tiba iris aqua Miku menangkap dua benda yang berada di rak paling atas. Dua benda itu adalah dua buah topeng. Yang satu berwarna putih polos tak bermotif dan satu lagi berwarna sebagian putih dan sebagian lagi hitam. Di bagian hitamnya terdapat garis meliuk berwarna merah pekat yang berawal dari bolongan untuk mata, seakan-akan itu adalah air mata darah. Sedangkan pada bagian putihnya terdapat warna biru yang dilukis berbentuk air mata tepat di bawah bolongan untuk mata. Dan sekilas topeng itu seperti menyeringai.
“Kurasa, kita bawa ini saja,” usul Miku dengan suara bergetar
“Kau bisa mengambilnya?” tanya Rin. Miku hanya mengangkat bahu. Lalu gadis berkucir dua itu berjinjit dan berusaha menggapai kedua topeng itu, tapi tidak berhasil.
“Kurasa kalau Kak Mikuo, pasti bisa.” kata Miku. Rin mengangguk. Kemudian dia mencari sesuatu yang dapat dijadikan pijakan.
“Ada! Kita bisa pakai kursi ini untuk pijakannya!” seru Rin sambil menarik sebuah kursi kayu mini
“Mungkin!” Miku tersenyum, lalu membantu Rin menaruh kursi itu di tempat yang tepat. Kemudian gadis berkucir dua itu menaiki kursi itu dan mengambil kedua topeng yang sempat mengejutkan mereka itu. “Rin, tangkap!” Miku melemparkan topeng-topeng itu pada Rin yang siap menangkapnya di bawah
“Hup! Yak, aku dapat!” seru Rin
“Kalau begitu, ayo kita kembali!” ajak Miku yang sudah turun dari kursi itu. Rin mengangguk dan menggandeng tangan Miku.
.
[Bagian Len]
Len berjalan dengan langkah kecil diantara furnitur-furnitur tua serta rak-rak yang dijejali berbagai benda. Matanya terus mencari barang menarik yang mungkin berada di rak-rak itu. Len mengamati setiap baris rak serta setiap furnitur yang dilewatinya, kalau-kalau ada barang menarik yang terselip di sana. Tapi nihil, dia tidak menemukan satu benda pun yang menarik perhatiannya. Len menghela nafasnya dan terus berjalan, membiarkan kakinya yang memimpin pencariannya.
Kakinya terus berjalan ke depan tanpa berhenti, hingga membuat Len harus mengingat jalan yang dilewatinya sebelumnya. Kakinya belum juga memutuskan untuk berhenti saat matanya melihat dinding kayu gudang itu. Len malah mempercepat langkahnya, karena dia merasa akan menemukan benda menarik di ujung gudang itu.
Saat wajahnya berada di depan dinding kayu, Len menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh kesana-kemari, mencari benda menarik yang mungkin ada di sana. Len mengarahkan senternya ke berbagai arah sambil terus mencari benda menarik. Tiba-tiba ekor matanya menangkap kilatan cahaya. Len langsung menoleh ke arah kilatan cahaya tersebut dan menemukan sebuah cermin besar yang hampir setengahnya tertutup sebuah kain putih yang kusam. ‘Ternyata hanya cermin…’ pikir Len. Dia menarik kain putih itu hingga kain itu jatuh ke lantai kayu dengan halus.
Len menatap pantulan dirinya di cermin itu. Sepertinya sedikit berbeda, wajahnya jadi lebih tembem, badannya jadi lebih pendek, dan matanya jadi berwarna kuning. Len mengucek matanya dengan tangan kirinya dan kembali melihat pantulan dirinya di cermin besar itu. Normal. Bocah lelaki dengan rambut pirang dan poni berantakan serta mata biru. ‘Mungkin hanya perasaanku saja,’ Len menghela nafasnya.
Sekali lagi Len melihat pantulan dirinya di cermin. Lagi-lagi terlihat bocah setingginya dengan rambut sedikit panjang yang tergerai dan poni berantakan persis miliknya, namun rambut bocah itu berwarna hitam. Dan lagi mata bocah itu yang berwarna kuning berbeda dari matanya yang sebiru sapphire. Kali ini bocah di balik cermin itu menyeringai ke arahnya.
“HUWAAAAAA!” teriak Len kaget sambil melemparkan senternya. Dia jatuh terduduk dengan mata masih terpaku pada cermin besar di depannya. Dengan terburu-buru diambilnya lagi senternya yang tadi terlempar. Lalu Len mengucek matanya sekali lagi dan melihat bayangannya di cermin sekali lagi. Aneh, lagi-lagi bayangannya kembali menjadi normal. Dengan jantung yang berdebar-debar, Len berjalan menuju pintu utama—tempat awal mereka berlima—berusaha meninggalkan cermin besar itu dengan cepat.
Tanpa disadarinya sesosok bayangan bocah berambut hitam tengah memerhatikannya dari balik cermin dengan mata kuningnya.
.
.
TO BE CONTINUED
TO CHAPTER III: ANOTHER WORLD
.
Yahha! Behind the Mirror chapter II akhirnya selesaaai!!! ^o^ Saku akui, Saku ngerjain fic ini sedikit terburu-buru, soalnya udah terlambat dari target yang Saku tentuin (maklum, minggu lalu Saku sakit, jadi sama sekali ga bisa nyentuh komputer). Nah, karena Saku ngerjainnya buru-buru, mohon maaf kalau banyak typo…

25/07/10

Behind the Mirror

.
Summary: Apa kau tahu apa yang ada di balik cermin? Ketika kau tahu, bisakah kau mengingkarinya? CHAPTER I: INTRODUCTION: …kami hanyalah anak-anak biasa yang berharap bisa mengubah diri kami…
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
.
BEHIND THE MIRROR
.
.
Aku ingin menjadi lebih kuat!
Aku ingin menjadi lebih hebat!
Aku ingin bisa melindungi orang-orang yang kusayangi!
Aku ingin dunia melihatku!
.
Murasaki Sakura Presents:
BEHIND THE MIRROR
CHAPTER I: INTRODUCTION
…kami hanyalah anak-anak biasa yang berharap bisa mengubah diri kami…
.
Angin berhembus lembut membuat daun bergemerisik sekaligus membawa berbagai aroma yang nikmat. Aroma embun, aroma roti panggang, aroma sabun, dan aroma telur. Seorang gadis remaja berambut pirang tengah asik memainkan telur-telur di atas sebuah wajan dengan spatula kayu. Gadis itu menyenandungkan lagu riang sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Seiring dengan goyangan kepalanya, rambut pirangnya yang dikucir tinggi di samping pun ikut bergoyang.
“Ima ugoki hajimeta kasokusuru kiseki… Nanana nananana tomaranai… Nanananana,” gadis itu menyenandungkan lagunya
“Pagi, Neru,” sapa sebuah suara malas yang sukses membuat gadis pirang berkucir satu itu sedikit terlonjak
“Len! Lagi-lagi kau mengagetkanku!” gadis pirang bernama Neru itu berkata pada sepupu laki-lakinya yang bernama Len. Sedangkan, si lawan bicara hanya menggaruk-garuk rambut jabriknya yang berwarna pirang dengan malas.
“Rin belum bangun?” tanya Len yang masih setengah tertidur
“Belum.” Neru menggeleng
“Hmmm…” Kemudian dengan langkah malas, Len beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Tapi, baru juga akan memutar knop pintu, seseorang sudah membukanya dari sisi lain. Setelah pintu terbuka sepenuhnya, Len dapat melihat seorang gadis remaja seumurannya sedang tersenyum ke arahnya. Rambut gadis itu pirang, sama dengannya. Matanya pun sebiru sapphire, sama dengannya. Ya, itu adalah kembaran Len, Rin. Yang membedakan mereka berdua hanyalah gender dan gaya rambut mereka. Rambut Len jabrik tapi dikucir di bagian belakang, sementara rambut Rin pendek sebahu dan selalu dihiasi bando putih berpita yang telah menjadi ciri khasnya.
“Pagi, Len!” sapa Rin dengan senyum terkembang di wajahnya
“Pagi, Rin…” balas Len malas
“Tadi kudengar ada yang memasak di dapur. Kupikir itu kau.” kata Rin santai
“Hn? Bukan. Yang masak itu Neru…” sahut Len sambil mengucek matanya yang terasa berat
Mereka berdua terdiam. Lalu tiba-tiba tersentak.
“NERU!” seru mereka bersamaan sebelum melesat ke dapur.
Sedangkan gadis yang dimaksud masih asik dengan nyanyian—ehm—maksudnya telur orak-ariknya. “Sono hitomi no naka nanana nanana… Kore ga watashi no nozonda kokoro… Lalalala…” sekarang suara si pirang berkucir satu itu sudah semakin keras. Dia pun sepertinya semakin terhanyut ke dalam lagu yang dinyanyikannya dan semakin melupakan telur orak-arik yang sudah mulai menghitam di wajannya.
“NERU!” seru si kembar Kagamine. Si pemilik nama pun sontak melemparkan wajan yang ada di tangannya ke sembarang arah dan membuat telur orak-arik gosong yang berada di atasnya ikut terlempar dan berhamburan kemana-mana.
“Aaaaah!” seru Len
“Neruuuuu… Itu kan telur terakhir kita!” geram Rin
“H-hei! Ini kan salah kalian! Siapa suruh kalian mengagetkan aku?” seru Neru. Rin menunjuk serpihan telur orak-arik yang mendarat di dekat kakinya.
“Meskipun kau tidak melemparkan wajanmu, kami tetap tidak akan bisa makan telur orak-arik pagi ini! Bahkan telurnya gosong!” kata Rin dengan nada menuduh
 “Aku kan hanya mencoba membantu Len… Tadi kulihat dia masih tidur dengan nyenyak. Kurasa Len kecapekan karena kemarin membantu Dell membereskan kebunnya,” kata Neru dengan suara kecil
“Sudah berapa kali kubilang sih? Yang masak itu cukup Len saja! Aku tidak mau sakit perut karena makananmu!” sahut Rin dengan pedas
“Sudahlah, toh kita masih punya roti, kan?” lerai Len sambil menepuk pundak Rin
“Huh!” Rin membalikkan badannya dan berjalan ke kamarnya meninggalkan Neru dan Len yang hanya menatap punggung gadis berbando itu
“Maaf ya, Neru. Aku tahu maksudmu baik, tapi biar aku saja yang memasak.” Len tersenyum pada Neru
“Iya… Tapi kan…”
“Kau bisa membantuku untuk pekerjaan yang lain,” potong Len cepat. Mendengarnya, Neru hanya mengangguk.
“Nah, sekarang, bisa tolong bersihkan telur-telur ini? Aku mau mengganti piyamaku dulu.” pinta Len. Neru mengangguk sekali lagi dan beranjak mengambil sapu.
.
.
Beberapa menit kemudian, Len turun dari kamarnya dan berjalan menuju dapur dengan baju sehari-harinya, sebuah kemeja putih berlengan panjang dilipat sampai siku dan celana hitam selutut ditambah dengan ikat pinggang berwarna kuning serta gesper berwarna hitam. Rambut jabriknya sekarang sudah diikat rapi seperti biasanya dan wajahnya sudah terlihat lebih segar.
Sesampainya di dapur, Len langsung bisa mendengar suara Neru yang sedang bersenandung dan suara sapu yang bergesekan dengan lantai kayu. Len mengambil beberapa lembar roti, lalu memasukkan dua diantaranya ke mesin pemanggang roti. Lalu mengambil sebuah mug berwarna cokelat dengan motif garis-garis dan berjalan menghampiri kulkas. Setelah itu, dia mengambil sebotol susu dingin dari kulkas dan menuangkannya ke mug garis-garisnya.
TING!
Terdengar suara ‘ting’ dari mesin pemanggang roti. Len langsung mengambil roti yang ada di mesin itu dan menggantinya dengan roti yang lain. Lalu dia membuka lemari yang berisi piring dan mengeluarkan sebuah piring yang berukuran cukup besar, kemudian meletakkan roti yang sudah dipanggang di atas piring itu. Sambil menunggu roti selesai dipanggang, Len duduk di kursi dan meminum susu dinginnya.
“Neru,” panggil Len
“Ya?” sahut Neru tanpa menghentikan gerakan sapunya
“Kak Luka bilang hari ini kau harus datang ke toko bunganya.” kata Len
“Hee? Ada apa memangnya?” Neru menghentikan gerakan sapunya dan menatap Len
“Tidak tahu. Katanya sih membicarakan tentang Gumi. Memang Gumi itu siapa?” tanya Len
“Oh!” Neru menjentikkan jarinya. Len hanya menatap sepupunya dengan tatapan bingung
“Itu, Gumi keponakannya pemilik toko buah yang ada di dekat toko bunganya Luka.” terang Neru
“Oooh yang rambutnya hijau itu?” tanya Len lagi
“Iya,” Neru mengangguk sebelum kembali menyapu
“Memangnya si Gumi itu kenapa?” tanya Rin yang tiba-tiba sudah berada di belakang Len
“Rin!” seru Neru kaget
“Apa?” sahut Rin. Neru menggeleng
“Jadi, si Gumi itu kenapa?” ulang Rin
“Minggu depan dia ulang tahun, jadi aku, Luka, dan Teto mau memberinya kado.” jelas Neru
“Jadi kalian mau diskusi, ya?” tanya Len
“Yah, bisa dibilang begitu.” Neru mengangguk
TING!
Sekali lagi suara ‘ting’ terdengar dari mesin pemanggang roti, dan sekali lagi juga Len mengambil roti yang telah dipanggang dan menukarnya dengan roti yang belum dipanggang. Len kembali menyimpan roti yang sudah dipanggang itu di atas piring tadi. Rin sudah duduk di sebelah kursi yang tadi didudukinya, sedangkan Neru baru saja menyimpan sapunya di dekat kulkas dan akan mengambil tempat duduk di depan Rin. Len segera duduk kembali di kursinya dan menopangkan dagunya ke tangannya.
“Sepertinya hari ini aku harus belanja bahan makanan,” kata Len
“Setuju!” seru Rin sambil mengacungkan tangannya, “Nanti aku ikut ya?” imbuh gadis berbando itu
“Memang kalian tidak ada acara?” tanya Neru. Si kembar menggeleng berbarengan
“Bukannya kalian ada janji dengan Nona Miku?” tanya Neru
“Oh iya! Lupa!” seru Rin sambil menepuk dahinya yang tertutup poni
“Terima kasih sudah mengingatkan. Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana?”
“Kemarin aku bertemu dengan Kaito di perpustakaan. Dia bilang kalian ada janji dengan Nona Miku, jadi lebih baik aku mengingatkan kalian supaya kalian tidak lupa. Tapi ternyata aku juga lupa mengingatkan kalian kemarin,” jawab Neru
“Sudahlah, tapi kau kan tetap mengingatkan kami. Terima kasih ya, Neru.” kata Len
“Ah, iya, sama-sama,” kata Neru sambil tersenyum pada si kembar.
TING!
Untuk ketiga kalinya, suara ‘ting’ dari mesin pemanggang roti kembali terdengar. Dan untuk ketiga kalinya juga Len mengambil roti-roti itu dan menaruhnya di atas piring yang sudah berisi empat buah roti panggang. Tapi kali ini Len tidak meletakkan roti lagi di mesin pemanggang roti, ternyata enam lembar roti sudah cukup untuk mereka bertiga.
Len membawa piring yang penuh dengan roti panggang itu ke atas meja makan. Dengan cepat Rin berdiri dan berjalan ke meja dapur mereka untuk mengambil sebotol madu, sebotol selai cokelat, dan pengoles roti. Setelah menaruh madu, selai cokelat, dan pengoles roti di atas meja, Rin mengambil sebuah mug berwarna orange dengan motif spiral berwarna kuning. Lalu diambilnya susu dari kulkas, dan dituangkannya ke dalam mung bermotif spiralnya. Setelah mugnya penuh, Rin menaruh mugnya di meja makan dan duduk di kursinya. Mereka bertiga pun memakan sarapan mereka sambil mengobrol dan sesekali bercanda.
.
.
Rin dan Len sedang berjalan ke arah sebuah puri yang ukurannya sangat besar dan bergaya eropa. Dindingnya yang kokoh dicat putih, pagarnya yang berwarna hitam dan dirambati tanaman menjulang setinggi dua meter, dan terdapat beberapa orang penjaga yang disebar di beberapa pos yang tugasnya tentu saja menjaga keamanan para penghuni rumah—ehm—maksudnya puri itu. Pendek kata, dilihat dari sudut mana pun rumah—ehm—maksudnya puri itu pasti milik orang berada. Anak kembar itu berjalan ke arah sebuah pos kecil yang ada di dekat gerbang utama yang sangat besar.
“Ehm, selamat pagi,” kata Len pada seorang penjaga berambut pirang yang tengah menulis sesuatu di sebuah buku. Penjaga itu adalah seorang lelaki bertubuh tinggi, namun bisa dibilang cukup kurus, rambut pirangnya terpotong rapi, begitu pula seragam penjaganya yang berwarna abu-abu.
“Ada keperluan apa ke sini?” tanya si penjaga dengan nada yang angkuh
“Kami teman Miku. Dia meminta kami untuk datang ke sini.” kata Len sopan. Sebenarnya hampir semua penjaga puri keluarga Hatsune itu sudah mengenal si kembar Kagamine Rin dan Len. Tapi sepertinya penjaga yang satu ini adalah seorang penjaga baru yang sama sekali belum mengenal teman-teman nona mudanya.
“Nama?” tanya penjaga berambut pirang itu dengan gaya menginterogasi dan masih mempertahankan keangkuhannya
“Hei, jangan sok angkuh ya! Asal kau tahu saja, kami itu sahabat Miku!” seru Rin jengkel
“Saya tidak bisa mengambil resiko,” kata penjaga itu dengan tajam
“Maafkan kembaran saya. Kami—“
“Len? Rin?” tanya sebuah suara yang ramah yang sudah mereka kenal
Si kembar dan penjaga itu langsung menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati seorang pria berbadan tinggi besar sedang berdiri tidak jauh dari si penjaga berambut pirang. Pria itu juga mengenakan seragam penjaga berwarna abu-abu, jadi bisa dipastikan bahwa pria itu juga salah satu dari penjaga Puri Keluarga Hatsune. Rambutnya yang berwarna hitam dimodel seperti Elvis Presley, matanya yang berwarna hitam menatap si kembar Kagamine dan si penjaga berambut pirang dengan bergantian, dan ia mengangkat salah satu dari alis tebalnya.
“Big-Al!” seru Rin
“Anda mengenal anak-anak ini?” tanya si penjaga berambut pirang kebingungan
“Tentu saja, Leon. Mereka kan Kagamine Len dan Kagamine Rin, sahabat-sahabat Nona Miku dan Tuan Mikuo,” jelas penjaga bertubuh kekar yang biasa dipanggil Big-Al itu
“Tuh kan!” Rin menjulurkan lidahnya ke arah penjaga berambut pirang yang bernama Leon.
“Memangnya ada apa?” tanya Big-Al
“Tadi dia tidak mengizinkan aku dan Len masuk!” kata Rin dengan nada penuh kemenangan sambil menunjuk Leon
“Apa itu benar, Leon?” tanya Big-Al tajam
“S-saya…” Leon langsung tergagap dan menghindari tatapan mata seniornya itu
“Sebenarnya dia hanya menanyakan nama kami saja,” sela Len. Big-Al langsung meirik Len.
“Tapi kan…” protes Rin
“Tapi Rin, dia kan memang hanya menanyakan nama kita. Kurasa dia baru bekerja di sini kan?” tebak Len. Leon sedikit mengangguk
“Dari mana kau tahu?” tanya Big-Al
“Karena saya baru melihat wajahnya sekarang dan karena dia sama sekali tidak mengenali saya dan Rin.” jawab Len
“Wah, kau memang pintar, Len.” puji Big-Al
“Ah, tidak juga.”
“Hei, kurasa kita membuat Miku dan Kak Mikuo menunggu!” kata Rin
“Wah, benar juga. Kalau begitu silahkan masuk!” kata Big-Al sebelum dia dan Leon membuka sebelah pintu gerbang super besar itu
“Terima kasih,” kata Len sambil mengangguk pada kedua penjaga itu
“Sama-sama!” Big-Al dan Leon balas mengangguk
“Duh, semoga saja Kaito belum datang!” gumam Rin sambil berlari di pekarangan Puri Keluarga Hatsune yang luas ke arah pintu masuk puri.
.
“Ah, selamat datang, Nona Rin, Tuan Len.” sambut seorang wanita berambut hitam pendek yang mengenakan baju maid. Dia mendorong sebuah troli besi yang diatasnya terdapat sebuah teko keramik, beberapa gelas, dan beberapa potong cake cokelat yang ditaruh di atas piring-piring kecil.
“Halo Prima.” sapa Rin. Maid bernama Prima itu mengangguk sedikit.
“Silahkan ikuti saya. Nona Miku, Tuan Mikuo, dan Tuan Kaito sudah menunggu,” kata Prima sambil mulai mendorong trolinya
“Heee jadi Kaito sudah datang, ya?” tanya Rin pada Prima
“Ya, beliau baru saja datang beberapa menit yang lalu.” jawab Prima. Lalu mereka bertiga pun berjalan di lorong-lorong puri itu.
.
Mereka sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu ek. Prima mengetuk pintu itu beberapa kali seraya berkata, “Nona Miku, Tuan Mikuo, Nona Rin dan Tuan Len sudah sampai,”
“Masuklah,” terdengar jawaban dari dalam. Prima mengangguk sedikit dan membuka pintu itu.
Terlihatlah sebuah ruangan besar. Dindingnya dicat dengan warna tosca yang lembut dan lantainya ditutupi dengan karpet berwarna hijau tua. Dinding-dinding ruangan itu hampir seluruhnya tertutup rak-rak buku yang menjulang tinggi, hanya ada satu dinding yang sama sekali bersih dari rak buku. Karena di dinding itu terdapat sebuah perapian berukuran sedang. Dan di depan perapian itu terdapat sebuah sofa panjang dan dua buah sofa tunggal berwarna hijau terang serta sebuah meja kayu berukuran sedang yang diletakkan di tengah-tengah sofa panjang dan kedua sofa tunggal.
Di sofa tunggal dan sofa panjang itu, duduklah tiga orang yang sudah dikenal Rin dan Len. Sosok pertama yang duduk di sofa tunggal berambut aqua pendek, kemeja putihnya terlihat sangat rapi dibalik vest berwarna biru tua yang dikenakannya, celana panjangnya pun sama sekali tidak terlihat kusut. Sosok kedua yang juga duduk di sofa tunggal memiliki warna rambut yang sama, yakni aqua. Tapi rambut sosok kedua dikucir dua. Dia mengenakan baju terusan berwarna violet dengan renda-renda yang sangat manis ditambah dengan pita-pita di beberapa bagian. Sedangkan sosok ketiga yang duduk di sofa panjang memiliki rambut biru. Dia hanya mengenakan sebuah t-shirt putih berlengan panjang ditambah dengan jaket berwarna biru tua tanpa lengan dan celana jeans warna cokelat tua. Tak lupa sebuah syal panjang berwarna biru muda bertengger nyaman melingkari lehernya.
“Rin! Len! Kalian lama sekali sih!” kata sosok kedua yang tak lain adalah Miku
“Tumben sekali, biasanya Kaito yang suka telat,” tambah sosok pertama yang adalah Mikuo, kakak Miku
“Hahaha benarkah?” tanya sosok ketiga yang adalah Kaito
“Maaf,” kata si kembar bersamaan sebelum berjalan ke arah sofa panjang yang sedang diduduki Kaito.
“Silahkan tehnya, tuan, nona,” kata Prima ramah sambil memindahkan benda-benda yang ada di atas trolinya ke atas meja kayu
“Terima kasih, Prima,” kata Mikuo setelah Prima selesai memindahkan benda-benda di atas trolinya
“Sama-sama, tuan. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?” tanya Prima sopan
“Tidak. Kau boleh pergi.” kata Miku
“Baik,” Prima membungkuk, lalu keluar dari ruangan itu sambil mendorong troli besinya meninggalkan tuan dan nonanya bersama ketiga teman mereka.
“Jadi, kita mau lihat-lihat gudang?” tanya Mikuo
“Yeah, mungkin kita bisa menemukan barang bagus!” Kaito mengangguk
“Kebetulan sekali, ayah akan pergi keluar kota sore ini. Mungkin kita bisa ke gudang setelah ayah pergi,” kata Miku
“Memangnya jam berapa ayahmu akan pergi?” tanya Rin
“Ayah tidak bilang.” Miku mengangkat bahunya
“Kalau begitu, sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Len sambil menatap teman-temannya bergantian
Tiba-tiba pintu ruangan besar itu dibuka, menampakkan lelaki paruh baya berambut hijau tua dan mengenakan setelan rapi. Lelaki itu berjalan ke arah kami.
“Ayah?!” seru Miku dan Mikuo berbarengan
“Mikuo! Ah ternyata ada Kaito, Rin, dan Len,” kata lelaki itu sambil menoleh ke arah ketiga sahabat anak-anaknya
“Ada apa, yah?” tanya Mikuo
“Sepertinya jadwal rapat sedikit dimajukan waktunya, jadi aku harus pergi sekarang.” jawabnya terburu-buru
“Tapi kalau tidak salah ayah kan harus datang ke acara milik bibi Miriam nanti siang.” kata Mikuo
“Soal itu, bilang saja pada Miriam kalau aku tidak bisa datang.” sahut lelaki paruh baya itu dengan senyum terkembang di wajahnya, “Tapi, Mikuo, kau tetap harus datang ke acaranya menggantikanku.” sambungnya
“Baik,” Mikuo mengangguk
“Bagaimana denganku, yah?” tanya Miku
“Kau…” lelaki paruh baya itu melirik Miku, “Tetaplah di rumah dan jangan buat masalah,” katanya tegas
“B-baik…” gumam Miku
“Kalau begitu, ayah pergi dulu.” katanya pada Mikuo dan Miku, “Paman permisi dulu,” tambahnya sambil menoleh pada Kaito, Rin, dan Len. Ketiga remaja itu membalasnya dengan sebuah anggukan kepala singkat.
Setelah lelaki paruh baya itu menutup pintu, kelima remaja yang tengah duduk di sofa itu saling pandang.
“Jadi? Tunggu apa lagi? Ayo!”
.
.
“Ah sial!” umpat Mikuo saat mendapati kunci yang berada di tangannya sama sekali tidak cocok dengan gembok yang dirantai di pintu sebuah gudang besar.
“Kenapa, kak? Kuncinya salah?” tanya Len
“Ya. Sepertinya ayah sudah mengganti gemboknya.” Mikuo menganggukkan kepalanya
“Yaaah…. Jadi gimana nih?” tanya Rin
“Begini saja, aku dan Miku akan mencari kuncinya hari ini. Dan kalian datanglah lagi besok pagi, oke?” jawab Mikuo
“Oke deh.” Kaito menganggukkan kepalanya, diikuti Rin dan Len
“Kalau begitu, ayo pulang, Rin.” ajak Len pada kembarannya
“Ayo!” sahut Rin
“Kami pulang dulu ya, Miku, Kak Mikuo.” Rin dan Len melambaikan tangannya pada kakak beradik berambut aqua yang masih berdiri di depan pintu gudang raksasa itu.
“Kalau begitu, aku juga mau pulang dulu,” kata Kaito sambil sedikit membungkukkan kepalanya
“Ah, iya.” Miku mengangguk.
Lalu Kaito pun meninggalkan Miku dan Mikuo menyusul si kembar Kagamine.
.
.
Jalanan cukup lengang siang itu, membuat si kembar Kagamine tak kesusahan untuk berjalan di sana. Meskipun begitu, mereka berdua sama sekali tidak betah berjalan di jalan yang lengang itu. Satu-satunya yang membuat si kembar Kagamine tidak betah berjalan di siang itu hanyalah suhu yang bisa dibilang cukup tinggi. Orang-orang lebih memilih berteduh di dalam bangunan atau di bawah pohon ketimbang berjalan-jalan tanpa perlindungan dari sinar matahari yang membuat mereka tak henti-hentinya mengucurkan keringat mereka.
Rin mengeluarkan selembar sapu tangan bersulam dari saku celananya dan menyeka keringat yang sudah membasahi dahinya.
“Aduuuh… Panas sekali sih…” keluhnya
“Sabar sedikit, Rin.” kata Len
“Huh… Iya… iya…” gumam Rin sambil terus menyeka keringat yang membasahi wajahnya
Len berbelok ke arah jalan yang dijajari berbagai toko. Mulai dari toko roti, toko daging dan ikan, toko buah dan sayuran, toko perkakas, sampai toko bunga. Lalu kedua remaja berambut pirang itu berhenti di depan sebuah toko buah dan sayuran.
“Kau beli telur dan daging, aku beli buah.” kata Len
“Baiklah,” kata Rin
Setelah itu, Len memasuki toko buah dan sayuran yang terletak di sisi kanan jalan sedangkan Rin berjalan ke toko daging dan ikan yang terletak tepat di seberang toko buah dan sayur yang dimasuki Len.
“Selamat datang!” sapa seorang wanita berambut hijau yang mengenakan sebuah baju terusan sederhana berwarna hijau dan kuning yang dipadukan dengan celemek kecil berwarna putih yang kelihatannya sudah kumal. “Ada yang bisa kubantu?”
“Saya ingin membeli seperempat kilogram jeruk dan apel.” kata Len sopan
“Baiklah, silahkan tunggu sebentar.”
Tak berapa lama kemudian wanita berambut hijau itu mengampiri Len dengan tangan penuh dengan dua kantung yang berisi masing-masing seperempat kilogram jeruk dan apel. “Silahkan,” katanya sambil menyerahkan kedua bungkusan itu pada Len. Len merogoh sakunya sebentar dan mengeluarkan beberapa keping koin perak.
“Terima kasih,” kata Len sambil menyerahkan koin-koin itu
“Sama-sama.” wanita itu tersenyum. Setelah itu Len pun meninggalkan toko itu sambil membawa belanjaannya.
Di luar, ternyata Rin sudah menunggunya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua langsung berjalan beriringan menuju rumah mereka.
.
.
TO BE CONTINUED
TO CHAPTER II: REFLECTION
.

*gambarnya ngaco ah! ini mah synchronicity atuuuuh.. ah yang pasti vocaloid deh! :P*